
"Siapa tadi? Kenapa buru-buru seperti itu? Pacar lo kak?"
Zeline menajamkan pendengarannya, rupanya gadis itu tidak benar-benar pergi ke toilet tapi bersembunyi dan mencuri dengar pembicaraan dua pria itu.
"Mereka saling kenal?" Gumam Zeline.
"Risa ngapain kamu disini?" Zeline terlonjak kaget saat tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
"Ardan?" Ucap Zeline begitu menoleh, Zeline melirik ke belakang, merasa lega karena dua pria itu sepertinya tidak melihatnya.
Zeline lalu menarik tangan Ardan dan menjauh dari keramaian.
"Aku mau balik duluan."
"Kenapa? Acaranya bahkan belum dimulai."
"Sorry aku gak bisa ninggalin ibu terlalu lama, tadi Aga juga chat kalau dia ada urusan."
"Ya udah kalau gitu aku antar ya?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, nanti orang tuamu bisa marah. Ya sudah aku pamit sekarang!" Setelah mengatakan itu, Zeline pun buru-buru pergi dari sana. Berhenti di depan dan menyetop taxi.
Di dalam taxi bayangan tadi terus terlintas di benak Zeline.
"Nico dan Dirga saling kenal? Bagaimana ini?"
Zeline tampak berfikir, dia kemudian meraih ponsel dan menghubungi nomor Risa.
Sementara itu, Risa yang tengah menonton drakor bersama Zhen di ruang tamu, mengernyit saat nomor miliknya menghubungi.
"Siapa? Kok gak dijawab?"
"Hmm ini…"
Zhen merebut ponsel ditangan Risa lalu menggeser ikon berwarna hijau.
"Abang…"
Risa terdiam saat Zhen kembali menyerahkan ponselnya.
"Bicara saja, tapi tetap disini, abang tidak akan mengganggu," ucap Zhen yang kembali menarik Risa agar kembali bersandar di dadanya.
"Ha...halo…," ucap Risa terbata, dia takut, abangnya mendengar suara Zeline. Risa mendongak, abangnya tampak fokus dengan drama yang tadi mereka tonton.
"Halo mbak...apa tadi Nico tidak ada di sekolah, mmm maksudnya dia tidak berangkat?"
"Iya, darimana kamu tahu? Dia menghubungimu?"
"Lo tahu mbak gue bertemu dia, di acara orang tua Ardan. Dan yang lebih gawatnya, dia sepertinya mengenal Dirga."
"Apa? Kau tidak bercanda kan?" Risa sampai refleks menegakkan badannya kaget dengan berita yang baru saja Zeline sampaikan.
__ADS_1
Tuk
Akh
"Aduh," ringis Risa pelan saat kepalanya terbentur dagu Zhen.
"Kamu tidak apa-apa sayang?"
"Sakit abang…"
"Lagian kamu tiba-tiba bangun, jadinya kebentur kan?"
"Maaf abang, abang pasti juga sakit ya?" Risa mengelus dagu Zhen yang terbentur kepalanya.
"Hmm, mungkin jika kamu cium, nanti sakitnya langsung hilang."
"Mana ada…"
"Ayo!"
"Ayo apa?"
"Cium abang!"
"Nggak!"
"Zeze!"
"Abang curang!"
Zhen justru terkekeh dan menarik Risa ke dalam pelukannya. Bahkan kini pria itu mengecup puncak kepala Risa berkali-kali.
Zeline terdiam di tempatnya mendengar semuanya, perkataan Risa juga abangnya. Tangannya meluruh, Zeline juga akhirnya memutuskan panggilan teleponnya sepihak.
"Apa abang dan mbak Risa sedekat itu? Lalu tadi apa, cium? Aku tidak salah mendengarnya bukan? Apa hubungan mereka sebenarnya?"
Sepanjang perjalanan pulang, Zeline sibuk dengan pikirannya, sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi, apa saja yang dia lewatkan selama ini selama dia menjadi Risa.
Sedangkan di tempat lain, Risa tampak panik saat mengingat bahwa dirinya sedang berteleponan dengan Zeline. Risa melihat ponsel dan bernafas lega, saat ternyata panggilan dirinya dan juga Zeline telah berakhir.
"Kenapa?" Tanya Zhen menatap adiknya yang kini tiba-tiba terdiam.
"Hah? Oh tidak apa-apa, hmm Zeze ngantuk abang, Zeze mau ke kamar dulu ya," Risa segera bangun dan berlalu pergi membuat dahi Zhen mengerut, bingung.
Walaupun awalnya merasa lega, tapi sepanjang menaiki anak tangga, Risa terus kepikiran, apakah Zeline mendengar ucapannya dengan Zhen tadi. Jika dengar, Risa takut Zeline akan salah paham, apalagi saat mendengar perlakuan Zhen terhadap dirinya dan Zeline berbeda.
"Aku harus menghubungi Zeline lagi," gumam Risa semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai ke kamar. Dia tidak ingin adik Zhen sampai berprasangka yang tidak-tidak tentang dirinya.
Sesampainya di kamar, Risa segera mengunci pintu, kemudian berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya di sana.
Panggilan pertama tak dijawab, barulah dipanggilan kedua akhirnya telepon Risa mendapat jawaban.
__ADS_1
"Halo Ze…"
"Ah iya halo mbak, maaf tadi gue gak dengar. Ponselnya gue sedang charger di kamar, gue habis dari toilet dan maaf tadi juga gue matiin sepihak, takut pas lewat Aga atau Ibu dengar."
Mendengar jawaban Zeline, Risa begitu lega. Itu artinya, Zeline tidak mendengar percakapannya dengan Zhen.
"Oh ya tadi maksud kamu…"
"Sepertinya Dirga dan Nico saling kenal mbak. Lalu Dirga juga ternyata sepupu Ardan."
"Apa?"
"Iya mbak. Dunia memang sempit dan kenapa harus mereka yang mengenal kita berdua. Lalu kita harus bagaimana ya mbak? Apa perlu gue keluar dari kerjaan. Lalu gue akan coba mencari pekerjaan baru."
"Tidak...tidak Ze...jangan, tidak mudah mencari pekerjaan. Kita harus lebih hati-hati saja. Tinggal 6 bulan lebih saja. Kita pasti bisa melaluinya."
"Baiklah jika begitu."
Risa menurunkan bahu, dia juga sebenarnya ragu apa bisa melewatinya jika banyak orang yang sama-sama mengenal dirinya juga Zeline.
"Mbak!"
"Mbak!"
"Ah iya, kenapa?"
"Sudah dulu ya, ibu memanggil."
"Hmm ya udah, mbak titip ibu ya."
"Iya, bye mbak."
Setelah panggilan terputus, Risa mengubah posisi berbaringnya menghadap langit-langit kamar, pikirannya jauh melayang entah kemana. Entah berapa lama, Risa sibuk dengan pikirannya, hingga tak lama, dirinya pun kini akhirnya tertidur.
Bahkan Zhen yang sedari tadi berdiri di depan pintu, mengurungkan niatnya untuk masuk, begitu tahu pintu kamar adiknya dikunci, Zhen mengernyitkan dahi tidak mengerti kenapa tiba-tiba Risa langsung masuk bahkan sampai mengunci pintu kamarnya yang berarti dia tidak mengizinkan Zhen untuk masuk.
"Apa tadi ada yang salah? Perasaan baik-baik saja," gumam Zhen sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah berdiam diri cukup lama di depan pintu, akhirnya Zhen pun berlalu menuju kamarnya.
"Mungkin Zeze mau belajar, bentar lagi mau ulangan semester, atau mungkin dia memang benar-benar mengantuk," lanjutnya.
Dan selagi Zeline sibuk, Zhen juga berniat akan menyelesaikan pekerjaannya yang hari ini terabaikan.
Zhen melangkah menuju sofa, mengambil laptopnya dan segera berkutat dengan benda itu, tak butuh waktu lama Zhen menyelesaikannya, karena memang sebagian besar sudah dia selesaikan saat dirinya tidak pulang kemarin.
Zhen meregangkan ototnya yang terasa kaku, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Tatapannya tertuju pada sebuah pigura besar yang menggantung di dinding kamarnya.
"Sampai kapan kalian akan bersikap egois dan mengabaikan kami? Oke jika hanya aku tidak apa-apa, tapi tidakkah kalian memikirkan perasaan Zeline sedikitpun? Apa sebenarnya yang kalian kejar? Dan kenapa? Apa hal itu jauh penting dari kami yang seharusnya lebih berharga?"
Zhen menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca, kecewa, marah, sedih, perasaannya benar-benar campur aduk. Zhen bangkit, berjalan mendekat menatap lekat foto Zeline. Dan begitu mengingat sesuatu, Zhen segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
__ADS_1