Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 42


__ADS_3

Zeline sudah bersiap untuk berangkat, dari stasiun dan dengan menaiki taxi kini dia menuju ke tempat janjiannya bersama Risa. Zeline mengambil ponsel yang sedari tadi ada di tasnya. Sebuah pesan masuk dari Aga dia baca. Mengatakan jika adik Risa itu akan menyusul nanti malam. Seperti yang diinginkan kakaknya yang memintanya untuk bermain jika sudah libur kuliahnya.


"Untung hari ini aku pulang, sulit sekali menghadap adik mbak Risa itu," ucap Zeline menghela nafasnya.


Bukan tanpa alasan Zeline mengatakan itu, sewaktu di kampung Aga selalu menatapnya dengan penuh selidik, menanyakan ini dan itu yang tidak Zeline tahu jawabannya. Untungnya selama di kampung Risa, Zeline bisa menghindar dari Aga. Dan tak ingin berlama-lama disana, karena Aga yang terus curiga padanya, akhirnya Zeline pun berpamitan pada ibu Risa bahwa dia akan kembali ke ibukota karena cuti kerjanya juga sudah habis.


Bicara soal kembali ke rumahnya, Zeline begitu senang karena dia akan segera bertemu dengan mama dan papanya yang sangat jarang sekali pulang. Rindu tentu saja, walaupun jujur terkadang Zeline juga merasa kesal dengan sikap keduanya yang selalu membuatnya jadi kesepian. Dan kini dirinya sudah tidak sabar ingin segera sampai ke rumahnya dan bertemu dengan mama dan papanya.


Sambil terus tersenyum, Zeline kemudian membalas pesan itu, lalu beralih membuka chat dirinya dengan Risa menyampaikan pesan Aga tadi, juga menanyakan dimana posisi Risa sekarang. Sambil menunggu pesan balasan dari Risa, Zeline pun membuka akun sosial medianya yang sudah lama tidak dia buka.


*


*


Setelah sarapan, Risa segera bersiap pergi, untungnya papa dan mama Zeline belum kembali, Zhen juga sudah berangkat ke kantor lima menit yang lalu. 


"Kita berangkat sekarang pak!" Pinta Risa pada sopir yang telah menunggunya. 


"Baik Non." Keduanya pun masuk, dan mobil kini mulai melaju.


Risa menatap rumah yang sudah satu bulan ini dia tempati, entah kenapa ada perasaan berat saat akan meninggalkannya, bukan karena rumah Zeline mewah, bukan, tapi lebih karena Risa mengingat kenangan yang ada di dalam rumah itu, kebersamaannya bersama Zhen itu yang paling utama.


Risa menghela nafas panjang, lalu mengambil ponselnya yang bergetar, sebuah  pesan masuk dari Zeline yang mengatakan jika Aga akan berkunjung, juga menanyakan dimana posisi dirinya sekarang. Dibalasnya pesan Zeline itu, sebelum Risa akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Menempuh perjalanan sekitar setengah jam, kini Risa telah sampai di tempat tujuan. Risa segera turun dan masuk ke sebuah restoran sambil mencoba menghubungi Zeline yang katanya sudah sampai sejak sepuluh menit yang lalu.


Risa terus melangkah menuju tempat yang Zeline katakan, gadis itu sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang yang kini tengah mengikutinya diam-diam.


Mengedarkan pandangan dan dirinya tersenyum lalu melangkah mendekat begitu melihat Zeline yang tampak sedang memilih makanan di buku menu.


"Maaf lama," ucap Risa segera duduk, sedang Zeline mendongak menatapnya.


"Gak papa, gue tau lo pasti juga susah buat keluarnya. Oh ya, lo mau pesan apa mbak?" Zeline menyerahkan buku menu pada Risa, membiarkan Risa memilih sendiri apa yang ingin dimakannya.


"Aku sudah sarapan sih tadi di rumah," ucap Risa saat menerima buku menu yang Zelin berikan tadi.


"Ya udah deh aku pesan minum saja," tambahnya lalu mengangkat tangan kanannya memanggil waitres.

__ADS_1


Risa menyebutkan pesanannya diikuti oleh Zeline.


"Keadaan ibu bagaimana?" Tanya Risa begitu waitres tadi berlalu pergi.


"Sudah sangat sehat juga sudah beraktifitas seperti biasa."


Risa mengucap syukur mendengar ucapan Zeline tentang kondisi ibunya.


"Kok bisa Aga ngirim pesan kalau nanti malam akan datang, memang saat di rumah dia tidak mengatakan apa-apa?"


Zeline menggeleng dibalas kernyitan di dahi oleh Risa.


"Aga sepertinya curiga deh mbak."


"Curiga gimana? Dia curiga kalau kamu bukan aku?"


Zeline menaik turunkan kedua bahunya.


"Gue gak tau pasti, tapi dari cara dia natap gue….intinya seperti binatang buas yang melihat mangsanya."


"Masa sih? Enggak ah, mungkin perasaan kamu aja kali," Risa menyangkal ucapan Zeline, karena selama ini tatapan Aga memang tidak seperti yang Zeline katakan tadi.


Ucapan Zeline berhenti saat pelayan datang menyajikan pesanannya.


"Terima kasih," ucap keduanya nyaris bersamaan. 


Pelayan itu mengangguk dan tersenyum.


"Apa gitu ya kalau kembar, bawaannya selalu kompak," gumam pelayan yang masih bisa didengar oleh Risa dan Zeline yang membuat kedua gadis itu saling pandang dan tertawa.


"Sebenarnya bingung gue mbak, kok bisa ya kita mirip banget bahkan kita itu lebih seperti saudara kembar, padahal orang tua kita jelas berbeda," ucap Zeline setelah meneguk minumannya.


"Mungkin kita memang kembar," jawab Risa yang merasa ucapannya benar-benar asal. Mana ada saudara kembar yang jarak usianya sampai sekitar 7 tahunan.


"Lalu orang tua kita siapa coba, kalau kita memang kembar?"


Risa hanya menjawab dengan mengedikan kedua bahunya.

__ADS_1


"Udah deh lebih baik kamu makan dulu aja, sekalian mbak temani, atau kamu mau mbak tinggal aja disini sendiri."


"Gak ah, gak enak tau makan sendirian," ucap Zeline yang kini mulai memakan makanannya.


"Oh ya mbak, mama papa gimana?" 


Risa melepas sedotan di mulutnya lalu menatap Zeline. Ragu akan mengatakan atau tidak tentang papanya yang begitu marah pada Risa.


"Mbak?"


"Oh, mama dan papa  kamu? Mereka sehat kok," jawab Risa.


"Maksud gue bukan tentang itu mbak," ucap Zeline lirih, menatap Risa yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


"Mama dan papa...bagaimana sikap mereka ke gue?"


Risa menatap Zeline yang memandang dengan tatapan memelas. Tidak tega, Risa pun menceritakan semua kejadian tadi pagi, tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Mbak ada hubungan apa sama abang?"


Risa yang sedang minum sampai tersedak mendengar pertanyaan yang baru saja dia lontarkan.


"Pelan-pelan mbak, lagian gue juga belum habis, jadi gak perlu lah buru-buru, apalagi kata mbak, tadi mama dan papa pergi, abang juga ke kantor kan?"


Risa mengangguk membenarkan apa yang Zeline katakan, dia kemudian menghabiskan minumannya sambil menunggu Zeline menyelesaikan makannya.


Kini keduanya sama-sama terdiam, Zeline yang menikmati makanannya, sedang Risa hanya menemani gadis itu saja.


Begitu Zeline selesai, keduanya pun bangkit dari duduknya.


"Gue duluan ya  mbak, lo nyusul lima menitan lagi," ucap Zeline sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Risa mengangguk, lalu memilih kembali duduk sambil menunggu lima menit yang seperti Zeline katakan tadi. Dan dirasa waktu sudah tiba, dia bangkit lalu segera keluar. Mobil yang tadi membawanya sudah tidak ada.


Risa memanggil taxi dan segera masuk, dirinya sudah tidak sabar untuk pulang ke kos an yang sudah ditempatinya beberapa tahun dan dia tinggalkan satu bulan lamanya.


Tak membutuhkan waktu lama, kini taxi yang membawa Risa sudah sampai di tempat tujuan tepatnya di depan gang tempat tinggal dirinya. Risa segera turun dan berjalan kaki memasuki gang.

__ADS_1


Risa dengan cepat melangkah dan tidak sabar membuka pintu kos annya. Begitu terbuka, Risa pun segera masuk, tapi saat  dirinya berbalik badan dan akan menutup pintu, Risa begitu terkejut saat melihat seseorang kini sudah berdiri di hadapannya.


__ADS_2