
"Loh abang mau berangkat hari ini?"
Zhen mengecup kening Risa lalu menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
"Iya sayang, ada rapat penting dan abang tidak bisa jika tidak datang, lagian abang juga sudah sehat dan ini berkat kamu sayang, kamu sudah ngerawat abang, rupanya kamu memang sudah dewasa," Zhen mengacak rambut Risa membuat gadis itu cemberut karena harus merapikan rambutnya kembali.
"Abang ih kebiasaan deh. Suka banget ngacak-ngacak rambut Zeze."
Bi Irma yang menyajikan makanan untuk kedua kakak beradik itu, ikut tersenyum, setelah beberapa hari yang lalu sempat perang dingin akhirnya wanita paruh baya itu kembali melihat wajah ceria nona nya.
Zeline hendak merapikan rambutnya, tapi Zhen justru mencegahnya. Pria itu mengambil sesuatu di kantong jas nya, membuat Risa penasaran bahkan sampai menyipitkan mata, sebenarnya apa yang sedang pria itu ambil.
"Ini dia…"
Zhen menunjukkan sebuah gelang rambut, menarik kursi Risa agar semakin dekat dengan posisinya. Risa menahan nafas saat wajah Zhen mendekat padanya. Bahkan Risa sampai memalingkan wajahnya, tapi dengan cepat, Zhen justru menarik dagu Risa hingga keduanya kini saling bertatapan.
Tangan Zhen terulur mengumpulkan helaian rambut Risa, menjadikan satu lalu mengikatnya dengan gelang rambut yang entah pria itu dapatkan dari mana.
"Hmm begini jauh lebih baik," ucap Zhen sambil tersenyum manis, membuat mata Risa tidak berhenti berkedip.
"Sayang!"
Zhen menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah Risa barulah lamunan gadis itu kini buyar.
"Hah iya abang?"
"Habiskan makananmu, nanti abang antar kamu ke sekolah."
"Oh...ah..iya."
Lalu dengan cepat Risa segera menghabiskan makanannya.
"Pelan-pelan sayang!"
"Tuadi uabang suruh cepat-cepat!" Ucap Risa dengan sedikit kesusahan karena mulutnya yang penuh.
"Telan dulu sayang, nanti…"
"Uhuk...uhuk…"
Belum juga menyelesaikan ucapannya, Risa sudah lebih dulu tersedak. Zhen buru-buru mengambilkan minum untuk adiknya yang langsung diteguk oleh Risa. Sementara Zhen mengelus punggung adiknya agar merasa lebih baik.
"Abang bilang pelan-pelan."
Risa justru menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Sudah kenyang," ucap Risa lalu berdiri dan mengambil tas nya.
"Tunggu abang bentar!" Teriak Zhen saat melihat adiknya sudah meninggalkan ruang makan lebih dulu.
__ADS_1
"Iya, Zeze tunggu di depan!" Risa juga ikut berteriak, bukan karena apa, tapi dirinya hanya takut Zhen tidak mendengar jawaban nya.
Zhen tersenyum, mengambil jas yang tadi disampirkan di sandaran kursi bergegas menyusul Zeline.
Begitu sampai di mobilnya, Zhen tersenyum saat Zeline sudah duduk tenang di kursi samping kemudi. Dia berlari kecil ke kursi kemudi lalu segera masuk dan melajukan mobilnya.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Tidak bagaimana-bagaimana bang, biasa saja."
"Tidak ada kesulitan? Kalau ada kamu bisa tanyakan sama abang."
Risa menoleh dan tersenyum. "Hmm abang tenang saja," setelah mengatakan itu, Risa sibuk berkirim pesan dengan Evan.
"Zeze!"
"Iya abang."
Cukup lama Risa menunggu Zhen berbicara, tapi pria itu hanya diam saja setelah memanggilnya.
Risa memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu sedikit menggeser posisinya agar menghadap ke arah Zhen.
"Kenapa abang?"
Zhen justru menggeleng membuat Risa semakin menyipitkan matanya. Bagaimana tidak apa-apa, padahal jelas-jelas tadi abang Zeline itu memanggilnya.
"Kenapa lihatin abang seperti itu? Terpesona kah? Atau jangan-jangan…"
"Jangan-jangan apa, jangan ngaco deh," ucap Risa yang kemudian melepas seatbeltnya.
Tapi ketika gadis itu hendak membuka pintu, Zhen menahannya.
"Zeze dengarkan abang! Abang tidak menuntut kamu untuk mendapatkan yang sempurna nanti, abang tau kamu sudah berusaha dengan keras, tapi jika semua tidak sesuai harapan kamu, jangan kecewa dan berkecil hati, jika tidak bisa kali ini, mungkin bisa lain kali, mengerti!"
Zeline mengangguk dengan senyumannya, mengecup pipi Zhen cepat sebelum akhirnya gadis itu segera membuka pintu dan berlari cepat meninggalkan mobil abangnya.
Zhen tertawa kecil melihat adiknya, "Menggemaskan!" Ucapnya lalu pandangannya tertuju pada Risa yang kini dirangkul oleh dua orang pria yang dikenalnya.
"Andai saja kamu bukan adik abang…" Zhen buru-buru menggelengkan kepalanya lalu kembali melajukan mobil ke kantor, dirinya ada rapat dan tak ingin sampai terlambat.
*
*
"Bagaimana?"
Risa berjalan melewati Rio dan Evan lalu duduk di bangkunya. Tadi dia dipanggil wali kelasnya menanyakan nilainya yang kembali turun beberapa hari yang lalu.
"Tidak bagaimana-bagaimana. Oh ya, pinjam buku lo dong, gue mau nyalin catatan kemarin saat gue tidak masuk," ucap Zeline pada Rio, karena Rio lebih bisa diandalkan daripada Evan, soal mencatat.
__ADS_1
"Tuh kemarin baru lo. Bolos juga tidak bisa mengerjakan tugas guru, kenapa? Atau pura-pura bo*doh lagi."
Rio, Evan dan Risa spontan menoleh ke seseorang yang baru saja masuk, seorang gadis cantik yang kini bersedekap dada, menatap Risa dengan pandangan meremehkan.
Evan langsung bangkit dari duduknya, tapi Rio dengan segera menahannya.
"Bukan urusan kalian, lagian apa sih yang sebenarnya kalian inginkan? Nilai gue bagus, kalian bilang gue nyontek, giliran gue ngasih kesempatan ke kalian mendapatkan nilai tertinggi di kelas, kalian marah, heran banget deh gue."
"Lo...berani...berani lo sama gue?"
"Ya gue berani, lagian memangnya kenapa sampai gue gak berani. Kita sama-sama makan nasi kan?"
Renata gadis itu, mengepalkan kedua tangannya, menghentak-hentakkan kakinya kasar lalu segera melangkah pergi menuju bangkunya, apalagi saat jam masuk setelah istirahat sudah berbunyi. Bagaimanapun, Renata seorang siswi yang selalu menjaga nama baiknya, dia tidak mau sampai ada masalah sedikitpun di sekolah.
Tak lama guru pun masuk dan pelajaran pun akhirnya dimulai. Kali ini, Risa benar-benar fokus, karena pertukaran dengan Zeline kembali kemarin, nilainya kembali turun, Risa akan berusaha mengejar ketertinggalannya.
"Lo gak ada contact sama Nico, Zel?" Tanya Evan setelah jam pelajaran mereka telah usai dan kini dirinya sedang menunggu Zeline yang sedang berkemas.
"Hmm tidak, kenapa emang?" Ucap Risa yang berpura-pura tidak tahu. Tapi Nico memang tidak mengirim pesan apapun padanya.
"Dia tidak masuk dari kemarin. Mungkin saja dia sakit, atau kita jenguk ke rumahnya?"
"Memangnya lo tahu dimana rumahnya?" Sahut Rio menghentikan aktivitasnya bermain game.
Evan justru menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memberikan cengiran nya.
"Mana gue tahu, waktu kita mau ke rumah Zeline kan kita ketemuan di jalan depan."
"Ya udah, kita tanya guru aja."
"Jangan!" Ucap Risa cepat dan sedikit berteriak untungnya di dalam kelas, kini tinggal mereka bertiga.
"Kenapa?" Tanya keduanya bersamaan.
"Hah? Ya tidak apa-apa, mungkin saja...mungkin Nico tidak ada di rumah...iya bisa jadi dia sedang tidak ada di rumah atau mungkin dia sedang berada di tempat saudaranya," jawab Risa lalu segera bangun dan meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Rio dan Evan segera mengejar Zeline yang kini sudah keluar kelas. Bahkan Rio sampai menghadang jalan Zeline.
"Kau tahu sesuatu kan?" Tanya Rio memicingkan matanya, menatap Zeline yang kini berhenti dengan penuh selidik.
"Hah...ti...tidak…"
"Lalu kenapa kau gugup?"
"Siapa juga yang gugup, gue tidak gugup," Risa segera melewati Rio, sambil merutuki dirinya sendiri dalam hati sampai kelepasan berbicara seperti tadi.
"Lo yakin Zel tidak tahu apa-apa, lalu ini…"
Zeline melotot saat Rio tiba-tiba sudah kembali ada di depannya sambil menunjukkan sesuatu.
__ADS_1