Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 32


__ADS_3

"Mbak!"


"Mbak Risa bangun!"


Aga menggoyang-goyangkan lengan Risa yang masih tidur begitu pulas. 


Merasa tak juga mendapat jawaban, Aga pun berjalan ke arah kamar mandi, dibukanya pintu yang tertutup itu.


Tidak dikunci, tapi air sudah meluber kemana-mana, Aga mematikan kran lalu kembali berjalan ke arah ranjang.


"Mbak bangun! Jadi tidak ikut jemput ibu, kalau tidak jadi, aku berangkat lagi nih sekarang," Aga kini beralih menepuk-nepuk pipi Risa membuat kedua mata gadis itu kini mengerjap.


Risa langsung refleks bangun dan menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Siapa lo? Jangan dekat-dekat!" Teriak Risa menatap horor Aga.


Aga mengernyit, menempelkan punggung tangannya di dahi Risa yang langsung di tepis gadis itu.


"Normal kok." Ucapnya yang memang sempat memeriksa suhu badan kakaknya.


"Siapa lo? Pergi sana! Atau jangan-jangan kau mau mencuri."


Aga tergelak, "Mbak ini kenapa? Ngimpi? Atau lagi belajar akting? Dan…"


Tuk


Aga menyentil dahi Risa.


"Gak ada mbak kalau mau nyuri, bangunin yang punya rumah. Sudah cepat mandi! Kasihan ibu nanti nungguin kelamaan. Oh iya


dari kapan mbak nyalain air, sampai meluber-luber gitu. Mbak...mbak...kelelahan membuatmu sampai lupa, dari kemarin-kemarin disuruh istirahat malah gak mau. Sudah cepat siap-siap, Aga tunggu di kamar ya, nanti kalau uda samperin Aga aja," Aga turun dari ranjang Risa lalu berjalan menjauh.


"Kumpulin nyawa dulu, sampai bengong gitu diajakin ngomong," setelah mengatakan itu, barulah Aga keluar dari kamar Risa, tidak lupa pria itu menutup pintu kamarnya.


"Sorry...sorry Ze, itu Aga. Adik mbak!"


"Ya ampun...mbak Risa ngagetin aja." Zeline sampai berteriak terkejut karena Risa yang baru saja keluar dari lemari.


"Sudah kamu tidur lagi aja, aku mau siap-siap dulu," kata Risa yang kembali masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa pakaiannya.


Sementara Zeline, dia yang bingung hanya duduk diam menatap Risa yang tak lama keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapi.


"Mbak pergi dulu," Risa buru-buru keluar dari kamar tidak ingin Aga kembali masuk.


"Loh mbak Risa sudah siap?"


"Iya."


Aga mendekat menajamkan penciumannya, sementara Risa mundur dan mendorong tubuh Aga.


"Ngapain kamu?"

__ADS_1


"Ngecek mbak mandi gak."


"Mandilah, sembarangan aja. Ya sudah ayo, tadi minta cepat-cepat."


"Ya bentar, ambil jaket dulu."


"Mbak tunggu di depan."


"Iya."


Sambil menunggu Aga, Risa lebih dulu ke depan. Mengambil ponsel dan memainkannya, untuk mengurangi rasa bosannya. 


"Ayo!"


Risa mengangguk, memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, naik ke boncengan Aga, membiarkan Aga mulai melajukan motornya.


Tanpa Risa tahu, jika saat ini Zeline sedari tadi memperhatikannya diam-diam dari balik tirai kamarnya.


"Sepertinya rasanya menyenangkan," ucap Zeline dengan pandangan sendu menatap Risa hingga kedua kakak beradik itu menghilang dari pandangan, rasa iri tiba-tiba menyusup dalam hati kecil Zeline melihat keakraban Risa dan Aga. Dalam hati berpikir, entah kapan dirinya akan bisa seperti itu, memiliki sebuah keluarga yang begitu hangat walaupun tinggal di rumah sederhana, tak seperti dirinya.


*


*


Risa menunggu sopir menunggunya, dirinya sudah sampai sekitar lima menit yang lalu, dia mengedarkan pandangan dan berhenti saat melihat pria paruh baya yang selalu mengantarkan dia kemanapun selama dia menjadi Zeline melambaikan tangan padanya.


Risa berjalan mendekat dan segera masuk ke dalam mobil.


"Iya Non?"


"Bapak apa kabar?"


"Hah, oh itu bapak sehat Non, oh ya, katanya Non Zeze mau menginap di rumah teman sampai besok, hari ini sudah pulang?"


"Hmm iya pak, tidak enak. Tapi kenapa pak? Bapak tidak senang ya Zeze pulang?"


"Ti...tidak Non, bu...bukan gitu."


Risa yang mendengar suara gagap sopirnya tergelak.


"Bercanda pak, serius banget," ucapnya yang membuat pak sopir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung lebih tepatnya, tapi pandangannya berubah sendu.


"Kemarin aku pergi, apa abang pulang pak?"


Sopir itu terdiam, membuat Risa tahu tanpa pria paruh baya itu menjawab pertanyaannya.


Risa lalu mengalihkan pandangan keluar jendela. Tadi sehabis menjemput ibunya, Risa langsung pamit ke kamar, meminta Zeline untuk menemui keluarganya dan makan bersama, sementara dirinya keluar lewat jendela dan segera menuju bandara, Risa memutuskan untuk naik pesawat, dirinya sudah memesan tiket saat setelah Zeline menghubunginya dan mengatakan jika gadis itu akan ke kampung halamannya.


"Non!"


"Non Zeze!"

__ADS_1


"Hah iya pak?"


"Sudah sampai Non."


Risa menatap sekitar, dan benar saja, dia telah sampai di rumah besar yang belakangan ini menjadi tempat tinggalnya. Lalu turun, setelah sopir membukakan pintu untuknya. Risa hendak melangkah, tapi pandangannya tertuju pada mobil milik abang Zeline yang sudah terparkir rapi di halaman.


"Ini…" 


"Sepertinya Tuan Zhen pulang Non."


Mendengar itu, Risa langsung berjalan cepat bahkan sampai berlari agar segera masuk ke rumahnya, membuat sang sopir menggeleng tapi tak surut membuat seulas senyum di sudut bibir pria paruh baya itu. Merasa ikut senang, melihat nona nya.


"Abang!"


"Bibi, abang mana?" Tanya Risa begitu masuk dan justru berpapasan dengan bi Irma.


"Abang Non ada di kamar, tadi begitu pulang, abang Non langsung ke kamarnya.


"Baiklah, makasih bi." 


Risa menaiki tangga menuju ke kamar Zhen. Risa membuka pintu, dan mendapati Zhen yang duduk di lantai bersandar pada ranjang, dengan kepala yang menunduk, satu kaki selonjor, sementara satunya ditekuk lututnya.


Risa merasa sedih melihat keadaan abangnya, tapi tiba-tiba merasa sesak saat mendengar cerita Zeline, bahwa mungkin saja abangnya berubah menjadi dingin lagi karena bertemu dengan mantan kekasihnya. 


Perlahan Risa berjalan mendekat, duduk bersimpuh, tangannya terangkat mengusap rambut Zhen, membuat pria itu mengangkat kepala dan menatapnya.


"Abang…"


Zhen menatap ke dalam bola mata Risa, dan dengan gerakan layaknya sebuah video yang dipercepat, Zhen menarik tengkuk Risa dan mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. Risa yang masih shock hanya diam. 


Zhen menarik Risa hingga kini duduk di pangkuannya tanpa melepas pagutan keduanya. Risa yang terbuai kini membalas ciuman Zhen bahkan kedua tangannya sudah melingkar indah di leher pria itu.


Zhen menempelkan keningnya di kening Risa saat ciuman mereka terlepas, keduanya bahkan seperti tengah berlomba meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Abang kangen," ada perasaan menggebu saat Zhen mengatakan itu kali ini. Berbeda dengan beberapa hari terakhir, dan rasanya seperti saat dirinya baru pertama kembali dan bertemu Risa.


"Abang…"


Zhen menarik Risa ke dalam pelukannya.


"Abang…"


"Biarkan seperti ini Zeze."


Risa hanya mampu terdiam saat merasakan pelukan erat Zhen.


"Zeze juga merindukan abang, sangat…," lirih gadis itu yang juga tidak bisa memungkiri perasaannya.


Zhen melonggarkan pelukannya, menatap adiknya,


"Zeze…"

__ADS_1


Zhen kembali mendekatkan wajahnya, kedua bibir sepasang manusia itu kembali menyatu, menyalurkan perasaan rindu yang sama-sama menggebu di hati keduanya.


__ADS_2