Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 39


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Zeline mengikuti ulangan semester. Kini dia sudah selesai dan keluar kelas, Nico yang sudah lebih dulu keluar, buru-buru menghampiri Zeline yang kini berjalan keluar sekolah


"Zel!"


Risa menoleh dan tersenyum pada Nico.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Bagaimana?"


"Hmm lancar, bisa mengerjakan semuanya."


"Syukurlah, oh ya Zel apa hari ini ada acara jika tidak, maukah kamu…"


"Zeze!" Risa tersenyum saat melihat seseorang melambaikan tangan padanya.


"Maaf Nico untuk hari ini tidak bisa, abang sudah jemput, kalau gitu gue balik dulu ya, by Nico," ucap Risa sekalian berpamitan pada Nico yang terlihat kecewa, padahal hari ini, Nico memutuskan untuk mengatakan sesuatu yang penting pada Zeline.


"Bagaimana?" Nico menoleh ke kanan dan kirinya pada dua orang yang tiba-tiba merangkulnya.


Nico hanya mengedikan kedua bahunya acuh, lalu menyingkirkan tangan keduanya. Berjalan mendahului mereka.


"Jadi lo tidak berhasil nembak Zeline?" Tanya Evan, padahal tanpa bertanya pun, harusnya Evan sudah tahu jawabannya.


Nico mendengus, tak berniat menjawab pertanyaan Evan yang sudah bisa ditebak.


"Selagi ada abangnya Zeline, gue rasa itu akan sulit. Kalian lihat sendiri bagaimana posesifnya bang Zhen, bahkan kadang gue ngira kayak bang Zhen itu suka sama Zeline, tapi setelah gue pikir lagi, tidak mungkin juga, kan mereka saudara dan mungkin bang Zhen memang hanya ingin menjaga Zeline. Apalagi saat mendengar cerita Zeline bahwa selama ini mereka hanya hidup berdua. Bang Zhen sudah menjadi ayah, ibu, abang juga teman Zeline."


Rio hanya geleng-geleng kepala mendengar celotehan Evan.


"Tapi gue gak akan nyerah, mungkin sekarang gue belum ada kesempatan, tapi sekali gue punya kesempatan gue akan gunakan itu sebaik-baiknya," ucap Nico yang mendapat tepukan di kedua bahunya.


"Semangat," ujar keduanya lalu pergi meninggalkan Nico sendiri.


Sementara itu, Zeline kini mendapat traktiran dari Zhen karena akhirnya sudah berhasil melewati salah satu rintangan. Zhen membawa Zeline ke restoran favoritnya. Restoran yang berjarak cukup jauh dari rumah mereka.


"Jadi bener nih bang Zeze bisa makan sepuasnya?"


"Iya sayang, sudah berapa kali kamu nanya seperti itu sama abang."


Zeline hanya nyengir lalu mengambil ponsel karena ada bunyi notifikasi pesan masuk.


"Siapa?" 


"Hah?" Risa yang tadi fokus membalas chat dari Zeline terkejut mendengar pertanyaan abangnya.

__ADS_1


"Teman bang, biasa nanya kapan ada waktu dan kemana akan menghabiskan waktu libur," jawab Zeline lalu memasukkan ponsel ke dalam tas nya.


"Kamu tidak boleh lengah sayang, kamu tahu libur yang akan datang adalah waktu yang sebenarnya yang harus kamu persiapkan untuk pertempuran selanjutnya, jadi jangan senang dulu, karena setelah ini masih banyak hal yang harus kamu lewati sebelum akhirnya kamu bisa lulus."


"Iya abang, Zeze tahu kok, dan abang tidak perlu khawatir karena Zeze sudah menolak ajakan mereka."


"Bagus, itu baru adik abang." Ucap Zhen mengacak rambut Zeline yang tentunya membuat wajah gadis itu menjadi cemberut.


"Kebiasaan banget abang, suka berantakin rambut Zeze," protesnya yang hanya disambut gelak tawa Zhen.


"Sudah sampai, ayo turun! Uda gak usah cemberut gitu, nanti cantiknya ilang."


"Biarin, walaupun ilang, abang pasti juga tetep suka sama Zeze."


"Haha, percaya diri sekali Anda."


"Iya dong harus," Zeline menjulurkan lidah lalu segera turun dan berlari masuk terlebih dahulu meninggalkan Zhen yang kini justru baru turun dari mobilnya.


Zhen menggeleng melihat tingkah adiknya. Dia segera menyusul masuk, melihat sekitar kemudian melangkah saat melihat Zeline melambaikan tangan padanya.


Zhen tersenyum lalu berjalan menghampiri Zeline. Tapi baru beberapa langkah...


Brak


"Maaf."


"Sekali lagi, saya minta maaf."


"Tidak apa-apa," ucap Zhen menyerahkan ponsel wanita itu.


Tatapan keduanya bertemu, tapi Zhen lebih dulu memutus pandangan mereka.


"Zhen?"


"Maaf Anda salah orang," Zhen berjalan cepat meninggalkan wanita itu.


"Tunggu Zhen!" 


Zhen menepis tangan wanita yang dengan beraninya memegang tangannya.


"Jangan menyentuh saya!"


"Sorry."


Zhen kembali melangkah pergi tapi wanita itu justru menghadang langkah Zhen.

__ADS_1


"Kau masih marah Zhen? Atau mungkin kau masih mencintaiku dan kau belum rela melepaskanku."


Zhen menatap wanita itu dari atas sampai bawah, lalu tersenyum miring.


"Justru aku merasa muak melihat Anda, makanya aku ingin cepat-cepat menjauh, tapi Anda justru terus menahan saya. Atau sebenarnya mungkin Anda lah yang menyesal?"


"Aku? Mana mungkin? Kau tidak tahu kekasihku sekarang bukan? Jika kau tahu, mungkin kau akan terkejut, dan aku tidak pernah menyesal meninggalkanmu karena yang sekarang aku dapatkan jauh lebih baik darimu."


Zhen kali ini benar-benar pergi meninggalkan wanita itu begitu saja dan mendekat ke meja Zeline.


"Abang? Abang baik-baik saja?"


Zeline menatap abangnya yang baru datang, juga memasang wajah datar.


"Kita pulang saja!" Ucap Zhen meraih tangan Zeline dan membantunya bangun, mengajak pergi dari sana.


"Kenapa?" Risa mendongak dengan pandangan yang tak lepas dari Zhen.


"Tidak apa-apa, abang tidak lapar, ayo kita pulang sekarang!"


"Tapi Zeze sudah pesan abang."


Zhen menoleh menatap adiknya, lalu melepaskan tangan Zeline, mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa uang berwarna dari sana, meletakkan di atas meja lalu menarik Zeline agar segera keluar dari restoran itu. 


"Sebenarnya abang kenapa? Ada masalah?" Tanya Zeline saat mereka berjalan menuju mobil.


"Abang hanya sudah tidak punya selera makan lagi."


"Tapi abang, Zeze…."


"Masuk!" Perintah Zhen begitu pria itu membukakan pintu mobilnya.


Risa menghela nafas dan mengusap perutnya, "Tapi aku yang lapar," gumamnya sambil melihat ke arah Zhen yang menutup pintu dam berjalan memutari mobil. 


Begitu masuk, Zhen segera melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Abang pelan-pelan!" Peringat Risa tapi sama sekali tidak digubris oleh Zhen.


Perjalanan yang biasanya memakan waktu 20 menit kini 10 menit sudah sampai. Zhen menghentikan mobilnya sembarangan dan berlalu masuk. Bahkan sepertinya pria itu tak ingat jika saat ini dia sedang bersama dengan adiknya.


Risa berlari menyusul Zhen dan menarik tangan pria itu, hingga Zhen otomatis menoleh ke belakang.


"Abang sebenarnya kenapa? Karena wanita tadi abang jadi seperti ini? Abang sampai abaikan Zeze, abang juga cuekin Zeze, abang batalin janji abang ke Zeze karena dia? Rupanya dia jauh lebih berarti ya dari Zeze, sampai kehadirannya langsung menarik perhatian abang dan membuat abang berubah dalam waktu sekejap. Zeze benar-benar tidak menyangka."


Setelah mengatakan itu, Risa segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Risa menutup pintu dan menguncinya, diabaikan oleh Zhen sungguh membuat hatinya merasa sakit, terlebih saat melihat berubahnya Zhen karena mantannya.

__ADS_1


"Sebenarnya abang anggap aku ini apa?" 


__ADS_2