
"Kenapa tidak dijawab-jawab sih?" Kesal Risa karena orang di seberang telepon tidak kunjung menjawab panggilan darinya, ini sudah ketujuh kalinya, tapi pria itu tampak sangat jelas, sengaja mengabaikannya.
"Tidak…ini tidak bisa…aku tidak boleh dipecat seperti ini," Risa melihat jam masih menunjukkan pukul 8, dengan segera Risa mengambil sweater miliknya, dan segera keluar dari kos annya.
Sambil jalan, Risa memesan ojek online yang akan mengantarkan dirinya ke tempat kerja, setidaknya dia butuh penjelasan kenapa bos nya mengiriminya pesan, jika dirinya dipecat. Jika karena Zeline yang membolos kemarin, seharusnya tidak perlu dipecat bukan, mungkin jika potong gaji, Risa bisa memaklumi, bagaimanapun Zeline memang salah.
"Lihatlah, bahkan di saat dia membuatku dalam kekacauan, dia hanya diam saja, dan aku sendiri yang harus menyelesaikannya," gerutu Risa sambil menunggu ojol yang dipesannya datang.
"Sudahlah Risa, tidak perlu marah-marah, lagian semua sudah terjadi, fokus saja memperbaikinya, maklum saja dia hanya anak kecil yang dalam pikirannya hanya bermain," monolog Risa, yang kini berusaha untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya dirinya ingin mengamuk.
Sebaik-baiknya Risa, tetap saja dia bisa kesal dan marah, apalagi tindakan Zeline bisa saja membuatnya benar-benar kehilangan pekerjaan, jika seperti itu, apa yang akan Risa lakukan? Bagaimana dirinya bisa menghidupi dirinya sendiri di ibu kota seperti ini?
Risa lalu segera naik ke boncengan, sambil memakai helm yang tadi diberikan pengemudi.
Sementara itu, sebuah mobil yang baru saja berhenti, segera mengikuti motor yang membawa Risa pergi. Dan Risa sama sekali tidak tahu jika ada sebuah mobil yang mengikutinya.
Akhirnya motor yang membawa Risa kini telah sampai ke tempat tujuan, Risa segera turun dan masuk, melewati beberapa tamu, dan menerobos ke belakang.
"Hani…" Risa memanggil salah satu orang yang memakai seragam putih.
Yang dipanggil Risa menoleh, segera menghampiri dan menarik tangan Risa menjauh.
"Han aku harus…"
"Kamu kemana saja, dihubungi tidak bisa, ka ada masalah? Aku selalu menahan untuk tidak bertanya, tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi Ris. Kenapa kamu akhir-akhir ini? Kerjaan Kamu benar-benar kacau, semua orang membicarakannya, apalagi bos yang masih tetap mempertahankanmu, walau terbilang kamu sudah membuat tempat ini rugi cukup besar."
"Apa maksudmu Han? Aku tidak mengerti, bisa kamu jelaskan satu persatu padaku?"
Hani justru menyentuh kening Risa, mengukur dengan keningnya sendiri.
"Normal, atau…apa kamu terbentur sesuatu? Kamu sampai lupa masalah yang kamu buat?"
__ADS_1
"Masalah?"
Risa melihat Hani yang tampak menghela nafas panjang. Hani terlihat menengok kanan dan kiri, lalu kembali menatap Risa.
"Maaf Ris, aku tidak bisa bercerita sekarang, ini masih jam kerja, kamu lihat sendiri, tadi di dapur sibuknya seperti apa. Nanti saja ya, jika jam kerjaku sudah habis, atau besok pagi, bagaimana kalau kita ketemuan?"
Risa mengikuti apa yang Hani lakukan tadi, benar, restoran sekarang tampak ramai, dan Risa tidak seharusnya mengganggu Hani bekerja.
"Hmm baiklah, nanti kamu hubungi saja kapan dan dimana tempatnya."
"Ya sudah, aku kembali kerja dulu," pamit Hani yang kini meninggalkan Risa sendiri.
Risa pun segera keluar dan tanpa sengaja dia berpapasan dengan pria yang juga bekerja di tempat itu.
Pria itu tampak menatap Risa tidak suka, lalu melewati Risa begitu saja. Risa hanya menghela nafasnya dan segera pergi.
"Masih punya muka kamu datang ke tempat ini? Bukankah kamu sudah dipecat, dan kamu tidak lihat tulisan di balik pintu itu, selain karyawan dilarang masuk, atau jangan-jangan selain lupa cara memasak kamu juga lupa bagaimana cara membaca?"
Risa berbalik, berjalan menghampiri Aldi.
"Apa maksud kamu? Lalu kenapa kamu tahu, jika bos memecatku?"
Aldi justru tersenyum miring, "Menurutmu?" Ucapnya balik bertanya.
"Kamu yang…"
"Iya, aku yang meminta bos untuk memecatmu, kenapa? Kamu tidak suka?" Potong Aldi cepat. Pria itu lalu mendekatkan wajahnya ke arah Risa, dan berbisik.
"Jika sampai bos tidak memecatmu karena kesalahan yang sudah berulang kali kamu lakukan, bukankah itu menjadi tanda tanya besar, dan kau pikir aku tidak tahu, kamu dan bos pernah pergi bersama ke luar kota. Mungkinkah kamu sengaja menggodanya hingga bos tetap mempertahankan…"
Plak
__ADS_1
Tangan Risa bergetar. Hal-hal yang dia lalui hari ini membuat dia lepas kendali, terlebih ucapan Aldi yang Risa tahu kemana arah pembicaraannya.
"Jangan berbicara seolah kamu tahu apa yang terjadi, kau tidak tahu apa-apa," Risa segera berbalik dan melangkah pergi. Risa tahu Aldi iri padanya, tapi dia tidak menyangka jika Aldi bisa berkata seperti itu, menuduhnya seolah-olah…" Risa menghapus air matanya cepat, dia tidak ingin menarik perhatian para tamu, dengan langkah cepat ingin segera meninggalkan tempatnya bekerja selama ini.
Risa berjalan melewati sebuah gang yang cukup sepi, ingin menenangkan diri, mencerna apa saja yang terjadi hari ini, hingga dirinya terkejut saat tiba-tiba seseorang menarik tangannya, lalu memojokkannya di dinding. Kedua tangan pria itu, menempel di dinding di sisi kanan dan kiri tubuh Risa, mengurungnya.
"Aldi apa yang kau lakukan?" Suara Risa terdengar bergetar, dia takut, apalagi melihat sorot mata Aldi yang penuh amarah, tangannya mengepal erat, sebisa mungkin menahan rasa takutnya.
"Aldi minggir."
"Kamu pikir, aku akan melakukan apa yang kamu perintahkan?"
Air mata Risa lolos sudah, padahal dia berharap agar tidak melihat sisi lemahnya di depan Aldi.
Sementara Aldi tersenyum melihat Risa yang tampak ketakutan.
"Jika kamu bisa sama bos, harusnya kamu juga bisa bukan sama aku, walaupun mungkin aku tidak memberikan sebesar yang diberikan bos, setidaknya itu lumayan buat menghidupimu selama kamu mencari pekerjaan baru," ucap Aldi tersenyum menyeringai.
"Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu Risa."
"Aldi minggir, atau aku akan teriak."
"Teriak saja, tapi sebelum itu terjadi, mungkin aku sudah lebih dulu membungkam mulutmu," ucap Aldi sambil memegangi bibirnya.
Risa sampai bergidik ngeri membayangkan hal apa yang bisa Aldi lakukan terhadapnya, tubuhnya gemetar saat Aldi kini semakin mendekatkan wajahnya. Dia berusaha mendorong tubuh Aldi yang membuat pria itu marah dan semakin mengikis jarak antara dirinya dan Risa.
"Terus saja Risa, semakin memberontak, aku justru semakin suka, itu lebih menantang," ucapnya disertai tawa mengerikan.
Aldi semakin mendekatkan wajahnya, membuat Risa semakin ketakutan, bahkan kini kedua mata gadis itu memejam erat.
__ADS_1
Satu detik, dua detik, tiga detik, Risa segera membuka matanya kembali, melihat tubuh Aldi yang kini jatuh tersungkur, hingga seorang pria mendekat padanya dan langsung menarik tubuh Risa yang gemetar ke dalam pelukannya. Dan akhirnya tangis Risa pun pecah dalam dekapan pria itu, rasa takut yang tadi melandanya kini berganti dengan rasa lega yang luar biasa.