
Zhen yang hendak ke kamarnya berhenti sejenak di depan pintu kamar Zeline. Sesuai permintaan Risa, hari ini dia memutuskan untuk pulang.
Zhen mengetuk pintu kamar adiknya, tak mendapati sahutan, Zhen pun berinisiatif untuk membukanya sendiri. Dan begitu pintu terbuka, pemandangan yang dia lihat adalah Zeline yang tampak tertidur pulas.
Zhen berjalan mendekat lalu duduk di sisi ranjang kosong sampingnya. Diperhatikannya wajah sangat adik yang sembab seperti habis menangis. Tangannya terulur menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah adiknya.
"Abang… "
Kedua mata itu akhirnya terbuka menatap Zhen dengan pandangan sayu.
"Maaf abang jadi membangunkanmu," ucap Zhen melihat adiknya yang kini bangun dari rebahan nya lalu duduk dan langsung memeluknya.
Zhen dengan segera membalas pelukan itu.
"Kenapa menangis?" Tanya Zhen setelah cukup lama mereka terdiam dengan posisi saling berpelukan.
"Papa…"
"Abang tau."
Zeline mengurai pelukan kakaknya lalu menatap pria itu.
"Kenapa abang tidak memberitahu Zeze? Jadi Zeze orang yang terakhir yang tahu tentang ini? Bahkan mama… "
"Mama tahu?" Tanya Zhen yang memang tidak tahu jika mamanya sudah tahu mengenai hubungan ayahnya dan wanita lain.
Zeline mengangguk lemah, lalu kembali menghambur di pelukan Zhen.
"Apa itu artinya mereka akan berpisah? Mereka bersama saja keluarga kita sudah hancur seperti ini, apalagi jika mereka berpisah terlebih karena hadirnya orang lain, sungguh Zeze tidak tahu harus bagaimana abang. Zeze… Zeze sangat iri dengan kehidupan orang lain yang begitu bahagia bersama keluarganya, Zeze ingin seperti mereka."
Zhen hanya mengusap-usap punggung adiknya, dia juga tidak tahu harus berkata apa.
"Abang tau, tadi pagi Zeze bertemu dengan wanita itu. Dia sepertinya janjian sama papa."
"Janjian?"
"Iya papa ada disana, wanita itu menarik ku dan mempertemukan aku dengan papa tapi…"
Zhen melepaskan pelukan mereka dan menatap Zeline, menunggu kelanjutan kata yang akan diucapkan adiknya.
"Wanita itu memanggilku Risa awalnya, apa mungkin dia kenal sama mbak Risa?"
"Zeze sebenarnya…"
Drttt drttt
Ponsel Zeline berdering, dia segera mengambil dan melihat nama penelpon.
"Abang bisa tinggalin Zeze?" Tanyanya menyembunyikan layar ponsel ke dadanya, tak ingin jika Zhen melihat siapa orang yang tengah menghubunginya.
Zhen menatap Zeline lalu mengangguk. Membiarkan adiknya menerima panggilan telepon yang entah dari siapa.
"Abang ke kamar dulu, kamu habis ini turun, kita makan malam bersama, abang sudah meminta bibi memasak makanan kesukaan kamu."
"Hmm."
__ADS_1
Zhen mengecup kening adiknya, lalu turun dari tempat tidur dan pergi dari sana.
Zeline pun ikut turun, dia berlari dan segera mengunci pintu, setelah itu berjalan kembali ke arah ranjang, dan naik ke tempat tidur. Zeline merapikan rambutnya, memastikan dulu penampilannya sebelum akhirnya dia menjawab telepon yang berdering kedua kalinya.
"Halo sayang," Ucap seseorang yang kini wajahnya muncul di layar ponsel Zeline.
"Halo," jawab Zeline dengan wajah memerah, karena kata sayang yang orang seberang telepon sebutkan.
"Halo doang, gak pakai sayang juga?"
"I… Iya." Ucap Zeline gugup.
"Yah, berarti cuma aku doang dong yang sayang, kamunya enggak."
"Bu…bukan gitu."
"Lalu?"
"Aku malu," Wajah Zeline menunduk, entah kenapa dengan sikap Nico yang berbeda dengan biasanya di sekolah membuat jantung Zeline berdebar kencang, bicara pun sedari tadi terbata, gugupnya luar biasa, bahkan kini tangan yang memegang ponsel, penuh dengan keringat dingin.
"Hmm padahal aku ingin mendengarnya," Ucap Nico pura-pura kecewa.
Zeline terdiam cukup lama sambil memandangi Nico yang sekarang sibuk menyusun buku dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kamu bawa buku banyak sekali, belum tentu besok langsung dikasih pelajaran, kita kan baru masuk."
"Oh ini… Aku mau mengembalikannya ke perpustakaan."
Bibir Zeline membulat membentuk huruf O. Dia jadi berfikir bagaimana besok dirinya di sekolah jika tidak bisa mengerjakan soal. Kemarin saat dia melihat rapor semua nilainya sangat bagus, tapi itu karena Risa yang menggantikannya.
"Zeline… Zeline sayang!"
"Kok malah melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Entah berapa lama tadi Zeline sibuk dengan pikirannya, hingga dia tidak menyadari jika kini Nico bahkan sudah berbaring di tempat tidur.
"Melamun lagi."
"Oh tidak kok, hanya merasa cepat banget besok sudah mulai sekolah lagi aja, padahal rasanya baru kemarin libur."
"Kenapa memang? Tidak senang, padahal aku senang sekali sudah masuk sekolah lagi, karena dengan begitu aku bisa seharian ngeliat kamu."
"Gombal," wajah Zeline kembali merona.
Nico justru terkekeh, melihat ekspresi kekasihnya.
"Hmm ya udah sana tidur, biar besok tidak kesiangan bangunnya," Ucap Nico setelah cukup lama sama-sama diam dan hanya saling pandang.
"Mmm, kalau gitu udah dulu ya, tadi abang nyuruh aku turun."
"Iya selamat malam sayang."
"Malam."
__ADS_1
"Sayangnya mana?"
"Malam Sa…sayang."
"Jangan lupa mimpiin aku nanti kalau tidur."
"Ih Nico apaan sih."
"Hehehe, ya sudah aku tutup teleponnya ya? I love you."
"Hmm."
"Kok hmm doang sih, cinta aku nya mana?"
"Gak ada."
"Ya sudah kalau gak ada, aku gak mau tutup teleponnya."
"Ihhh Nico, jangan gitu."
"Makanya bilang cinta aku dulu, aku ulang ya, I love you Zeline sayang."
"Love you too Nico," Ucap Zeline lalu buru-buru mengakhiri panggilannya. Zeline melempar ponselnya di atas kasur, lalu memegang kedua pipinya yang terasa panas. Kemudian dia tertawa sendiri, menutup wajah dengan kedua telapak tangan dengan senyum yang tak pernah luntur. Hingga bunyi ketukan pintu mengingatkan Zeline bahwa dirinya sudah ditunggu oleh abangnya.
"Zeline ayo kita makan!" Teriak abang Zeline.
Zeline segera turun dari tempat tidurnya dan berlari menuju pintu lalu membukanya.
"Kok dikunci, nerima telepon dari siapa sih, sampe segitunya takut abang ganggu," Ucap Zhen begitu pintu terbuka dan Zeline kini sudah berdiri di hadapannya.
"Bu…bukan siapa-si…"
"Zeze kamu sakit?" Buru-buru Zhen menempelkan punggung tangannya di dahulu Zeline. Tapi Zeline dengan cepat menyingkirkan tangan Zhen.
"Zeze tidak apa-apa bang," Ucap Zeline lalu berjalan melewati Zhen begitu saja.
Zhen pun tersenyum, kini dia tahu siapa orang yang habis menghubungi adiknya. Dia lalu berbalik dan segera mengejar Zeline yang kini sudah lebih dulu meninggalkannya
*
*
"Tadi bang Zhen habis dari sini mbak?" Tanya Aga menatap kakaknya. Keduanya tengah makan malam bersama sambil menonton televisi.
"Iya," Jawab Risa dengan pandangan fokus pada layar di depannya.
Aga menatap kakaknya, dia sebenarnya tadi melihat Zhen dan kakaknya yang tengah berpelukan, tak ingin mengganggu keduanya, dia pun memilih pergi ke toko buku yang berada di sekitaran sana. Setelah melihat mobil Zhen pergi barulah Aga pulang.
"Mbak Risa tidak ajak bang Zhen makan dulu tadi?"
Risa menggeleng, dia lalu menoleh menatap Aga yang diam saja setelah melemparkan pertanyaan padanya.
"Abang mau makan malam sama Zeline," Jelas Risa.
"Mereka sudah baikan?"
__ADS_1
"Baikan? Maksud kamu?"
Aga merutuki dirinya sendiri dalam hati, harusnya dia tidak bertanya seperti itu, bagaimana jika kakaknya sampai tahu bahwa jika Zhen dan Zeline sempat bertengkar dan yang menjadi penyebab pertengkaran mereka adalah karena membicarakannya. Aga menghela nafas, lalu menatap Risa yang seperti menunggu jawaban darinya.