Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 76


__ADS_3

Zhen menatap Risa, meraih tangan gadisnya itu dan menggenggamnya erat-erat. Dia jelas tahu ada kesedihan di mata kekasihnya saat mengatakan itu. Entah apa yang telah terjadi dulu pada Risa, tapi Zhen tahu dengan jelas, jika kekasihnya itu pasti pernah ada masalah dengan keluarga pria yang tidak Zhen kenali itu. Jujur saja Zhen penasaran, bukan pada apa yang pria itu katakan, Zhen percaya kekasihnya tidak seperti itu. Yang membuat Zhen penasaran adalah siapa pria itu, bahkan pria itu menyebut-nyebut mamanya, apa sebenarnya hubungan pria itu dengan kekasihnya, karena Zhen merasa jika mereka begitu dekat. Apa pria itu mantan kekasih Risa? Tapi selama dirinya bersama Risa. Risa jelas tampak seperti baru memulai sebuah hubungan dengannya. Entah kenapa Zhen meyakini itu. Tapi terlepas pria itu mantan kekasih Risa atau bukan, Zhen tetap mencintai gadis itu. Seperti dirinya, Risa juga pasti punya masa lalu. Yang terpenting sekarang mereka telah bersama. Dan Zhen berjanji dalam hatinya bahwa Risa akan menjadi cinta terakhirnya, Zhen tahu mungkin akan sulit untuk bisa bersama Risa, apalagi saat melihat jika mamanya tidak menyukai kekasihnya itu, tapi Zhen akan memperjuangkan Risa.


"Abang tidak ingin bertanya apa-apa. Kamu juga tidak perlu memaksakan diri untuk menceritakan semuanya sama abang sekarang. Tapi jika kamu memang butuh tempat cerita, abang bisa jadi pendengar yang baik. Abang akan jadi tempat kamu bersandar, jika kamu memang membutuhkan itu.


"Dia teman aku bang, tepatnya teman masa kecilku, rumah kami tidak begitu jauh, kami sering bermain bersama. Hingga semakin bertambah dewasa. Perasaan pun mulai berubah. Ardan, namanya Ardan, dia menyatakan perasaannya padaku, aku terus menolaknya, karena bagiku tidak ada waktu buat memikirkan hal semacam itu. Tapi dia tidak pernah menyerah, hingga suatu hari aku mencoba memberi dia kesempatan, aku tidak tahu sebenarnya aku memang menyukainya sebagai teman atau sebagai lawan jenis, tapi aku akan mencoba membuka hatiku, terlebih dia adalah orang yang baik. Dia bahkan sangat perhatian pada keluargaku. Saat aku bilang akan memberinya kesempatan dia sangat senang, tampak jelas melihat dari wajahnya saja. Suatu hari, dia mengajakku ke rumahnya untuk memperkenalkan aku pada mamanya. Awalnya kami makan seperti biasa. Tapi saat Ardan meninggalkan aku di ruang makan hanya berdua dengan mamanya. Aku…aku tidak menyangka jika mamanya akan mengatakan hal seperti itu. Aku…aku tidak bisa lagi…aku…"


Zhen segera memeluk Risa saat mendengar suara kekasihnya itu bergetar. 


"Sudah sayang…tidak perlu dilanjutkan."


Zhen memeluk Risa semakin erat, dia bisa merasakan kesedihan yang saat ini Risa rasakan walau Zhen tidak tahu jelas apa yang mama pria itu katakan.


Zhen hanya membiarkan kekasihnya itu menumpahkan kesedihannya malam itu.


*


*


"Makan dulu baru berangkat!" 


Langkah Zeline yang baru saja menginjak lantai satu langsung berhenti saat mendengar suara bariton dari arah sebelah kanan Zeline berdiri saat ini.


Zeline menoleh dan menatap papanya yang kini berjalan mendekat dengan jas yang tersampir di tangannya


"Zeze belum lapar pa, Zeline juga buru-buru harus berangkat sekarang."


"Makan dulu di rumah Zeline!" suara papa Zeline meninggi, dia tidak suka perintahnya dibantah.


"Tapi pa…"


"Kenapa? Apa pacarmu itu menunggumu? Kamu berangkat pagi-pagi sekali karena ingin menemuinya? Lalu kalian akan keluyuran?"


"Pa…"


"Putuskan pacar kamu itu, dan fokus dengan belajarmu! Kamu tahu kan jika ini saat-saat yang paling penting, jangan sampai karena pacaran, nilai kamu yang kemarin sudah tinggi, anjlok lagi seperti dulu."


Papa Zeline segera melangkah menuju meja makan setelah mengatakan itu pada putrinya.

__ADS_1


"Bagaimana aku mendapatkan nilai tinggi? Itu terlalu sulit untukku, lulus aja sudah bersyukur," gumam Zeline. Lalu dengan langkah gontai Zeline pun melangkah mengikuti papanya.


"Cepat duduk!"


Zeline menarik kursi tepat di hadapan Abi, lalu dengan terpaksa ia pun duduk. Arah pandangnya lalu tertuju pada mamanya yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.


"Biar mama saja," mama Zeline segera menyiapkan makanan untuk putrinya itu.


Zeline menatap mama dan papanya bergantian, situasi ini adalah yang ia harapkan sedari dulu. Tapi kenapa baru sekarang mereka bisa duduk bersama seperti ini, dengan situasi yang berbeda, mama papanya bahkan tidak saling menyapa. 


"Sejak kapan kau berpacaran?"


Gerakan tangan Zeline yang akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya terhenti.


"Belum lama."


"Ingat apa yang papa katakan tadi."


"Zeze tidak akan putus dengannya."


"Papa Zeline mengelap mulutnya dengan tisu, mengakhiri acara makannya pagi itu.


"Kamu tidak hak melarang putriku seperti itu."


Mama Zeline yang sedari tadi hanya menyimak ucapan suami dan putrinya akhirnya angkat bicara.


"Putrimu?" Tampak Abi tersenyum miring.


"Ya, Zeline memang put…"


"Cukup!"


Zeline langsung bangkit dari duduknya, dia tidak ingin mendengar perdebatan keduanya.


"Harusnya papa yang memutuskan wanita itu!" Teriak Zeline dan segera berlalu pergi.


Tapi di depan pintu, ada seorang pria yang tampak asing, tiba-tiba berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk.

__ADS_1


"Mari Nona, mulai hari ini saya yang akan mengantar jemput Nona."


"Tunggu, tapi aku sudah punya sopir sendiri. Jadi tidak perlu, dan lagi siapa yang meminta…"


"Papa yang memberi perintah."


"Tapi supir…"


"Dia akan menjadi sopir papa."


"Tapi pa…"


"Papa tidak menerima penolakan." 


Abi lalu menatap pria suruhannya, "Antarkan putri saya sekarang, dan pastikan jika dia nanti langsung pulang ke rumah."


"Baik Tuan."


Zeline menghentakkan kedua kakinya saat pria yang menjadi sopir barunya membuka pintu mobil dan menyuruhnya masuk.


Melihat pria itu menundukkan kepala sejenak berpamitan pada papanya lalu segera masuk ke kursi kemudi dan mulai melajukannya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau Zeline pergi lagi dari rumah  karena kamu terlalu mengekangnya?"


"Mengekang? Aku hanya mendisiplinkannya, dia harus mulai serius belajar dari saat ini, semua aku lakukan demi kebaikannya."


"Kebaikan? Kebaikan apa yang melarang hal yang membuat Zeline bahagia, terlebih apa yang putriku lakukan tidaklah salah. Dia hanya jatuh cinta, tapi kamu dengan kejam memintanya untuk mengakhiri cintanya yang baru saja dimulai. Kenapa tidak kau saja? Akhiri hubunganmu dengan wanita itu, atau lebih baik kita  jalani hidup kita masing-masing."


Abi melangkah mendekat ke arah istrinya memegang kedua bahu sang istri.


"Tatap aku."


Mama Zeline justru membuang muka, Abi menarik dagu istrinya.


"Tatap aku! Dengarkan baik-baik Anita, aku tidak akan pernah berpisah denganmu, ucapanmu tadi tidak akan pernah terwujud," setelah mengatakan itu, Abi pun segera masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa? Kenapa kau masih mempertahankan aku padahal kamu sendiri yang sudah menghancurkan semuanya. Kenapa? Kenapa Abi?" Teriak mama Zeline.

__ADS_1


Abi hanya menatap sang istri dari spion mobilnya. Air matanya jatuh begitu saja, saat melihat wanita yang begitu dia cintai duduk bersimpuh dengan berderaian air mata.


"Maaf Anita…maaf…" gumam Abi menghapus air matanya lalu meminta sopir untuk segera melajukan mobil.


__ADS_2