Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 78


__ADS_3

Zeline menghembuskan nafas lega saat akhirnya bisa lolos dari orang papanya. Dia menyandarkan tubuhnya lalu mengambil ponsel hendak menghubungi nomor abangnya.


"Kenapa?"


Zeline menoleh ke arah sampingnya, dimana tampak wajah Nico yang terlihat khawatir.


Zeline tersenyum lalu menggeleng.


"Tidak apa-apa," jawabnya tampak yakin.


Dia tidak ingin Nico tahu bahwa papanya meminta dirinya untuk putus dari Nico. Zeline menyukai Nico sejak lama, dan kini dia bersama dengan pria itu, kenapa harus putus? Terlebih tidak ada masalah apapun diantar mereka. Itu hanya keinginan papanya, dan Zeline merasa tidak perlu menurutinya. Papanya saja tidak menuruti permintaan Zeline, kenapa Zeline harus? Makanya Zeline mencoba untuk tidak ambil pusing karena masalah ini. Dan untuk sopir yang papanya perintahkan, Zeline akan meminta bantuan abangnya. Makanya dia sekarang hendak menghubungi Zhen. 


"Zel benar kau akan baik-baik saja jika ikut kami?"


Jari-jari Zeline yang hendak mengetik sesuatu di ponselnya kembali berhenti saat mendengar pertanyaan Rio. Dia mengangkat kepala menatap Rio yang menatapnya lewat spion.


"Ya, tidak apa-apa, kalian tidak perlu khawatir."


"Tapi bagaimana nanti kalau papamu marah?" Tanya Evan ikut nimbrung, jujur dia juga khawatir, temannya itu akan mendapat omelan dari papanya.


Zeline terdiam, dia justru sibuk dengan ponselnya. Mengirim pesan pada Zhen yang sedari tadi tertunda. Sementara itu, Evan dan Rio saling tatap seakan bertanya lewat tatapan mereka dengan diamnya Zeline.


"Kalian tidak perlu khawatir, papa tidak akan tahu, karena saat ini sedang keluar kota, dan pulangnya pasti larut," bohong Zeline, dia tidak ingin temannya khawatir juga tidak mau membuat mereka merasa bimbang karena membawanya.


"Oh ya?"


"Hmm," jawab Zeline mengangguk mantap membuat ketiga pria itu yakin.


"Baiklah kalau gitu, tancap!"


Evan mempercepat laju mobilnya, Zeline hanya tersenyum, merasa jika bersama teman-temannya memanglah yang terbaik untuk saat ini, karena setidaknya dia tidak akan merasa sedih.


Zeline lalu menoleh saat merasakan genggaman di tangannya. Dia tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nico, melupakan jika tidak hanya mereka berdua yang ada disana.


*


*


Risa buru-buru mengganti seragam saat membaca pesan dari adiknya. Untungnya jam kerjanya memang sudah berakhir, jadi Risa tidak perlu izin pada Dirga. 


Selesai bersiap, Risa berpamitan pada beberapa rekan kerjanya bahwa dia akan pulang lebih dulu karena ada urusan. Dia lalu berjalan keluar, mengambil ponsel yang tadi ia masukkan ke dalam tas hendak memesan ojek online, tapi hal itu dia urungkan saat melihat mobil yang begitu dikenalnya berhenti di depan restoran sambil membunyikan klakson. Risa tersenyum begitu jendela mobil terbuka dan seorang pria tampan melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Tak lama pria itu membuka pintu dan turun dari mobil.


"Abang tepat waktu kan?" Ucapnya berjalan mendekat, meraih tangan Risa dan menggandengnya.


"Hmm," jawab Risa tersenyum senang.

__ADS_1


"Ayo!"


Zhen lalu menarik Risa mengajak masuk ke mobilnya.


Zhen memasangkan Risa seatbelt sambil bertanya.


"Kita mau langsung pulang atau mau cari makan dulu? Kamu belum makan kan?"


Risa yang tadi menunduk mengangkat wajahnya, menatap Zhen saat mendengar pertanyaan pria itu.


"Darimana abang tahu aku belum makan?" Tanya Risa kemudian.


Zhen pun menatap Risa, pandangan keduanya bertemu bahkan jarak wajah mereka semakin mendekat. 


Deg


Deg


Jantung keduanya berdebar cukup kencang. Risa buru-buru menarik kesadarannya, kedua pipinya terasa panas, dia yakin saat ini wajahnya sudah memerah. Gadis itu segera mengalihkan pandangan keluar jendela. Dirinya merasa sangat gugup.


"Tentu saja abang tahu, coba deh dengerin…cacing-cacing di perutmu itu sedang berdemo sekarang, tapi bahkan kamu tidak menyadarinya."


"Hah?" 


Risa semakin memalingkan wajahnya, malu.


Zhen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dalam hati merutuki seseorang yang telah menelpon Risa dan mengganggu dirinya yang hampir mencium sang kekasih.


Dia menatap Risa yang memberi isyarat padanya untuk diam, karena gadisnya itu akan segera menjawab panggilan teleponnya. Dan Zhen tentunya hanya bisa menurut.


"Halo bu."


"Iya halo Nak. Kamu sudah pulang kerja?"


"Ibu sudah sampai? Ibu disitu saja ya, nanti Risa akan jemput," ucap Risa tak langsung menjawab pertanyaan ibunya.


"Kamu sudah pulang?"


"Iya ini di jalan. Kenapa ibu-ibu tidak bilang-bilang sama Risa kalau ibu mau datang, untungnya Aga tadi ngabarin Risa. Kalau Aga gak ngabarin, Risa gak bakal tahu kalau ibu datang. Terus nanti bagaimana ibu datang ke kos an Risa?"


Ibu Risa malah tertawa di ujung telepon.


"Kenapa ibu malah tertawa? Risa khawatir tahu."


"Lagian kamu ngomongnya kayak ibu gak bisa ke tempat kamu sendiri saja. Ibu bisa naik taxi online, ibu sudah setua ini, kamu masih khawatir sama ibu? harusnya ibu yang khawatir karena anak gadis ibu yang tinggal di kota sendirian. Lagian ibu sudah tahu alamatmu dari adikmu, jadi kamu tidak perlu khawatir, ibu bisa sendiri, kamu langsung pulang saja, kamu pasti lelah karena baru pulang kerja.

__ADS_1


Risa memanyunkan bibir yang jelas tidak bisa dilihat ibunya.


"Sudah pokoknya ibu diam saja disitu, Risa akan jemput."


"Iya…iya…baiklah, ibu akan tunggu disini. Kamu hati-hati di jalan ya."


"Iya."


Panggilan pun berakhir, Risa meletakkan ponsel di pangkuannya lalu menatap Zhen.


"Abang…"


Risa terdengar ragu mengatakannya.


"Kenapa? Kita mau kemana?"


"Tidak…abang turunin aku di depan saja, aku akan pesan kendaraan.


"Kenapa? Biar abang yang mengantarmu."


Zhen menoleh ke arah Risa.


"Tidak perlu bang, masalahnya…"


"Ibu kamu datang, kamu akan menjemputnya kan?"


"Iya."


"Ya sudah biar abang antar."


"Abang tidak apa-apa?"


"Memang abang kenapa?"


Risa menatap Zhen yang terlihat begitu santai, padahal Risa sendiri tampak gugup, belum siap jika ibunya bertemu dengan kekasih itunya, karena Risa sendiri belum tahu kemana arah hubungan mereka ke depannya. Hal itu bahkan belum ada di pembicaraan keduanya, terlebih Risa sangat yakin jika mungkin di masa depan hubungan mereka akan sulit, selain perbedaan status, dirinya yang begitu mirip dengan Zeline bahkan pernah menggantikanya, dan tak hanya itu, mama Zeline bahkan tahu akan perbuatannya, membuat Risa yakin, dirinya pasti bukanlah orang baik di mata mama Zhen.


"Sayang kenapa?"


"Sayang!"


Risa tersentak saat tiba-tiba Zhen menyentuh tangannya.


"Ah maaf…"


"Kenapa? Ada masalah? Ada sesuatu yang kamu pikirkan?"

__ADS_1


Risa menggeleng sambil tersenyum.


"Hmm tidak, aku hanya tidak sabar ingin bertemu ibu, aku sangat merindukannya," jawab Risa yang memang tidak sepenuhnya berbohong, walau dalam hati masih bertanya-tanya, apa yang membuat tiba-tiba ibunya sampai datang ke kota mengunjunginya.


__ADS_2