Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 16


__ADS_3

Zhen segera menarik Zeline hingga berakhir dengan posisi Zeline duduk di pangkuannya. Zeline sampai memekik kaget dengan aksi Zhen itu.


Zeline hendak turun dari pangkuan Zhen, tapi pria itu justru memeluk Zeline erat membuat gadis itu tidak bisa bergerak. Zeline memaksakan senyum pada ketiga tamunya. Kemudian wajahnya beralih menatap Zhen dan berbisik pelan.


"Abang, lepasin gak, Zeze malu tahu."


Tapi Zeline sudah seperti bicara sama tembok karena Zhen sama sekali tidak menanggapi ucapannya dan tetap memasang wajah datarnya.


"Maaf," ucap Zeline lagi.


"Ngapain minta maaf, kamu tidak salah sama mereka."


Zeline melotot menatap Zhen, rasanya dia ingin menyumpal mulut abangnya, agar tidak bicara lagi.


Bi Irma datang membawa nampan berisi minuman juga beberapa makanan.


Mata wanita itu melirik sekilas ke arah Zhen yang sedang sibuk dengan ponselnya, tapi bukan itu fokusnya, melainkan keberadaan Zeline yang duduk di atas pangkuannya juga satu tangan melingkari tubuh nona nya.


Nico menatap Zhen tajam saat pria itu juga tengah menatapnya.


"Akh sepertinya kita harus pulang," ucap Evan dan Rio begitu mereka sudah menghabiskan makanan yang disajikan, sedari tadi, mereka memang sudah tidak nyaman dengan tatapan Zhen, tapi mereka yang memang cuek, memilih mengabaikan dan tetap memakan jamuan yang disajikan bi Irma, dan setelah habis barulah mereka berpamitan.


"Kenapa tidak dari tadi saja," ketus Zhen hingga Rio dan Evan yang akan melangkah menghentikan langkahnya segera.


"Cukup abang! Zeze tidak suka, abang seperti itu sama teman-teman Zeze!"


Zeze menarik diri secara paksa lalu menghampiri Evan dan Rio, meminta maaf dengan tulus.


"Santai aja Ze," ucap Rio mengelus rambut Zeline.


Zhen langsung bangkit dari duduknya dan menarik tangan Rio dari rambut Zeline.


"Jangan sentuh adik gue!"


"Haha, santai bang, kita sudah biasa…"


"Apa kalian bilang? Sudah biasa?" Zhen berkacak pinggang, matanya menyorotkan kemarahan, tidak terima jika para pria itu sudah berani menyentuh adiknya.

__ADS_1


"Abang ini bukan seperti apa yang abang pikirkan."


"Diam Zeze! Abang tidak berbicara sama kamu."


"Tapi abang…" Zeline menarik salah satu tangan Zhen dan bergelayut manja, sembari  memberi isyarat pada ketiga tamunya untuk pergi.


Rio dan Evan mengangguk, lalu segera berlari meninggalkan tempat.


"Hei mau kemana kalian?" Teriak Zhen yang hanya dibalas lambaian tangan keduanya.


Zeline akhirnya bisa bernafas lega, jika saja teman-temannya masih ada disana, dia tidak tahu apa saja yang akan abangnya katakan kepada mereka.


Zhen melihat punggung Evan dan Rio menjauh, akhirnya merasa lega, tapi itu hanya sesaat setelah pandangan Zhen beralih ke satu teman adiknya yang tidak ikut pulang bersama Rio dan Evan.


"Ngapain lo masih ada disini?" Yang ditanya kini justru duduk dengan santai lalu membuka tas, mengeluarkan beberapa buku dari sana.


"Aku bawa buku pelajaran hari ini, Zeline tidak masuk, jadi aku hanya berinisiatif saja.".


"Wah Nico makasih," kata Zeline melepaskan tangannya dari lengan Zhen kemudian berjalan menghampiri Nico.


"Hmm tapi ada syaratnya."


"Tidak perlu mendengarkan ucapan bocah itu!" Peringat Zhen.


"Mudah kok Zel, hanya ingin tahu tentang cara kamu mengerjakan soal yang membuat kamu dapat nilai tinggi.


Zeline tampak menimbang kemudian mengangguk.


Zhen yang akan menegur urung, saat mendapatkan panggilan dan abang Zeline itu pamit untuk mengangkatnya lebih dulu.


*


*


"Hm ya uda, kita belajar disini aja ya," usul Zeline dan Nico pun setuju.


Keduanya kemudian duduk di atas lantai bersebelahan. Nico mulai membuka buku, menunjuk pada Zeline mana yang ingin dirinya tahu. Zeline menjelaskan bahkan memberi contoh soal. Keduanya tampak larut dalam belajar hingga tidak menyadari jika saat ini, Zhen sudah kembali berjalan ke arah mereka dengan wajah datarnya, menahan kesal yang dia rasakan karena jarak antara diantara Nico dan Zeline yang begitu dekat.

__ADS_1


"Ehem!" 


Nico dan Zeline belum sadar jika Zhen berada disana, mereka tampaknya masih asyik dengan buku di atas meja yang sedang mereka corat-coret.


"Ehem!" Kedua kali Zhen berdehem membuat Nico menatapnya. Tapi pria itu justru melayangkan senyum mengejeknya.


Zhen yang merasa kesal, berjalan cepat, menyingkirkan Nico dari posisinya, hingga berakhir kini dirinya yang duduk di samping Zhen karena Zhen menyusup duduk diantara dirinya juga Zeline.


Zhen tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menyingkirkan Nico. Dan Nico balas tersenyum penuh ejekan karena Zeline bangkit dan kini berpindah kembali duduk di sampingnya.


Zhen hanya terus menghembuskan nafas kasar sambil sesekali melirik sekitar dimana Nico dan Zeline masih terus sibuk dengan dunia mereka sendiri. Tapi akhirnya dirinya merasa lega, saat Nico mendapatkan telepon, dan berpamitan untuk pulang.


"Gue pulang dulu Zel. Dan buku gue simpen aja, baru kalau kamu sudah masuk ngembaliinnya.


"Lalu kamu?"


"Ada kok, buku itu memang cadangan saja."


"Benarkah? Hmm makasih ya Nic."


Nico mengangguk sebelum akhirnya berpamitan pada kakak beradik itu. Dan begitu memastikan Nico sudah tidak terlibat lagi, Zeline melipat kedua tangannya di depan dada. Melihat Zhen kesal.


"Abang kok gitu sih, jahat banget sama teman-teman Zeze, mereka orang baik, tidak ada yang salah saat Zeze bersama mereka. Tapi abang dengan gampangnya berucap pedas seperti itu. Pokoknya Zeze tidak suka, jika tahu abang mengacau," kata Zeline penuh peringatan.


"Maaf abang…"


"Sudahlah, Zeze mau ke kamar." Zeline langsung bangkit dan berlari menuju kamarnya. Tak lupa gadis itu juga mengunci pintunya, tidak ingin jika tiba-tiba Zhen masuk dan kembali mengganggunya.


"Kak Zhen itu apa-apaan sih? Bikin kesal saja," gerutu Zeline yang duduk di tepian ranjang.


Saat sedang menumpahkan kekesalannya pada Zhen, tiba-tiba dia mendengar ponselnya berbunyi, dengan segera dia menjawab panggilan itu saat tahu adiknya yang menelpon.


"Halo."


"Apa? Ibu sakit?" Risa terkejut dengan pemberitahuan adiknya yang tiba-tiba itu. Setelah menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan, Risa kembali berkata.


"Hmm baiklah, kakak akan izin pulang. Kamu jaga ibu dulu, kalau perlu kamu bawa ibu ke dokter sekarang juga."

__ADS_1


"Oke, mbak tutup teleponnya.


Setelah panggilan terputus, Zeline yang tak lain adalah Risa terdiam, tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Yang jelas bagaimanapun caranya dia harus segera kembali.


__ADS_2