Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 24


__ADS_3

"Ayo makan!" Ucap Zhen begitu membuka pintu kamar adiknya dan melihat jika Zeline sekarang tengah bermain game seperti kebiasaannya dulu. 


Zeline memberengut, meletakkan ponselnya lalu melangkah gontai menghampiri abangnya.


Sedang Zhen yang melihat Zeline sudah bangkit dari posisinya, berjalan lebih dulu meninggalkannya.


"Abang tunggu dong!" Zeline segera berjalan cepat menyusul langkah Zhen, merangkul lengan pria itu agar melangkah bersama.


"Abang beneran tidak pergi lagi kan?"


"Tidak, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Hmm tidak apa-apa, hanya memastikan saja."


Keduanya kini sudah sampai di ruang makan, Zhen menarikkan kursi untuk adiknya, membiarkan adiknya duduk, barulah dia melakukan hal yang sama untuk dirinya yang kini memilih duduk di hadapan Zeline.


"Bibi, bukankah Zeze tadi bilang untuk masak makanan kesukaan Zeze, kenapa malah apa ini yang bibi masak?" Zeline menyendokkan makanan lali menurunkannya dari sendok yang diangkat tinggi perlahan.


"Zeze tidak mau, Zeze mau bibi masak seperti yang tadi Zeze minta!" Zeline menjatuhkan sendoknya kasar, hingga terdengar dentingan karena sendok itu jatuh di atas piring.


Zhen menghela nafas, melihat kelakuan adiknya.


"Apa yang terjadi? Kenapa sikap Zeline kembali seperti sikapnya yang dulu?" 


Sebenarnya sikap itulah yang membuat Zhen waktu itu memilih pergi, adiknya selalu berulah, membuat Zhen pusing, ditambah dengan masalah perselingkuhan kekasihnya, Zhen waktu itu hanya ingin menenangkan diri. Yang akhirnya dia nyaman dengan kesendiriannya dan melupakan hal tentang Zeline, tapi saat mendapat telepon dari bi Irma yang mengatakan jika Zeline berubah, Zhen memutuskan untuk kembali, dia ingin memastikan. Dan melihat adiknya yang memang berubah dan bertambah semakin dewasa, tak lupa juga dengan perasaan yang Zhen rasakan terhadap Zeline belakangan ini, yang ingin selalu di dekat Zeline, membuat Zhen pun memutuskan untuk tetap tinggal dan tidak akan pergi lagi, dia ingin menghabiskan waktu dengan Zeline, bahkan menebus waktu yang selama ini dibuangnya untuk gadis itu. Dan sikap Zeline kali ini membuat Zhen teringat kembali dengan sikap Zeline sebelum dirinya pergi.


"Zeze makan itu! Bibi sudah bersusah payah membuatkan untukmu," tegur Zhen.


"Bibi dibayar abang, jadi sudah sepatutnya bibi melakukan itu."


"Zeze!" 


Zhen menggebrak meja makan di hadapannya, kesal akan tingkah adiknya, ingatkan Zhen untuk bertanya pada sopir kemana saja tadi zeline pergi hingga begitu pulang, Zeline berubah lagi.


"Kenapa bang? Zeze hanya minta dibuatkan makanan kesukaan Zeze, tapi abang sampai marah seperti itu," ucap Zeline dengan air mata yang berjatuhan. 


Zeline memang anak yang manja, setiap keinginannya harus dituruti, jika tidak ya akan seperti itu. Mungkin itu adalah salah satu aksi protesnya karena kurangnya kasih sayang yang dia dapatkan.

__ADS_1


"Sudahlah Tuan, Non Zeze, mmm biar bibi buatkan, kalian tidak perlu berdebat lagi," ucap lirih bi Irma yang ikut merasa bersalah pada pertengkaran kakak dan adik itu. Padahal baru kemarin-kemarin bi Irma melihat keduanya yang tampak akur, kini justru bertengkar hanya karena masalah sepele.


Zhen meletakkan sendok dan garpunya kemudian berlalu pergi, dia harus meredakan emosinya terlebih dahulu, itu yang harus dia lakukan sekarang.


"Biar Tuan Zhen sendiri dulu Non," ucap bi Irma saat Zeline juga berdiri dan hendak berlalu pergi tapi urung saat mendengar larangannya.


Zeline pun kembali duduk sambil menunggu bi Irma yang mulai membuatkan makanan kesukaannya.


Tak lama makanan yang diinginkan Zeline sudah tersedia di atas meja. Zeline yang memang lapar karena sejak tadi belum makan dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan tidur, melahap makanannya hingga tandas.


Setelah itu, Zeline segera bangkit dan berlalu menuju kamarnya. Dirinya akan melanjutkan bermain game yang sempat tertunda tadi.


Sedangkan Zhen dia hanya diam di dalam kamarnya, sambil mengurut pangkal hidungnya yang berdenyut, dalam hati bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi hingga adiknya tiba-tiba berubah lagi. 


Setelah merasa dirinya cukup lama di dalam kamar, Zhen pun memutuskan untuk keluar kamarnya, dirinya harus memastikan keadaan Zeline, mengingat terakhir kali keadaan Zeline tidak baik-baik saja setelah memakan makanan yang dari dulu memang disukai adiknya itu.


Zhen menghentikan langkahnya di depan kamar Zeline saat mendengar gadis itu berteriak-teriak heboh, Zhen sangat jelas mendengarnya karena pintu kamar Zeline memang sedikit terbuka.


Zhen sedikit melongok mengenyit melihat Zeline yang biasa saja, tidak, Zhen tidak berharap adiknya kenapa-napa, dia hanya merasa heran saja.


"Tuan tadi…"


"Tidak apa-apa bi, Zeze juga baik-baik saja," jawab Zhen lalu melangkah pergi.


"Tuan mau kemana?"


Zhen menghentikan langkahnya, menoleh menatap bi Irma.


"Aku mau pergi dulu bi, mungkin aku tidak akan kembali malam ini," ucap Zhen melanjutkan langkahnya.


Bi Irma hanya menatap punggung Zhen dengan pandangan sendu.


*


*


Risa melihat ke sekeliling, setelah 8 jam perjalanan, akhirnya kini Risa telah sampai di kampung halamannya. Risa tersenyum saat seorang pria kini melambaikan tangannya. Risa kemudian menghampiri pria yang usianya jauh lebih muda 4 tahun darinya.

__ADS_1


"Sudah lama mbak?"


"Baru saja sampai."


"Ya sudah ayo!"


Pria itu memberikan helm pada Risa meminta untuk memakainya. Setelah terpakai, Risa segera naik ke boncengan. Sebelum akhirnya pria itu membawa Risa membelah jalanan yang masih cukup lenggang karena hari memang masih begitu pagi.


"Ibu bagaimana?" Tanya Risa mendekat agar pria yang memboncengnya mendengar apa yang dia katakan.


"Sudah lebih baik mbak, apalagi waktu ibu dengar mbak akan pulang."


"Kita langsung ke rumah sakit saja ya."


"Mbak tidak mau pulang dan istirahat dulu. Lagian di rumah sakit juga ada mba Raina dan suaminya yang jaga ibu. Mba Risa istirahat dulu saja, mbak pasti juga lelah."


"Tidak apa-apa, mbak gak capek kok."


"Ya udah," pasrah pria itu, membuat Risa tersenyum karena dia yang selalu menang berdebat dengan adiknya itu.


Risa mengusap pundak pria itu, lalu memeluknya dari belakang, apalagi saat hawa dingin menyusup ke tubuh Risa bahkan sampai ke tulang-tulang.


"Dingin mbak?"


"Hmm."


Pria itu hanya tersenyum dan mempercepat laju kendaraannya agar cepat sampai. Kasihan melihat kakaknya yang kedinginan.


Hingga tak lama, kini mereka sudah berada di parkiran rumah sakit. Risa memberikan helm yang tadi dipakai kepada adiknya. Lalu keduanya pun berjalan masuk bersama.


Setelah melewati beberapa lorong, akhirnya kini Risa sudah di depan ruang rawat ibunya.


"Ayo mbak masuk!" 


"Hah? Oh iya ayo masuk," ucap Risa begitu Aga adiknya membukakan pintu agar dirinya bisa masuk.


Dan begitu terkejutnya Risa saat dirinya masuk, tidak ada hanya ada kakak dan kakak iparnya saja yang menjaga sang ibu, tapi ada seseorang yang begitu Risa kenal juga ada disana.

__ADS_1


__ADS_2