
Risa menatap sebuah tempat kos an yang sudah ditinggalkan seminggu ini. Tidak ada yang berubah, suasana masih tampak sepi, Risa memang sengaja memilih tempat ini karena lebih nyaman menurutnya, di tengah kesibukannya, jika dia pulang, dia bisa beristirahat dengan tenang.
Risa melangkahkan kakinya mengetuk pintu yang tertutup rapat. Tak lama hingga seorang gadis kini tengah berdiri dengan rambut acak-acakan juga terus menguap, sepertinya gadis itu baru saja bangun dari tidurnya.
"Mbak Risa?"
Gadis itu tampak terkejut dengan kedatangan Risa. Sementara itu, Risa menengok kiri kanan, lalu mendorong gadis itu untuk masuk.
"Kamu sudah lakukan yang mbak minta?"
"Sudah mbak, untungnya langsung disetujui, gue kira akan mudah dapat cuti dari bos jutek itu," ucap gadis itu duduk lesehan di samping Risa yang sudah duduk saja.
"Tapi kenapa mbak ngajuin cuti?"
"Seperti yang aku katakan waktu itu, aku kan pulang."
"Lalu?"
"Lalu?" Risa mengulang pertanyaan Zeline.
"Ya apalagi, kita harus bertukar peran lagi."
"Tapi mbak…"
"Tolong Zeline, kamu juga harus ngertiin aku. Oke aku memang menerima tawaran kamu, membiarkan kamu melakukan apa yang kamu inginkan, tapi jangan lupakan jika aku juga punya tanggung jawab yang tidak bisa aku tinggalkan."
Risa menghempaskan punggungnya di dinding, entah kenapa Zeline jadi sulit dihubungi, gadis itu selalu menghindar darinya, hingga dia memutuskan untuk mendatanginya. Untungnya jadwal liburnya tidak berubah, jadi mereka bisa bertemu.
"Kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak akan kesepian, abang kamu, dia sudah kembali," ucap Risa lirih, entah kenapa rasanya begitu berat bila mengingat pria yang sudah membuatnya jantungnya berdebar di setiap dia berada di dekatnya.
Zeline menoleh menatap Risa, mencari kebohongan disana, tapi tidak dia temukan.
"Sejak kapan?"
"Sejak dua hari aku datang ke rumahmu."
"Kenapa mbak gak bilang?"
__ADS_1
Risa menatap Zeline kesal, "Apa kau sadar apa yang kau tanyakan? Tidak bilang? Bahkan saat aku menghubungimu, kau selalu mengabaikannya."
Melihat Risa yang tampak kesal, Zeline akhirnya terdiam.
"Maaf, lalu abang bagaimana? Abang tidak suka marah-marah tidak jelaskan? Abang sudah tidak bersikap dingin lagi?" Tanya Zeline memastikan, dirinya merasa takut pada Zhen, setelah kejadian itu, kejadian yang membuat kakaknya begitu dingin tak tersentuh.
"Abang Zhen selalu memperhatikan Zeline, tidak ada raut dingin, kecuali jika Zeline dekat dengan Rio dan Evan," jelas Risa membayangkan bagaimana sosok Zhen dari hari pertama mereka bertemu.
Zeline tersenyum merasa senang, jika seperti itu, dia akan tetap menjadi dirinya dan tidak ingin bertukar posisi lagi dengan Risa yang harus menghadapi bos Risa yang menyebalkan.
"Selain itu, Nico juga sepertinya ingin dekat denganmu."
"Nico? Maksud mbak Nico si ketua kelas?"
"Hmm."
Senyuman Zeline benar-benar lebar kali ini, Risa bisa menduga bahwa Zeline juga diam-diam menyukai Nico.
"Baiklah kalau gitu, kita bertukar sekarang saja, gue kangen sama abang, gue ingin cepat-cepat ketemu dan mengajaknya shopping," ucap Zeline heboh yang langsung bangun meninggalkan Risa untuk bersiap.
Risa menatap Zeline yang kini sudah menutup pintu kamar kos an nya. Dia menghela nafas dan bangkit dari duduknya, dia harus pulang untuk menemani ibunya yang dikabarkan masuk rumah sakit.
Selesai bersiap, Risa memesan ojek online yang akan membawanya ke stasiun terdekat, Risa juga sudah memesan tiket untuk dirinya kembali saat itu juga.
*
*
"Abang sudah pulang pak?" Tanya Zeline sambil membuka aplikasi chat yang digunakan Risa selama menjadi dirinya. Dia ingin tahu apa yang dilakukan Risa, hingga Zeline begitu beruntung, selain abangnya yang sudah pulang, Zeline juga senang karena mungkin Nico akan merespon perasaannya yang selama ini dia coba sembunyikan.
"Sepertinya belum Nona, bukankah Tuan sudah mengatakan pada Anda jika ada sesuatu di perusahaan yang harus diselesaikan, makanya beliau sekarang meminta saya untuk menjemput Non Zeze."
Zeline menepuk keningnya, "oh iya, Zeze lupa pak."
Sopir tadi hanya tersenyum.
"Non Zeze pasti kangen sama Tuan ya, apalagi belakangan ini, Tuan sendiri yang mengantar jemput Non Zeze."
__ADS_1
"Jadi benar, apa yang mbak Risa katakan," ucapnya pelan, hingga dia sendiri yang bisa mendengarnya.
Tak lama, mobil yang membawa Zeline pun akhirnya sampai. Zeline segera turun saat melihat mobil abangnya sudah terparkir rapi di halaman. Gadis itu segera berlari hingga terhenti saat menabrak sesuatu yang keras.
"Abang!" Zeline langsung mendekap tubuh Zhen erat. Dia sangat merindukan abangnya itu, walau sempat kecewa karena abangnya yang meninggalkannya, tapi tidak membuat Zeline memungkiri bahwa abang nya lah yang selama ini menjaganya disaat kedua orang tua nya sibuk dengan urusan mereka.
Zhen mengecup puncak kepala Zeline lalu melepaskan pelukan mereka. Wajah Zhen mendekat, lalu tiba-tiba dia menjauhkannya lagi, tapi dia terkejut saat tiba-tiba Zeline berjinjit dan mengecup pipinya.
Zhen memegang pipinya, tersenyum lalu mengacak rambut Zeline gemas.
"Udah berani ya kamu cium-cium abang," ucap Zhen yang kini merangkul Zeline dan mengajaknya masuk.
"Abisnya abang semakin tampan, sayang jika tidak dicium."
Zhen hanya geleng-geleng kepala saja.
"Abang, Zeze lapar," ucapnya yang kini langsung menarik Zhen ke ruang makan.
"Bibi, buatkan Zeze makanan kesukaan Zeze!" Pinta Zeline begitu keduanya sampai di ruang makan, dan melihat bi Irma tidak jauh dari sana.
"Tapi Non…"
Bi Irma menatap Zhen meminta persetujuaan pria itu, terakhir Zeline memakan makanan kesukaannya berakhir dengan gadis itu yang akhirnya dirawat ke rumah sakit, dan tidak tahu kenapa Nona nya itu kembali meminta makanan yang bisa saja membahayakan dirinya.
"Tunggu apalagi bi, Zeze lapar!" Teriak Zeline membuat bi Irma terkejut begitu pula dengan Zhen.
"Bicara yang sopan sama bibi Zeze!" Peringat Zhen yang tidak suka adiknya berbicara meninggi kepada orang yang lebih tua.
Zeline mendengus kesal, bangkit dari duduknya, memilih pergi dari sana menuju kamarnya yang sudah satu minggu ini tidak ditempati, jujur saja Zeline rindu tidur di tempat yang nyaman.
"Bagaimana Tuan?" Tanya bibi menanyakan pendapat Zhen.
"Buatkan yang lain saja bi."
"Baik Tuan."
Zhen mengangguk lalu berdiri dan melangkah pergi, menuju kamar Zeline, tadi dia ada beberapa meeting penting, Zhen sengaja mempercepatnya hanya agar demi tidak menunda kepulangannya, dia sangat merindukan Zeline dan ingin tidur sambil mendekapnya sampai malam bahkan mungkin sampai pagi lagi. Tapi begitu pulang dan memeluk Zeline, perasaan Zhen yang awalnya menggebu-gebu langsung lenyap begitu saja. Bahkan saat wajah Zhen mendekat dan ingin menciumnya, tiba-tiba saja dia menariknya kembali. Entahlah, Zhen merasakan perasaan yang berbeda, dia merasa Zeline yang sekarang bukanlah Zeline yang kemarin membuatnya jatuh Cinta, rasa sayang tetap ada, tapi bukan rasa sayang seperti yang dirasakannya beberapa hari lalu.
__ADS_1