
"Abang belum pulang bi?"
Bi Irma yang sedang minum hampir saja tersedak saat tiba-tiba suara Zeline mengejutkannya. Wanita itu terlihat mengelap bibirnya yang basah sambil ekor matanya melirik Zeline yang kini duduk di salah satu kursi di ruang makan.
"Belum Non."
"Apa abang seperti ini semenjak kembali?" Gumam Zeline yang masih bisa didengar oleh Bi Irma.
"Tidak non, kemarin-kemarin kan Tuan dekat sekali sama Non, bahkan saat Non sakit, Tuan itu nemenin Non tidur loh di kamar Non, memangnya Non tidak ingat itu semua?"
"Hah? Oh soal itu, Zeze ingat kok bi, hanya saja Zeze heran saja belakangan ini abang berubah," lirih Zeline.
"Hmm soal itu, bibi juga merasakannya Non, mmm mungkin Tuan sedang ada masalah?"
Zeline kemudian menatap wanita yang selama ini menemaninya yang kini berdiri tidak jauh darinya dengan kepala menunduk.
"Mungkin…" jawab Zeline yang kini kembali menatap kosong ke depan. Setelah mendengar perkataan bi Irma barusan, berarti Risa tidak berbohong padanya.
Dan kini Zeline hanya bertanya-tanya dalam hati kenapa tiba-tiba abangnya berubah kembali ke sosoknya yang dingin, sosok seperti saat abangnya tahu kekasihnya mengkhianati dirinya.
"Apa abang bertemu dengan pengkhianat itu?"
"Hah kenapa Non?" Bi Irma bertanya karena seperti mendengar Zeline berbicara, hanya saja ucapan gadis itu terdengar tidak jelas.
"Tidak apa-apa bi, ya sudah Zeze mau kembali ke kamar," setelah mengatakan itu, Zeline langsung bangkit dan bergegas ke kamarnya.
"Kasihan Non Zeline, semoga saja masalah Tuan cepat selesai hingga tidak mengabaikan Non Zeline lagi."
Sesampainya di kamar, Zeline mengambil ponselnya, menatap sederetan nomor tapi ragu menghubunginya. Dan setelah menimbang cukup lama, akhirnya Zeline pun memanggil nomor yang sedari tadi dipandanginya.
*
*
__ADS_1
Zhen melangkah gontai ke sebuah kamar, salah satu apartemen miliknya, jam kini menunjukkan pukul 12 malam, dan pria itu memilih untuk tidak kembali, justru mengarahkan mobilnya ke salah satu apartemen yang biasa dia tempati jika memang butuh waktu sendiri.
Dengan dua kancing kemeja teratas yang sudah dibuka, juga lengan yang dilipat sampai siku, rambutnya yang kusut serta kantung mata yang terlihat begitu jelas, Zhen merebahkan diri di atas ranjang tanpa melepas sepatunya.
"Akh!" Zhen tiba-tiba berteriak dan mengacak rambutnya kasar.
Dirinya kemudian duduk dengan kepala menunduk dan mengusap wajahnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa perasaan ini begitu menyiksaku? Kenapa?" Teriak Zhen yang bingung dengan perasaannya sendiri, awalnya dirinya datang dia ingin selalu berada di dekat adiknya, tapi dua hari ini, dia justru terlihat menghindar, Zhen memang sengaja berangkat lebih awal bahkan pulang larut malam, bahkan hari ini, dia justru memutuskan tidak pulang, dia tidak ingin bertemu dulu dengan Zeline, sampai dia tahu jelas bagaimana perasaannya terhadap adiknya itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika dengan sikapku ini, Zeze akan kembali terluka? Lalu aku? Aku bahkan tidak bisa berhadapan dengannya, bagaimana aku bisa menjelaskannya? Menjelaskan bahwa aku butuh waktu untuk mencerna semuanya, aku butuh waktu untuk memastikan perasaanku sebenarnya," ucap Zhen lirih.
Pria itu memukul-mukul pelan kepalanya. Mengambil sebuah foto keluarga yang ada di atas meja nakas, lalu melemparnya ke dinding.
Brak!
Prang!
"Ini gara-gara kalian! Karena kalian hidup kami berantakan!"
***
"Ibu sudah tidur?"
"Sst! Iya mbak. Mbak sama mas Rian kesininya," ucap Risa dengan suara pelan tak ingin membangunkan ibunya.
"Iya, sekalian mas Rian berangkat kerja, hari ini sift malam, jadi mbak minta antar mas Rian aja, mau temani ibu, daripada di rumah hanya sendiri."
Risa mengangguk mengerti, dirinya kemudian duduk di atas karpet, tidak jauh dari ranjang rawat ibunya. Kakaknya ikut menyusul dan duduk di samping Risa.
"Kamu apa tidak sebaiknya pulang saja, dari kemarin sejak kamu datang, kamu selalu jagain ibu, kamu pasti kurang istirahat, Aga juga nanti kesini setelah nyelesain tugasnya. Biar kami nanti yang gantian jaga ibu."
"Tidak apa-apa mbak Risa disini saja, sama juga kan, disini Risa juga istirahat kan?"
__ADS_1
"Tapi tidur disini tidak nyaman."
"Udah mbak tidak perlu khawatir, Risa baik-baik saja."
Kakak perempuan Risa hanya bisa pasrah, membujuk Risa memang bukanlah hal yang mudah, dia hanya kasihan melihat adik perempuan satu-satunya itu, jika terus begini nanti justru adiknya yang jatuh sakit.
"Kamu sudah makan? Tuh tadi mbak sempat masak makanan kesukaan kamu, kamu makan gih mumpung masih hangat juga."
"Beneran mbak? Duh Risa memang kangen sama masakan mbak juga ibu," kata Risa yang kini tampak semangat, bangun dan mengambil kantong plastik merah yang tadi dibawa kakaknya.
Risa membawanya ke tempat dirinya duduk tadi lalu dengan segera membukanya, dirinya memang belum makan malam ini, tadi sama sekali Risa tidak nafsu makan, entah kenapa pikirannya terus tertuju pada pria yang berhasil masuk ke hatinya.
"Hmm enak. Ini nih yang paling aku rindukan jika jauh dari kalian," ucap Risa saat mulai menyuap makanannya.
"Ya sudah kalau begitu tetap disini saja, jangan pergi lagi, kalau perlu kamu cari kerja disini, nanti mbak coba tanyakan sama mas Rian mungkin saja di tempatnya bekerja, ada lowongan buat kamu."
Risa kemudian menghentikan suapannya. Terdiam cukup lama, lalu menatap kakaknya.
"Maaf mbak soal itu Risa belum bisa."
"Kenapa sih Ris, apa karena Ardan?"
"Kok jadi Ardan sih mbak," Risa menutup tupperware, tidak jadi makan, selera makannya kini benar-benar hilang.
"Walaupun kamu tidak cerita sama mbak, mbak tahu kalau Ardan selama ini ngejar-ngejar kamu, kenapa kamu tidak mau mencoba dengannya?"
Risa menghela nafas panjang, pandangan dia alihkan asal tidak menatap kakaknya.
"Risa mau keluar bentar mbak cari angin," setelah mengatakan itu, Risa bangkit dan berlalu meninggalkan kakaknya yang kini menghembuskan nafas berat.
Risa terus berjalan, hingga kini langkah kakinya tiba di taman, Risa duduk menatap langit yang tampak gelap. Tidak ada satupun bintang yang menyinari.
Kedua tangannya menengadah saat merasakan tetesan-tetesan air jatuh dari cakrawala. Sepertinya langit pun ikut menangis melihat keadaan Risa saat ini. Risa teringat kejadian yang sudah lewat beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Dimana saat itu Risa mendengar seorang wanita berbicara tentangnya, yang jelas perkataannya begitu menyakiti dirinya, dan itu sangat teringat jelas di benak Risa bahkan sampai saat ini. Dan saat gadis itu sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering, dan Risa mengernyit saat nama Zeline tertera di layar ponselnya. Padahal baru dua hari, belum seminggu seperti perjanjian mereka yang tidak akan saling menghubungi untuk mengurangi kecurigaan, kecuali jika memang itu hal yang sangat penting terkait pertukaran peran mereka.