Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 18


__ADS_3

Risa mengerjapkan matanya kala merasa sinar matahari mengusik tidurnya melalui celah jendela. Dirinya kemudian merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, dan begitu membuka mata, dia terkejut saat mendapati wajah tampan Zhen yang tepat berada di depan wajahnya.


Dengan perlahan, Risa menyingkirkan tangan Zhen dari tubuhnya.


"Mau kemana?" Risa menoleh, hingga tatapannya bertemu dengan Zhen yang ternyata juga tengah menatapnya.


"Zeze mau mandi abang, Zeze kan harus sekolah."


"Abang sudah izin ke sekolah, lagian kamu baru saja sembuh, abang tidak ingin terjadi sesuatu padamu, sementara abang tidak ada di sampingmu."


"Di sekolah, kan ada teman-teman Zeze."


Mendengar kata teman, membuat Zhen langsung bangun dari tidurannya, duduk dan menggeser tubuh Risa dengan mudahnya hingga kini berhadapan dengannya.


"Teman kamu yang para lelaki itu? Tidak, abang tidak akan mengizinkan mereka menyentuhmu, hanya abang yang boleh menyentuhmu, ingat, hanya abang!" Ucap Zhen tegas tak ingin dibantah.


"Tapi abang…"


"Kenapa?"


"Nanti Zeze bisa ketinggalan pelajaran, sebentar lagi ulangan semester."


"Biasanya saja kamu bela-belain bolos agar tidak mengikuti pelajaran, apa itu hanya alasan kamu saja agar bisa bertemu mereka."


"Kok abang ngomongnya gitu? Aneh banget tahu, tadi bilang tidak akan mengizinkan Zeze di sentuh sama orang lain, hanya abang, sekarang abang bilang alasan Zeze ke sekolah hanya untuk bertemu mereka," kesal Risa dengan ucapan abangnya.


"Terus maksud kamu ucapan abang salah?"


"Ya jelas salah lah, Zeze ke sekolah itu, karena harus belajar, bukan seperti yang abang tuduhkan tadi."


Melihat wajah kesal adiknya, Zhen pun menghembuskan nafasnya perlahan.


"Hari ini saja, istirahat dulu ya, abang masih khawatir sama kamu, hanya kamu yang abang miliki saat ini."


Mendengar ucapan Zhen, Risa pun akhirnya mengangguk.


"Ya sudah, Zeze tetap mau turun, mau mandi dulu."


"Nanti saja, ayo tidur lagi saja. Mumpung abang hari ini juga izin tidak ke kantor, abang ingin tidur memeluk kamu seharian," ucap Zhen dengan senyum miringnya.


"Abang ih, apa-apaan coba ngomongnya, sudah ah, Zeze mau mandi," ucap Risa yang sebenarnya memang sengaja menghindar bahkan mengalihkan wajahnya yang pastinya sudah semerah tomat, tidak ingin Zhen melihatnya.


Baru saja akan turun, tubuh Risa kembali limbung saat merasa seseorang menariknya, hingga terjatuh di atas tubuh  Zhen, siapa pelakunya tentu, Zhen sendiri."


"Abang…"


"Kenapa?"


"Lepas!"


"Kalau abang tidak mau."


"Abang, Zeze…"

__ADS_1


Cup


Belum selesai berucap, Risa melotot saat Zhen lagi-lagi menciumnya tiba-tiba. 


"Abang!"


"Kenapa? Suka?"


"Tidak," ucapannya Risa tidak seperti dengan gerakan kepalanya saat ini, mengangguk.


"Benar?"


Risa menggeleng, tapi menjawab tidak, membuat Zhen terkekeh.


"Rupanya hati dan mulutmu berbeda ya," ledek Zhen yang mendapat tepukan pelan di bahunya. Bukannya marah, Zhen justru tertawa. 


Terpesona, itulah yang Risa rasakan saat ini saat melihat tawa Zhen yang begitu lepas, dan ini pertama kalinya saat dia menjadi Zeline.


"Kenapa menatap abang seperti itu? Jangan bilang jika kamu terpesona melihat ketampanan abang," ucap Zhen mencolek hidung Risa.


"Kegeeran."


"Abang tidak geer, abang tampan itu memang faktanya," jawab Zhen penuh percaya diri.


"Terserah abang deh, sudah ah, lepasin Zeze!"


"Tidak akan."


"Abang!"


Zhen mengelus lembut rambut Risa, kemudian pada pipi gadis itu, membuat Risa hanya diam tak berkutik, gugup tentu saja, tapi…"


Cup


"Jangan melamun."


"Siapa juga yang melamun?" Ucap Risa menahan tubuh Zhen yang semakin turun ke bawah, Risa bernafas lega, saat Zhen ternyata menjatuhkan tubuhnya, di sisi ranjang samping Risa.


Keduanya sama-sama terdiam, mengontrol jantungnya yang berdebar lebih kencang dari biasanya sambil menatap langit-langit kamar Risa, pikiran keduanya sepertinya sama-sama tidak tempat.


"Zeze!" Panggil Zhen setelah cukup lama terdiam.


"Hmm."


"Abang mau terus seperti ini sama kamu," ucapnya setelah berpikir jika dia harus mengatakan hal itu pada Risa.


Risa menoleh, menatap Zhen yang masih dengan pandangannya ke atas.


"Maksud abang?" Tanya Risa yang memang tidak mengerti arti ucapan Zhen.


"Seperti yang tadi kita lakuin, tidur bersama sambil saling memeluk, abang bisa mencium kamu kapanpun abang mau."


"Abang…"

__ADS_1


"Abang tidak tahu Ze, hati abang ingin seperti itu, abang tidak mau jauh dari kamu, abang tidak suka kamu dekat anak laki-laki lain. Abang benar-benar tidak suka," ucap Zhen yang berawal dengan menggebu-gebu dan kini berganti lirih.


"Tapi bang…"


"Abang tau salah, tapi abang juga tidak tahu, kenapa abang ingin selalu berada di dekatmu."


"Bukan itu bang, tidak masalah perasaan itu, karena aku bukan adik abang, aku Risa bukan Zeline," ucap Risa namun hanya dalam hatinya.


"Zeze!" Zhen merubah posisinya miring menatap Zeline menunggu jawaban dari gadis itu.


"Abang Zeze…"


Tok


Tok


Suara ketukan pintu, membuat Zeline bernafas lega, setidaknya dia bisa menghindar dari pertanyaan Zhen yang ingin segera mendapatkan jawabannya.


Zeline akan turun, tapi Zhen mencegahnya.


"Biar abang saja," ucapnya lalu melangkah ke arah pintu.


"Kenapa bi?"


"Ada Bima di bawah Tuan."


"Baiklah, suruh Bima tunggu!"


"Iya Tuan," jawab Bi Irma yang segera melakukan perintah Tuannya.


Bi Irma tidak heran ataupun curiga karena Zhen berada di kamar Zeline, semalam Zhen yang terbangun dan mendapati adiknya tidur di sofa segera memindahkannya, Zhen melihat persediaan air minum di kamar adiknya habis, Zhen kemudian melangkah keluar untuk mengambilnya ke dapur. Di dapur, Zhen berpapasan dengan Bi Irma yang memang juga ke dapur untuk mengambil minum. Dan saat itu, Zhen mengatakan jika dia tidur di kamar Zeline untuk menjaganya. Dan bi Irma yang memang tahu Zhen sangat menyayangi adiknya pun mengangguk mengerti karena sedari dulu, disaat Zeline sakit, Zhen lah yang selalu menemaninya.


Zhen pun turun setelah mencuci mukanya dan tentunya berpamitan pada sang adik tercinta untuk menemui Bima, pria yang bekerja sebagai sekretarisnya.


Setelah cukup lama membicarakan pembicaraan, Zhen kembali ke kamarnya, dia segera membersihkan diri dan bersiap mengenakan setelan jas nya, dia harus pergi, karena kata Bima ada pekerjaan yang harus membuatnya turun tangan.


"Abang pergi dulu ya, kamu di rumah saja, istirahat!" Zhen mengacak rambut Zeline yang kini tengah duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Hmm."


"Jangan kemana-mana."


"Iya abang!"


Cup


Sebelum pergi, Zhen mencuri kesempatan untuk kembali mengecup bibir Risa yang kini sudah menjadi candunya.


Merasa tidak mendapat penolakan dari Zeline. Zhen kini menarik tengkuk Zeline dan menciumnya cukup lama, ya walaupun Zeline tidak membalas ciumannya, tapi Zhen senang saat gadis itu tidak menolaknya.


"Abang pergi dulu," ucap Zhen sambil membersihkan sisa saliva di bibir manis Zeline.


Zeline hanya mengangguk, tidak bisa berkata-kata, masih saja merasa shock jika Zhen tiba-tiba menciumnya.

__ADS_1


__ADS_2