
Zhen yang sedang sibuk makan, melirik ke arah ponsel Zeline yang menyala. Melirik ke arah Zeline yang sedang membuat jus, Zhen lalu menyalakan ponsel Zeline dan membaca pesan yang terlihat di layar.
"Risa? Siapa dia? Kenapa dia sering menghubungi Zeze?" Ucap Zhen dalam hati sambil membaca pesan yang Risa kirimkan. Lalu buru-buru Zhen mematikan kembali layar ponselnya saat adiknya sudah selesai.
Zhen tersenyum saat melihat adiknya yang kini berjalan menghampirinya dengan membawa dua jus di tangannya.
"Ini buat abang."
"Makasih," ucap Zhen menerima jus itu dan segera meminumnya hingga habis tak tersisa.
"Oh ya sayang, kamu ada rencana hari ini?"
Zeline menatap Zhen dan menggeleng.
"Memang kenapa? Abang mau ajak Zeze kemana?"
"Tidak, abang hanya bertanya saja. Abang belum bisa mengajak kamu kemana-mana. Abang harus ke kantor soalnya. Kamu tidak apa-apa kan abang tinggal?"
"Tidak apa-apa, abang pergi saja."
"Ya sudah, kalau begitu abang bersiap dulu." Zhen bangkit dan mengacak rambut Risa sebelum akhirnya pria itu meninggalkan Risa untuk pergi ke kamarnya, bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Setelah siap, Zhen pun turun dan mendapati Risa yang duduk di sofa ruang keluarga. Tapi bukan itu fokus Zhen. Zhen hanya heran melihat Risa yang kini sudah berganti pakaian yang lebih rapi.
"Abang berangkat dulu ya," pamit Zhen membuat Risa menoleh lalu bangkit dan menghampiri kakaknya lalu meraih tangan Zhen dan mencium punggung tangan kakaknya itu.
Zhen berjalan keluar menuju mobil yang biasa dipakai untuk mengantar Zeline lalu kini berjalan ke arah mobil yang biasa mengantarnya. Zhen segera masuk saat sang sopir membukakan pintu untuknya.
"Jalan pak!"
Zhen lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, dan setelah mengatakan sesuatu, dia pun segera mengakhiri panggilan itu.
"Kita berhenti di seberang jalan pak!" Ucap Zhen pada sang sopir yang kini mengernyitkan dahi tapi tetap melaksanakan perintah bos nya itu.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu, Zhen kini bisa melihat mobil miliknya keluar gerbang.
__ADS_1
"Ikuti mobil itu, dan jangan sampai mereka tahu," titah Zhen yang segera dilaksanakan sang sopir.
Zhen mengetik sesuatu lalu mengirimkannya ke nomor Zeline, pria itu tampak gelisah karena Zeline tidak juga menjawab pesannya.
"Mobil itu berhenti Tuan," ucap sang sopir membuat Zhen menatap ke arah mobilnya, dan benar saja, Zeline tampak keluar dari mobil itu.
"Itu non Zeline masuk ke restoran," ucap sopir yang ikut-ikutan memantau.
"Tunggu disini!" Kata Zhen lalu segera keluar dari mobil dan mengikuti Zeline yang masuk ke dalam restoran.
Zhen menghentikan langkah saat Zeline menghampiri seorang gadis. Dia bahkan sampai mengucek kedua matanya, meyakinkan bahwa kini dia tidak salah melihat.
Zhen segera duduk di salah satu kursi kosong, saat melihat Zeline tengah mengangkat tangannya, sepertinya gadis itu hendak memesan makanan.
Zhen pun akhirnya ikut memesan sambil memperhatikan kedua gadis berwajah nyaris sama itu.
Cukup lama, entah apa yang mereka obrolkan hingga salah satunya, tepatnya gadis yang lebih dulu datang, kali ini juga pergi lebih dulu. Tak lama, adiknya juga ikut bangkit dan berjalan keluar. Tapi Zhen mengernyit saat mobil miliknya yang biasa membawa Zeline kini sudah melaju meninggalkan tempat. Kini tatapan Zhen kembali ke arah Zeline yang kini justru masuk ke sebuah taxi yang kini mulai melaju. Dan Zhen dengan segera berjalan ke tempat mobilnya berada dan meminta sopir untuk mengejar taxi itu.
"Tapi mobil yang membawa non Zeline tadi ke arah sana Tuan," beritahu sopir yang bingung pada Zhen yang justru menyuruhnya mengejar sebuah taxi bukannya mengejar Zeline.
"Baik Tuan."
Zhen lalu mengambil ponselnya, mengecek sesuatu, lalu kembali meletakkannya, fokus menatap taxi yang dia ikuti tak ingin sampai kehilangan jejak.
Tak lama, taxi itu berhenti di depan sebuah gang, mobil Zhen pun ikut berhenti.
"Loh itu non Zeline! Lalu siapa gadis tadi, tapi saya yakin tidak salah melihat, jika non Zeline sudah masuk ke mobil Tuan," ucap sopir itu yakin.
"Bapak mungkin salah melihat, oh ya bapak tunggu disini saja dan jangan kemana-mana," ucap Zhen yang kini turun dari mobil saat Zeline kini berjalan memasuki sebuah gang sempit.
Zhen terus berjalan mengendap-endap mengikuti kemanapun Zeline melangkah hingga akhirnya gadis itu berhenti di sebuah kos an dan membuka pintu salah satunya. Zhen berjalan semakin cepat, dan kini sudah berdiri di belakang Zeline yang sepertinya belum menyadari keberadaannya, hingga tiba-tiba gadis itu berbalik, dan dapat Zhen lihat jika gadis itu sangat terkejut ketika melihatnya.
"A...abang...kenapa abang tiba-tiba disini…" ucapannya terdengar begitu gugup.
Bukannya menjawab, Zhen justru menatap Zeline dari atas ke bawah, membuat gadis itu meremas pakaian yang dikenakannya.
__ADS_1
"Siapa kau?"
"Hah...ma...mak...sud abang apa?" Tanya gadis itu bingung, karena tiba-tiba Zhen bertanya seperti itu.
"Apa abang tau jika aku bukan Zeline? Atau apa abang tadi melihat kami?" Tanya Risa hanya dalam hati saja.
Zhen mendekat membuat gadis itu mundur, seperti itu terus, hingga akhirnya mereka masuk ke dalam kos an itu. Bahkan Risa tidak bisa mundur lagi karena ada tembok di belakangnya.
"Katakan siapa kau sebenarnya?" Zhen menempelkan kedua tangan di tembok, tepatnya di sisi kiri dan kanan gadis itu yang membuatnya terkurung di antara tangan Zhen.
"Kenapa tidak menjawab?"
"A...aku…"
"Kau yang bernama Risa," ucap Zhen yang kini merasakan detak jantungnya berdebar kencang saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Risa.
Sedang Risa, tampak terkejut, karena Zhen bisa tahu jika dirinya adalah Risa.
"A...abang kenapa bisa tahu?"
"Apa itu penting?"
Risa hanya meringis mendengar nada ketus Zhen, entah kenapa dia merasa sedih saat melihat Zhen yang sepertinya tengah marah padanya. Risa kemudian dengan gesit menundukkan kepalanya dan menerobos keluar dari kurungan tangan Zhen.
Zhen berbalik dan menatap Risa kini berdiri di belakangnya dengan jarak yang cukup jauh.
"Aku bisa jelasin abang, aku…"
"Apa yang kau incar? Kau ingin apa hingga menyamar menjadi Zeline? Kau ingin memanfaatkannya, atau kau ingin menikmati semua yang Zeline punya, apa yang kau lakukan hingga membuat Zeline mau bertukar posisi denganmu, lebih tepatnya apa yang kau berikan padanya?"
Risa menatap Zhen kecewa, tidak menyangka, karena bisa-bisanya Zhen mengatakan hal menyakitkan seperti itu. Ya menurut Risa apa yang Zhen katakan begitu menyakitkan, teganya Zhen menuduh dirinya melakukan hal seperti itu.
"Sudah cukup bicaranya? Sekarang lebih baik abang pergi dari sini, karena aku rasa tidak ada yang perlu aku jelaskan lagi, pergi! Pergi dari sini sekarang juga!"
Zhen menatap Risa, lalu kemudian segera berlalu keluar meninggalkan Risa yang kini tubuhnya merosot dan hanya bisa menatap kepergian Zhen dengan pandangan nanar.
__ADS_1