
"Abang kenapa bisa sampai disini?" Risa mendongak menatap Zhen, menunggu jawaban dari pria itu. Mereka berdua kini sedang menonton televisi, Risa duduk di depan Zhen dengan Zhen yang memeluk gadis itu dari belakang.
"Naik mobil."
"Bukan itu…" Risa berbalik dan menatap Zhen kesal, karena jawaban pria itu, bahkan kini bibir Risa sudah maju beberapa senti.
Cup
"Jangan manyun-manyun seperti itu, abang jadi pengen cium terus bawaannya."
Tapi lagi-lagi Risa mengerucutkan bibirnya, Zhen kembali mendekatkan wajahnya, tapi Risa dengan cepat berdiri dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Gak kena, wekk," ucap Risa menjulurkan lidah mengejek.
Zhen yang gemas menarik Risa, hingga terjatuh di pangkuannya.
"Abang!" Risa berusaha melarikan diri.
Tapi Zhen melingkarkan kedua tangan di tubuh Risa mengurungnya.
"Abang lepas!"
"Cium abang dulu!"
"Gak mau ah, nanti bagaimana kalau tetangga sebelah pulang dan lihat."
"Biarkan saja."
"Abang!"
"Apa sayang?"
"Abang ih, aku gak bercanda."
"Aku juga serius."
"Kalau serius ke KUA," Risa buru-buru menutup mulutnya dan memalingkan wajahnya yang memanas, malu sendiri karena refleks saja mengatakan hal itu."
Zhen justru terkekeh, lalu menarik dagu Risa hingga menatapnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Risa, dan bibir Zhen kini mendarat di bibir Risa, bukan kecupan seperti sebelumnya, tapi ciuman, ciuman yang lembut tanpa menuntut.
Bug
Pagutan bibir keduanya terlepas, saat mendengar sesuatu terjatuh, Risa dan Zhen sama-sama menatap ke arah sumber suara, dimana di sana, di depan pintu, seorang pria berdiri mematung, tapi hanya sepersekian detik, karena setelah itu, dia berjalan cepat menghampiri keduanya menarik Risa yang sudah berdiri ke belakang punggungnya lalu kepalan tangannya melayang di wajah Zhen yang tidak sempat menghindar.
"Aga stop!" Risa berusaha menarik tubuh adiknya agar berhenti memukuli Zhen dengan memeluknya erat dari belakang
__ADS_1
"Lepas mbak! Aku harus memberi pelajaran pada ba****an ini."
Zhen bangkit, kedua tangannya mengepal bahkan wajahnya memerah karena marah.
Zhen mencoba menarik Risa agar melepaskan pelukannya di tubuh laki-laki yang telah menghajarnya. Ya, Zhen marah bukan karena pukulan Aga, tapi lebih tepatnya saat melihat Risa justru memeluk pria itu, bukannya menghampirinya dan menanyakan kondisinya. Zhen sampai tidak berfikir, jika Risa melakukan itu karena untuk mencegah Aga yang tengah diliputi amarah memukulnya kembali.
"Lepas Risa!" Pinta Zhen dengan suara meninggi.
Aga yang melihat Zhen menarik Risa dari tubuhnya juga berteriak pada kakaknya tidak terima.
Aga menarik tubuh Zhen dengan kasar dan menghempaskannya cukup kencang, untungnya Zhen terjatuh di atas ranjang Risa. Tak hanya itu, Aga langsung kembali menghampiri Zhen dan ikut naik ke ranjang, hendak kembali melayangkan bogem pada pria itu.
"Hentikan!" Teriak Risa dengan nafas naik turun, menghadapi kedua lelaki yang disayanginya itu.
Aga mengurungkan niatnya tadi, turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya lalu menatap Risa yang tatapannya seolah mengisyaratkan jika Risa akan menjelaskannya nanti.
Aga menghembuskan nafas, lalu menatap keduanya bergantian lalu keluar dari ruangan itu, dan duduk di kursi kayu yang ada di depan, membiarkan tasnya masih tergeletak begitu saja.
Zhen lalu turun dari ranjang, dan dirinya meringis saat Risa tiba-tiba menyentuh luka bekas pukulan Aga tadi.
"Abang tidak apa-apa?" Tanya Risa khawatir sambil mengecek kondisi luka Zhen.
"Aku ambil kotak p3k dulu," ucap Risa yang hendak berlalu pergi tapi dengan cepat Zhen menahannya.
"Siapa pria itu?" Tanya Zhen yang tidak sabar menunggu penjelasan Risa.
Tak sampai lima menit kini Risa sudah kembali. Dia yang akan mengobati Zhen, terhenti saat Aga tiba-tiba merebut kapas di tangannya.
"Biar aku saja," ucap Aga yang tentunya mendapat tatapan tajam dari Zhen.
Tapi Aga sama sekali tidak takut, dia justru sengaja menekan luka Zhen hingga membuat pria itu meringis.
"Rasain nih...berani-beraninya kau cium kakak gue sembarangan," ucap Aga dalam hati dengan senyum miringnya.
Zhen semakin tajam menatap Aga, Aga tidak mau kalah balas menatapnya, hingga keduanya saling bertatapan seakan kini sinar laser keluar dari mata kedua pria itu.
Risa hanya menghela nafas panjang, kini dirinya lebih memilih menghindar dari keduanya, berjalan keluar dan duduk di bekas yang Aga tempati tadi. Risa lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Zeline, membahas ponsel mereka yang lupa ditukar kembali.
"Mbak disini?"
"Kamu disini?"
Ucap Aga dan Zhen bersamaan, kedua pria itu kembali saling tatap, dan membuang muka bersamaan, membuat Risa yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Duduk!" Pinta Risa dan keduanya saling berebut duduk di samping Risa.
__ADS_1
Zhen yang kalah kini menarik kursi dan duduk di sisi Risa yang lainnya, hingga Risa kini duduk diapit oleh dua pria yang tiba-tiba berubah kekanakan itu.
"Siapa dia?" Zhen dan Aga kembali berucap bersama membuat keduanya sama-sama mendengus.
"Aga, ini abang Zhen, dan abang, ini Aga."
"Bukan itu, tapi dia siapanya kamu?"
Zhen rupanya begitu penasaran dengan hubungan antara Aga dan kekasihnya. Bolehkan jika Zhen menyebut Risa kekasihnya, mereka sudah berciuman bahkan sudah saling menyatakan perasaannya.
"Aga ini…"
"Cinta keduanya."
Zhen mengernyit dan memicingkan matanya pada Aga tak percaya ucapan pria itu.
"Kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan langsung pada mbak Risa, benarkan mbak jika aku cinta kedua mbak?"
Risa mengangguk mantap, Aga adiknya memang cinta kedua Risa setelah ayahnya.
"Hahaha…"
Zhen tertawa kencang, untungnya tetangga Risa tidak ada yang di rumah, jika ada mungkin saja Zhen akan mendapatkan hadiah sandal melayang karena tawanya yang bisa saja mengganggu mereka.
"Kamu serius sayang? Cinta kedua kamu? Dan apa tadi dia manggil kamu? Mbak?"
"Hahaha…tapi tunggu, kamu hanya cinta keduanya, dan kini perkenalkan aku Zhen Ryu Arlangga, kekasih Risa," ucap Zhen lantang dengan bangganya.
"Apa kau bilang? Kau kekasihnya?" Tanya Aga tak percaya, yang dia tahu, kakaknya tidak dekat dengan laki-laki manapun, hanya Adnan, tapi Risa juga bilang pada Aga bahwa dia dan Adnan tidak ada hubungan apapun.
"Benar mbak yang dia katakan?"
Risa lagi-lagi hanya mengangguk, membuat Zhen kembali tertawa.
"Kau lihat sendiri kan, bahkan Risa mengakuinya."
"Tidak mungkin, aku tidak rela."
"Kau harus rela, karena itu memang kenyataannya."
"Baiklah jika kau bisa, hadapi aku dulu."
"Siapa kau beraninya berkata seperti itu?"
Keduanya kembali berdebat, Risa yang pusing mendengarnya, segera kembali masuk. Risa lalu merebahkan diri diatas ranjang.
__ADS_1
Baru akan memejamkan mata, ponsel milik Zeline kini terdengar berdering. Risa langsung terduduk, dengan kedua bola mata yang membelalak menatap nama seseorang yang menghubunginya saat ini di layar ponsel.