
"Mau apa lo?"
Zeline menatap sapu yang dipegangnya lalu mengayunkannya.
"Hust! Sana pergi! Pergi!"
"Zeline!"
"Hah, ini mas ngusir nyamuk."
"Mana ada ngusir nyamuk pakai sapu," ucap Aga yang kini kembali melanjutkan kegiatannya.
Zeline yang kesal, justru menendang-nendang udara.
"Menyebalkan," gerutunya lalu meletakkan sapu yang tadi diambilnya dan kembali duduk.
Zeline melipat tangan di atas meja, menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangannya. Mendadak rasa kantuk menyapanya, dan perlahan kedua matanya terpejam.
Aga yang sudah selesai segera memindahkan masakannya ke piring. Lalu membawanya ke tempat Zeline.
"Yah malah tidur nih bocah," ucap Aga meletakkan piring, hendak membangunkan Zeline tapi tiba-tiba rasa tidak tega menyapa. Perlahan diangkatnya tubuh Zeline dan memindahkannya ke ranjang milik kakaknya.
Drt
Drt
Terdengar getar dari kantong celana pendek yang Aga kenakan. Dia segera keluar untuk menjawab telepon, jika disana dia takut justru mengganggu tidur Zeline.
"Halo Gib"
"Gue dapat kabar, kalau lo ada di ibukota."
"Hmm iya, gue main ke tempat kakak gue. Tau dari mana lo."
"Dari Irgi. Lo gak bilang kalo mau kesini, jika iya kan kita bisa bareng. Kemarin pagi gue juga balik, kangen suasana kota."
"Lah gue gak tau lo balik."
"Ya uda, selagi lo disini, ayo gue ajak keliling."
"Boleh deh. Gue siap-siap dulu, lo kirim lokasinya aja, nanti gue ke tempat lo."
"Lo aja yang kirim tempat tinggal kakak lo, nanti gue jemput."
"Ok deh, ya gue kirim nih ya."
"Oke, nih gue langsung otw."
"Hmm gue tunggu."
Setelah mengatakan itu, Aga pun mengakhiri panggilan teleponnya. Lalu segera masuk untuk bersiap.
Sampai di dalam, Aga terkejut saat melihat Zeline yang kini sedang melahap makanannya.
"Kok bangun."
"Cacing di perut pada demo, jadi gak nyenyak tidurnya."
Aga mengangguk, lalu segera memasuki kamar mandi. Tak butuh waktu lama, kini dia sudah kembali keluar. Aga hanya mengganti pakaiannya, karena sebelumnya dia memang sudah mandi.
__ADS_1
"Mas Aga mau kemana?"
"Mau pergi sama teman."
"Teman?"
"Hmm satu kampus, tapi dia berasal dari sini."
"Oh. Mau ikut boleh?"
"Tidak."
"Gak asyik," jawab Zeline yang kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Ponsel Aga kembali bergetar, Aga segera menjawab panggilan itu, rupanya sang teman yang menghubunginya dan mengatakan sudah di depan.
"Gue pergi dulu, jangan kemana-mana!" Peringat Aga, bagaimanapun Zeline disini adalah tanggung jawabnya. Terlebih kakaknya sudah menitipkan Zeline padanya untuk beberapa hari terutama selama Aga ada disini.
Aga mengacak rambut Zeline, sebelum akhirnya dia berlalu keluar, sedangkan Zeline langsung bangun dari duduknya lalu mengintip dari jendela. Penasaran.
Zeline terdiam menatap mobil yang kini perlahan menjauh. Setelah mobil itu menghilang, barulah Zeline kembali duduk, dan memeriksa ponselnya. Rupanya ada beberapa panggilan tak terjawab dari Risa. Dan saat dia mencoba menghubungi Risa kembali, nomor Risa justru tidak aktif.
*
*
"Dari siapa sih sayang, dari tadi ponsel kamu tidak berhenti berbunyi," kesal Zhen yang kini tengah menonton berdua dengan Risa, tapi mendapati ponsel Risa yang terus berbunyi, yang menurut Zhen sangat mengganggu mereka.
"Dari Nico bang."
"Yang ketua kelas itu, kenapa dia terus menghubungi kamu? Mengganggu saja."
"Ya aku tidak tahu bang, tapi tadi siang, aku lihat Nico bareng Zeline, mungkin itu yang membuatnya menghubungiku, kan ponsel yang sekarang aku pakai milik Zeline."
"Aku coba hubungi Zeline dulu ya, coba aku tanya."
Risa segera menghubungi Zeline, namun tidak mendapat jawaban sama sekali, yang ada hanya suara operator.
"Kenapa?"
"Tidak dijawab bang. Aku coba hubungi lagi ya," dan berkali-kali Risa kembali menghubungi, tetap sama, tidak mendapat jawaban, hingga Risa kemudian menghubungi Aga. Tapi adiknya justru bilang jika dia sedang tidak di rumah. Tapi dengan yakin, Aga mengatakan jika Zeline ada di rumah.
Dering ponsel Risa kini kembali terdengar, Risa menatap Zhen, kemudian menggeser ikon tombol hijau yang membuat Zhen mendengus kesal.
"Halo Nico."
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku? Di rumah."
"Aku di depan."
"Hah?"
"Aku di depan sayang. Kamu buka pintunya ya, aku bawa sesuatu."
"Sa…sayang?"
Zhen langsung mendelik saat mendengar ucapan Risa, pria itu menatap tajam Risa yang kini bangkit dan mengatakan sebentar padanya tanpa suara.
__ADS_1
"Iya, sayang, kamu tidak lupa kan jika hari ini adalah hari jadian kita."
Risa yang sudah sampai pintu menghentikan langkahnya spontan.
"Hei kenapa diam saja?"
"Zeline?"
"Ah iya, ini lagi jalan ke depan."
"Oh, oke aku tunggu."
"Kenapa?" Tanya Zhen yang ternyata mengikuti Risa.
Risa menurunkan ponsel lalu menatap Zhen dengan pandangan bingung.
"Sayang!"
"Bagaimana ini kak? Aku harus bagaimana sekarang?"
"Apa maksud kamu?" Zhen memegang kedua lengan Risa, menatap gurat gelisah dari tatapan mata gadis yang dicintainya itu.
"Zeline…Zeline dan Nico sudah resmi pacaran."
"Masuk, tidak perlu kamu temui dia," ucap Zhen yang tahu kemana akhirnya arah pembicaraan Risa.
"Tapi bang…"
"Tunggu apalagi? Biar abang yang akan temui dia."
Risa dengan cepat menahan tangan Zhen yang hendak membuka pintu.
"Tidak bisa seperti itu bang."
"Maksud kamu?"
"Bagaimana dengan perasaan Zeline? Zeline juga sepertinya menyukai Nico, jika sikap abang seperti itu pada Nico, dan membuat Nico menjauh dari Zeline, bukankah itu akan menyakiti perasaan Zeline."
"Jadi maksud kamu, kamu juga akan menggantikan Zeline untuk berpacaran dengannya begitu?"
Kecewa, itu yang Zhen rasakan, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Risa saat ini.
"Bukankah jika kamu seperti itu, kamu akan menyakiti abang," lirih Zhen yang kini memalingkan wajahnya.
"Bukan seperti itu bang." Aku hanya…"
"Terserah kamu saja."
Zhen menyingkirkan tangan Zeline dari tangannya, membuka pintu yang tadi sempat diurungkannya.
"Bang!"
Zhen tetap melangkah pergi meninggalkan Zeline, menghentikan langkah saat berpapasan dengan Nico, menyenggol bahu kekasih adiknya itu, sebelum akhirnya Zhen masuk ke mobil dan segera melajukannya meninggalkan pelataran kediaman Arlangga.
Risa hanya menatap sendu kepergian Zhen, Risa sungguh tidak bermaksud seperti itu, tapi Zhen bahkan tidak mendengarkan penjelasan dari Risa lebih dulu.
Nico juga terus menatap Zhen yang sepertinya tengah marah, dan begitu mobil Zhen sudah menghilang dari pandangan. Tatapan Nico beralih pada Risa yang dia sangka sebagai Zeline, lalu melangkah cepat menghampirinya. Tanpa banyak kata, Nico segera menarik Zeline ke dalam pelukannya, hatinya ikut sakit melihat kesedihan yang terpancar jelas dari sorot mata sang kekasih.
"Abang kamu mungkin hanya perlu waktu untuk sendiri," ucap Nico yang bisa mengerti jika kedua kakak beradik itu yang sepertinya habis bertengkar.
__ADS_1
Tangis Risa pecah, dia sedih melihat Zhen yang marah padanya. Tanpa membalas pelukan Nico, Risa menumpahkan tangisnya di pelukan pria itu. Tapi tiba-tiba Risa segera melepas pelukan Nico, mundur beberapa langkah menundukkan kepalanya, saat melihat seseorang menghampirinya dengan wajah penuh amarah.
"Apa yang kau lakukan?"