Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 77


__ADS_3

Zeline menelungkupkan kepala di atas meja. Moodnya hari ini benar-benar buruk. Rupanya masalah tak berhenti di rumah. Di sekolah tiba-tiba dia dipanggil oleh wali kelasnya, hanya karena saat pelajaran pertama tadi Zeline membolos dan memilih bersembunyi di uks. Dan tidak tahu siapa yang memberitahu keberadaannya, tiba-tiba wali kelasnya datang dan memergoki Zeline yang sedang asyik bermain game. Karena itu, kini dia mendapatkan pidato panjang, lebar kali tinggi. Tidak tanggung-tanggung, jam istirahat sampai hampir habis hanya untuk mendengarkan hal yang diucapkan berulang-ulang. 


Zeline yang tadi memejamkan mata, kini membuka matanya saat merasa sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Zeline mencoba tersenyum pada orang itu yang ternyata adalah Nico kekasihnya.


Zeline membiarkan Nico duduk di kursi sampingnya. Wajah yang tadi menelungkup kini berganti posisi menjadi miring agar bisa melihat wajah tampan sang kekasih hati yang pastinya bisa memperbaiki moodnya.


"Sudah tidak perlu dipikirkan, jadikan pelajaran dan jangan mengulangi hal itu lagi. Lagian tujuan wali kelas baik kok, beliau seperti itu karena ingin kamu fokus di masa-masa ini. Agar nilai kamu bagus dan kamu bisa diterima di universitas yang kamu inginkan. Ini semua demi masa depan kamu, sayang," ujar Nico menyingkirkan helaian rambut Zeline yang menutupi wajah gadis itu.


Zeline lalu mengganti posisi kepalanya, tetap miring tapi kini membelakangi Nico. Kesal dengan ucapan laki-laki itu, yang seperti tadi pagi papanya ucapkan.


"Kamu ngomong gitu gampang, itu karena kamu selalu dapat nilai tinggi, tapi bagi aku…"


Zeline seketika menghentikan ucapannya, dia bahkan sampai lupa bahwa kemarin-kemarin dirinya mendapatkan nilai tinggi, tapi itu karena Risa yang menggantikannya.


Nico lalu memegang kedua bahu Zeline memintanya agar duduk dengan tegak.


"Kamu juga bisa, buktinya waktu itu kamu mendapatkan nilai tinggi. Kamu bahkan mengajariku hal yang kurang aku paham loh, kamu tidak lupa itu kan?"


'Apa? Mbak Risa mengajari Nico? Padahal Nico sudah pintar, lalu mbak Risa?'


Sama seperti Zeline yang terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri, Nico pun sama dia saat ini juga sedang bermonolog dalam hati. Menebak kira-kira apa yang terjadi pada Zeline yang selalu berubah-ubah. Jika saat ini Zeline tak mendapatkan nilai bagus, mungkin karena dia tidak fokus, Nico sedikit tahu bagaimana keluarga Zeline, dan mungkin hal itulah yang mempengaruhinya. 


Nico lalu bangkit saat bel tanda masuk kelas berbunyi. Dia mengusap lembut rambut Zeline sebelum kembali ke bangkunya.


"Pacaran terus!" Ujar Evan saat melewati bangku Zeline.


Sedang Rio dia hanya menggeleng, meletakkan satu bungkus roti di atas meja.


"Makan ini, kamu pasti lapar," ujarnya.


Zeline menegakkan badan, mengambil makanan dan minuman yang diberikan Rio juga Nico dan menyimpannya ke dalam laci mejanya, karena guru mapel yang mengajar selanjutnya sudah datang.

__ADS_1


Zeline hanya menatap sekilas, sebelum akhirnya dia kembali menelungkupkan kepala di atas meja. 


"Jika tidur lebih baik tinggalkan kelas. Ibu tidak suka di mata pelajaran ibu, ada murid yang tidak mendengarkan."


"Zel bangun!" Rio mencolek-colek bahu Zeline saat melihat pandangan sang guru tertuju ke bangku temannya itu.


"Apaan sih, aku ngantuk mau tidur," jawab Zeline menepis tangan Rio begitu saja.


"Zel!"


Rio bungkam, menarik tangannya kembali, kini giliran Evan yang menendang-nendang kursi Zeline dan Zeline yang kesal langsung saja menggebrak meja dan bangun membuat guru yang tadi hendak membangunkannya sampai kaget.


"Zeline!" 


Wajah sang guru memerah menahan marah. Dia menatap Zeline tajam, dan Zeline justru hanya memberikan cengiran.


"Kamu keluar dari kelas ibu sekarang dan temui ibu nanti setelah jam pelajaran berakhir!"


"Iya, kamu disini hanya akan mengganggu yang lain."


"Yes!" Teriak Zeline kencang, dia lantas tersenyum lebar, tak lupa dia mengambil roti dan minuman yang tadi disimpannya untuk ia bawa.


"Saya tidak membolos ya bu, ibu yang menyuruh," ucap Zeline. Dia lalu menoleh ke belakang.


"Kalian mau ikut atau tidak?" Tanyanya kepada dua temannya.


Evan dan Rio tampak mengangguk antusias, lalu nyalinya menciut saat melihat tatapan tajam dari gurunya.


"Payah," kata Zeline sebelum akhirnya berlalu pergi.


"Anak itu benar-benar. Dia seperti punya kepribadian ganda bukan?" Bisik Evan di telinga Rio.

__ADS_1


Rio menjauhkan diri membuat Evan mendengus kesal.


"Jangan sembarangan bicara!" Ucapnya kemudian.


Pelajaran dimulai kembali, Nico hanya bisa menatap pintu sedari tadi. Tak hanya Evan dan Rio, Nico pun merasa ada yang aneh dari pacarnya itu. 


Tet tet tet


Bel tanda berakhirnya semua pelajaran hari ini pun berbunyi menggema di seluruh penjuru sekolah. Para murid bersorak senang dan bergegas merapikan peralatan tulisnya, ada yang ingin cepat-cepat pulang, ada pula yang ingin bermain bersama kawan-kawannya. Seperti Rio dan Evan yang kini menunggu Zeline karena mereka sudah janjian akan bermain game bersama. Tidak di rumah Zeline, melainkan di rumah Evan. Ngomong-ngomong soal yang akan bermain game di rumah Zeline kemarin, saat melihat sebuah mobil masuk di belakang mobil Nico, Evan menghentikan mobilnya di depan gerbang. Mengintip siapa yang turun dari mobil, dan saat melihat bahwa papa Zeline lah yang turun. Evan segera mengajak Rio untuk pulang, awalnya Rio tidak mau, karena jika begitu hanya ada Zeline dan Nico, pasti papa Zeline akan bertanya-tanya. Dan mungkin saja akan memarahinya. Tapi saat akan turun, Evan mengunci pintu mobil dan melajukannya meninggalkan kediaman temannya sebelum papa temannya itu mengetahui keberadaan mereka. Tak lupa Evan juga bilang bahwa mungkin saja kedatangan mereka bisa menambah masalah buat Zeline. Rio pun terdiam membenarkan apa yang Evan ucapkan.


"Sorry lama, oh ya gue ajak Nico boleh kan?" Ucap Zeline yang memang datang bersama Nico.


"Emang dia bisa main?" Tanya Rio, karena terakhir kali mereka bersama, Nico benar-benar tidak bisa main.


"Itu gampang, uda ayo, kita pakai mobil loe kan Van?".


"Hmm, ayo cepat masuk!"


Keempat anak itu pun masuk, Evan dan Rio duduk di depan, sementara Zeline dia berada di belakang bersama Nico.


Mobil pun kini melaju meninggalkan sekolah, Rio sesekali melirik lewat spion, melihat apa yang sedang Zeline lakukan.


"Lo baik-baik saja Zel?" Tanya Rio.


Zeline yang memejamkan mata dengan duduk sambil memeluk lengan Nico, segera membuka matanya.


"Hmm, gue baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir."


"Lo pergi gini memangnya papa lo…"


"Rio please jangan bahas hal itu," ucap Zeline yang kemudian langsung menunduk, mencoba bersembunyi saat mobil yang mereka naiki berpapasan dengan mobil yang tadi mengantarnya tepat di depan gerbang sekolah.

__ADS_1


Ketiga yang lainnya menatap Zeline lalu mengedarkan pandangan, mencari siapa yang kira-kira coba Zeline hindari.


__ADS_2