Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 19


__ADS_3

Risa sangat bosan sedari tadi, kegiatannya hari ini hanya tiduran, bermain ponsel, menonton televisi, hanya itu-itu saja yang dilakukan. Melirik jam di ponsel waktu masih menunjukkan pukul 11 siang.


"Lama banget sih jam nya," gumam Risa yang merasa sedari tadi dia melakukan ini itu, terasa sudah lama, tapi jam masih menunjuk di angka 11.


Risa yang kini berbaring di sofa memilih bangun, lebih baik dia ke dapur sekarang, mencari kegiatan, jika Zhen bertanya, Risa bisa menjawab baru belajar bukan, dan Zhen pasti tidak akan mencurigainya.


Tapi baru saja akan melangkah, ponsel Risa bergetar, Risa mengecek pesan masuk, yang rupanya dari tante Dewi yang mengajaknya bertemu.


Risa pun membalas pesan itu, dan kini melangkah ke kamarnya untuk bersiap. Setelah selesai buru-buru Risa keluar, tapi sebelumnya dia juga berpamitan pada bi Irma kalau dirinya akan keluar sebentar.


Risa segera naik ke ojek online yang tadi dipesannya menuju ke tempat dimana Dewi mengajaknya bertemu. Sampai di sebuah tempat makan yang menjadi tujuannya, Risa pun turun dan melangkah masuk. Dia memindai isi restoran, mencari dimana keberadaan seseorang yang dikenalnya cukup lama.


Hingga tak lama, seorang wanita melambaikan tangannya, memberi tanda pada Risa.


Risa tersenyum dan menghampiri.


"Maaf membuat tante menunggu," ucap Risa tidak enak.


"Tidak apa-apa, lagian tante tahu kamu juga sedang bekerja, dan tante yang harusnya minta maaf karena jadi mengganggu pekerjaan kamu," ucap Dewi merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa tante, kebetulan hari ini Ze mm maksudnya Risa juga sedang tidak masuk kerja."


"Benarkah? Syukurlah," mendengar perkataan Risa hatinya begitu lega.


"Oh ya tante, Risa dengar Viona akan menikah, selamat ya."


"Menikah?" Tampaknya Dewi terkejut mendengar berita yang baru saja terucap dari bibir Risa.


"Iya tante, tante belum tahu?"


"Tante tahu, tapi tante kira dia hanya main-main. Jadi dia benar-benar akan menikah?" ucap Dewi pelan.


"Sepertinya tante."


Dewi menggeleng, tangannya terulur dan tiba-tiba menggenggam tangan Risa.


"Risa, bisakah tante minta tolong?"


"Tolong? Tunggu dulu, maksud tante?"


Risa bisa melihat raut kecewa di wajah ibu dari temannya itu.


"Gagalkan pernikahan mereka," pinta Dewi to then point.

__ADS_1


"Hah? Maksud tante apa? ti...tidak tante, Risa tidak bisa."


"Risa tante mohon," ucap Dewi dengan tatapanpenuh permohonan.


"Maaf tante sepertinya Risa tidak bisa,  lagian kenapa tante tiba-tiba berbicara seperti itu. Tidak, lebih tepatnya apa maksud tante meminta teman putri tante untuk membatalkan pernikahan nya."


Dewi menghembuskan nafasnya kasar, dia kecewa saat mengingat fakta tentang putrinya.


"Tante tidak tahu lagi bagaimana menceritakannya," lirih Dewi. Melihat wajah Dewi saat ini, Risa tahu jika pasti ada masalah yang membuat wanita paruh baya itu sampai menyuruhnya membatalkan pernikahan Viona.


"Tante tidak bisa membiarkan Viona menikah dengan pria itu. Bagaimana bisa? Apa yang sebelumnya dulu pernah tante lakukan, hingga Viona mengatakan jika dia akan menikah dengan pria yang tak seharusnya.


"Maksud tante?"


"Pria itu..pria yang Viona perkenalkan sebagai kekasihnya, dia adalah ayah dari kekasih dia sebelumnya," sungguh Dewi malu saat mengatakan hal itu.


"Maksud tante?"


"Viona mengkhianati Ryu, dia…"


"Tidak perlu dilanjutkan tante, Risa mengerti," potong Risa cepat.


"Tante tidak tahu harus apa Risa, bagaimana bisa, bagaimana bisa Viona menjalani hubungan dengan ayah dan putranya," tangis Dewi pecah, dia merasa malu, putrinya sampai berbuat hal seperti itu.


"Tante harus bagaimana Risa? bantu tante bujuk dia untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan pria itu.


"Risa akan usahakan tante, tapi Risa tidak berani menjamin jika Viona akan menuruti apa kata Risa, tante tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Viona, jika dia sudah mengambil keputusan, dia akan berjuang sampai akhir."


"Makasih Risa, makasih."


"Sama-sama tante, jika ada masalah jangan sungkan-sungkan hubungi Risa, Risa usahakan membantu tante semampu Risa."


Setelah cukup mengobrol, Dewi pun segera berpamitan pada Risa. Awalnya Dewi ingin mengantar Risa pulang lebih dulu, tapi dengan halus Risa menolaknya, beralasan jika setelah ini dia akan pergi bertemu teman yang jarak lokasinya tidak terlalu jauh dari sana.


*


*


Zhen melonggarkan dasinya yang terasa mencengkik seharian ini. Niatnya yang hanya akan pergi sebentar sampai sore hari, dirinya justru baru saja pulang.


Zhen segera menaiki tangga, menuju ke kamarnya. Tapi langkahnya berhenti di depan kamar Zeline. Zhen mencoba membuka pintu kamar Zeline dan sepi, tidak ada Zeline di kamarnya. Buru-buru Zhen berbalik dan melangkah turun. Zhen yang akan melangkah ke dapur untuk mencari Zeline berhenti, saat mendengar suara Zeline dari arah depan. Dia mengubah arah, dan kembali melangkah, benar saja Zeline baru saja masuk, dengan kantong belanjaan di tangannya, tapi yang membuat Zhen kesal, adalah saat dia melihat pria yang kini berjalan beriringan dengan Zeline.


Buru-buru Zhen mendekat dan menarik Zeline merangkulnya, membuat Zeline begitu terkejut.

__ADS_1


"Abang!"


"Kamu lupa pesan abang?" Tekan Zhen dengan berbisik.


"Tidak bang, bukan begitu…"


"Setelah ini, ingat kau akan dihukum," ucap Zhen memotong perkataan Zeline cepat.


Pandangan Zhen kemudian tertuju pada pria yang kemarin datang ke rumahnya.


"Mau apa kau kemari?"


"Abang kok nanyanya gitu sih!" Protes Zeline karena sikap Zhen pada teman sekelasnya itu.


"Belajar bersama," ucap pria itu singkat.


"Tidak perlu, Zeline bisa belajar sendiri, kau boleh pergi sekarang!"


"Abang!" Zeline menjauhkan tangan Zhen yang melingkari pinggangnya dan Zhen tidak suka Zeline melakukan itu apalagi di depan teman Zeline yang Zhen merasa, jika pria itu menyukai adiknya.


Zeline menatap Zhen kesal, kemudian menarik tangan Nico menuju ke ruang keluarga, mereka akan belajar disana.


"Zeze!"


"Zeze!"


Zhen memanggil-manggil Zeline namun gadis itu terus melangkah tak memperdulikan panggilan kakaknya itu.


"Sebentar Nico, aku ambil buku dulu di kamar."


Nico hanya mengangguk, menatap kepergian Zeline yang kini sudah menghilang dari pandangan.


"Sudah puas bukan, memandangnya? Jadi silahkan, kau boleh pulang!"


Nico hanya melirik sekilas orang yang tiba-tiba datang menegurnya. Dirinya terlalu malas menanggapi apa yang orang itu katakan.


"Maaf lama," ucap Risa tidak enak. Apalagi abangnya menatap Nico penuh intimidasi. Yang pasti membuat Nico tidak nyaman."


"Tidak apa-apa kok, lagian ada abang kamu yang menemaniku sedari tadi.


Zeline memandang ke arah abangnya.


"Terima kasih bang,"

__ADS_1


"Hmm," jawab Zhen datar. Yang kemudian melangkah pergi dari sana.


__ADS_2