Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 65


__ADS_3

Risa dan Zhen sama-sama menoleh. Sementara pria yang tadi memanggil Risa, menatap keduanya bergantian, lalu pandangannya turun, menatap kedua tangan yang sedang bergandengan.


Menyadari tatapan pria itu, Risa mencoba menarik tangannya dari genggaman Zhen. Tapi Risa menoleh saat tangan Zhen justru semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Abang…"


Zhen menarik tangan Risa, melangkah menghampiri pria itu.


"Ada apa?" Tanya Zhen membuat pria itu tersadar dan kembali menatap Risa.


"Kenapa kamu belum bersiap? Lihatlah ini sudah jam berapa? Kau masih ingin bekerja di tempatku kan? Jika iya, cepat bersiap, aku akan menunggumu di mobil," pria itu berbalik dan berlalu pergi.


"Tidak perlu repot-repot, seorang bos tidak perlu sampai menjemput karyawannya untuk bekerja."


Pria itu menghentikan langkah dan berbalik badan, menatap tajam pelaku yang berbicara. 


Zhen tidak mau kalah, dia juga kini membalas tak kalah tajam dengan bos Risa itu. Bahkan kini tangannya sudah terlipat di depan dada seakan menantangnya.


Risa menatap kedua pria itu bergantian, seketika hawa di sekitarnya terasa mencekam, seakan ada aliran listrik yang terpancar di kedua mata pria itu. 


Risa tersenyum, saat mendapati tetangganya yang melihat ke arah mereka. Dia menganggukkan kepalanya, yang hanya dibalas gelengan kepala oleh mereka.


"Bos, sebaiknya kamu berangkat duluan, aku…aku akan segera bersiap dan langsung berangkat. Sebelumnya aku berterima…"


"Kau yakin, jika terlambat apa yang akan dikatakan rekanmu?" Potong Dirga sebelum Risa menyelesaikan ucapannya.


"Hah?"


"Jika aku berangkat dulu, bisa dipastikan kau akan terlambat Risa, kau ingin menjadi bahan pembicaraan mereka lagi? Setelah kemarin yang telah kau lakukan?"


"Soal kemarin…"


"Cepat bersiap Risa, kau tau aku sibuk?"


"Jika sibuk, urus saja kesibukanmu, Risa biar saya yang antar," sela Zhen, dia tidak akan memberi celah sekecil apapun pada Dirga. Entah kenapa Zhen merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman saat melihat tatapan Dirga terhadap kekasihnya.


Dirga kembali menatap Zhen, sungguh tidak suka dengan pria yang tidak dia kenali itu, terlebih karena pria itu terlalu ikut campur antara dirinya dan Risa.


"Sudah…sudah…abang aku berangkat sama bos saja," ujar Risa yang merasa tidak enak dengan bos nya itu. Sudah memberinya kesempatan untuk kembali bekerja, dan sekarang datang menjemputnya, bukankah tidak baik jika Risa menolak untuk yang kedua kalinya. Ditambah dengan jarak antara tempat tinggal Dirga dan kos annya pun terbilang cukup jauh. Tidak mungkin Risa membuat waktu yang sudah dihabiskan pria itu sia-sia.

__ADS_1


Mendengar ucapan Risa, Zhen spontan menatap kekasihnya itu tak percaya. Ia mendengus lalu berbalik dan berjalan masuk.


"Abang!" 


Panggil Risa menatap kepergian Zhen, lalu kembali menatap Dirga. 


"Maaf bos," ujarnya tidak enak.


"Kalau begitu saya bersiap dulu," pamit Risa akhirnya karena Dirga hanya diam menatapnya.


Risa segera berlari masuk ke dalam kos an. Dia melirik Zhen yang sedang duduk di atas ranjang sambil bersandar dengan kedua tangan yang sibuk dengan ponsel.


Risa segera mengambil pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi. Menggantinya disana.


"Abang!" Risa memegang dadanya begitu dia keluar dari kamar mandi dan melihat Zhen yang berdiri menjulang di depan pintu.


"Kamu beneran akan berangkat sama dia? Abang bisa antar kamu." Ucap Zhen dengan tatapan tidak rela.


"Bos sudah datang kemari abang, aku tadi sudah berusaha menolaknya, tapi benar apa yang dia katakan, jika aku tidak berangkat bersamanya aku bisa terlambat, dan aku tidak ingin orang-orang semakin gencar membicarakanku."


Zhen menghela nafas panjang, dia tidak boleh egois, walaupun dia tidak rela, tapi apa yang Risa katakan ada benarnya. Dan  ini semua berawal dari apa yang adiknya lakukan, hingga membuat Risa menjadi kesulitan seperti ini.


Zhen pun minggir, membiarkan Risa berjalan melewatinya, tapi tiba-tiba tangannya menahan tangan Risa lalu menggenggamnya. Zhen mundur 3 langkah, agar bisa melihat wajah kekasihnya itu.


"Risa cepat!" Suara teriakan Dirga bisa Zhen dan Risa dengar.


"Iya, ini mau keluar," teriak Risa melewati Zhen begitu saja, membuat Zhen tampak kecewa. Namun, Zhen tidak menyangka, jika Risa tiba-tiba berbalik dan berlari ke arahnya mengecup bibir Zhen singkat, baru setelah itu Risa kembali pergi.


Zhen jangan tanyakan, dia kini senyum-senyum sendiri sambil memegangi bibirnya.


"Hati-hati sayang!" Teriak Zhen begitu ditarik kembali ke dunia nyata.


Risa pun menoleh, dia tersenyum sambil mengangguk, lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya dia membuka pintu dan berlalu pergi.


"Ayo cepat!" Sambut Dirga begitu melihat Risa sudah keluar.


Keduanya lalu berjalan cepat menuju mobil Dirga. Dan Dirga pun bergegas mengemudikan mobilnya ke restoran miliknya.


"Ambil itu!" Ucap Dirga menunjuk dengan dagunya, memecah keheningan.

__ADS_1


"Hah? Oh…"


Risa lalu mengulurkan tangan, mengambil paper bag yang ada di kursi belakang.


"Ini apa bos?" Tanya Risa menatap ke arah Dirga yang kebetulan juga kini menoleh ke arahnya membuat jarak wajah keduanya begitu dekat. Pandangan mereka bertemu, hingga Risa lebih dulu memutusnya, dan mengalihkan fokusnya dengan paper bag yang kini ia taruh di pangkuannya.


Sementara Dirga berdehem, menepis kecanggungan yang sempat terjadi.


"Makanlah!" Ucap Dirga kemudian.


"Makasih," ucap Risa tulus menoleh menatap Dirga dan memberikan senyumannya.


"Tau aja bos, kalau aku belum sempat makan tadi," ucap Risa mengeluarkan tupperware dari paper bag.


"Ah iya…" gumamnya kemudian lalu mengambil ponsel yang masih ada di dalam tasnya.


Risa tersenyum saat membuka pesan yang dikirimkan oleh Zhen, pria itu memfoto dirinya sendiri yang tengah cemberut. Lalu foto kedua, dia sedang makan masakan Risa tadi yang tidak sempat dimakannya. Padahal Risa baru akan memberitahunya, tapi rupanya Zhen sudah memakannya. Lalu foto ketiga dia tengah tersenyum sambil menempelkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk tanda hati.


"Saranghae," tulisnya di bawah foto yang ketiga membuat Risa spontan tergelak.


"Kenapa?" Tanya Dirga heran.


"Ah tidak apa-apa bos, maaf," ucap Risa yang kini tertawa tanpa suara. 


"Nado saranghae," tulis Risa kemudian di pesan yang dia kirimkan untuk Zhen, setelah itu Risa mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. 


Risa lalu membuka tupperware yang tadi sudah dia keluarkan.


"Makan bos!" Ucap Risa menawari bosnya itu, sudah kebiasaannya jika dia makan dan ada orang lain di sekitarnya.


"Hmm," jawab Dirga hanya dengan gumaman.


Risa melirik ke arah Dirga, mengedikan bahu dan kembali melahap makanannya, menikmati masakan Dirga yang memang enak. Kenapa Risa tahu, karena bukan pertama kalinya dia mencicipi makanan buatan bosnya itu.


Kunyahan Risa berhenti, saat tiba-tiba ponselnya berdering. Risa buru-buru mengambilnya mengira jika Zhen lah yang menghubunginya. Tapi saat melihat layar ponselnya, Risa mengernyit menatap deretan angka yang tertera di layar. Risa membiarkan saja hingga dering itu berhenti dengan sendirinya.


"Siapa?" Dirga segera bungkam saat melihat Risa menatapnya.


"Aku tidak bermaksud ikut campur, takutnya kamu tidak enak menjawab karena ada aku," jelas Dirga yang tidak ingin Risa mengira jika dirinya terlalu ikut campur.

__ADS_1


"Bukan seperti itu bos, hanya saja aku memang menjawab nomor yang tidak dikenal," ujar Risa.


Dirga hanya mengangguk-anggukan kepala. Sementara Risa kini tampak fokus dengan ponselnya bahkan ekspresi wajahnya segera berubah setelah membuka pesan dari nomor yang menghubunginya tadi.


__ADS_2