Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 71


__ADS_3

Zhen melihat ke arah tangga dimana disana terlihat adiknya sudah turun dengan membawa tas gendongnya. Zhen lalu melihat ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya juga jam yang tertera di layar ponsel, memastikan jika tidak ada yang salah. Kini dia mengalihkan pandangan mengikuti setiap gerakan dari Zeline, dimana sekarang gadis itu, sudah berdiri di sampingnya, menarik kursi dan duduk disana.


"Kenapa abang melihatku seperti itu? Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Zeline saat menyadari bahwa sedari tadi sang kakak terus memperhatikannya.


"Tidak apa-apa," jawab Zhen lalu meraih tangan Zeline, melihat jam milik adiknya, tapi rupanya sama saja seperti miliknya.


"Kenapa?" Zeline menatap Zhen heran.


"Tumben…"


"Ini hari pertama masuk sekolah, bukankah wajar-wajar saja bila berangkat lebih pagi," ucap Zeline mengambil selembar roti tawar lalu mengisinya dengan selai coklat, salah satu menu kesukaannya.


Iya memang wajar, tapi ini masalahnya seorang Zeline, dia hanya akan bangun 


setelah melewatkan beberapa kali alarm. Bahkan kadang jika tidak bibi atau Zhen yang membangunkannya, gadis itu mungkin saja tidak bangun.


Zhen hanya mengangguk, tidak ingin merusak mood Zeline yang terlihat sangat baik pagi ini.


"Abang sendiri kenapa jam segini sudah rapi?"


Zhen menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Zeline yang ternyata juga menatapnya.


"Abang ada pertemuan penting jam 7 jadi harus berangkat lebih awal."


Zeline mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, dia lalu mengedarkan pandangan, sepi…seperti tanda-tanda jika orang tuanya sedang tidak berada di rumah.


"Mama pergi pagi-pagi sekali dan papa sepertinya tidak pulang dari semalam."


Zeline melihat Zhen, tidak menyangka jika Zhen tahu apa yang sedang dipikirkannya.


"Ada abang, jadi jangan merasa sendiri," tambah Zhen yang kini bangkit dari duduknya, dia sudah selesai dengan sarapannya.


"Abang tunggu di mobil ya, kita berangkat bersama," ucap Zhen sebelum berlalu pergi.


"Tidak usa bang, hmm itu…Nico…" Zeline tiba-tiba gugup saat abangnya berhenti melangkah dan berbalik menatapnya.


"Dia akan menjemputmu?" Tanya Zhen karena Zeline tidak kunjung meneruskan ucapannya.


Zeline meremas kedua tangannya sambil mengangguk ragu, takut jika Zhen tidak mengizinkannya.


"Baiklah, tapi abang akan tetap menunggu sampai dia datang."


Setelah itu, Zhen kembali melanjutkan langkahnya keluar untuk mengambil mobil, hari ini Zhen memang akan menyetir sendiri, karena ada sesuatu yang harus dilakukannya  sebelum berangkat ke kantor.


Zhen memarkirkan mobilnya di halaman, dia segera turun saat sebuah mobil juga berhenti tidak jauh darinya.


"Pagi bang," sapa seseorang yang kini berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Hmm pagi."


Keduanya menoleh ke arah pintu, Nico tersenyum lebar melihat kekasihnya yang tersenyum sambil berjalan dengan kedua tangan menarik tali tas nya.


"Baru sampai?" 


Zhen hanya memperhatikan interaksi Zeline dengan pria yang dia kenal sebagai kekasih adiknya belum lama ini.


"Iya, kamu udah makan?" 


"Sudah barusan sama abang, memangnya kamu belum? Kalau belum kita masuk dulu," kata Zeline menunjuk ke arah pintu.


Nico mengusap rambut Zeline gemas.


"Aku uda sarapan kok, oh ya mau berangkat sekarang, masih jam segini, kita tidak perlu buru-buru," ujar Nico.


"Hmm jalan sekarang aja deh, nanti-nanti takutnya malah macet."


"Ya sudah ayo!" Nico membuka pintu mobilnya membiarkan Zeline masuk.


"Tunggu!" 


Ucapan seseorang membuat keduanya menoleh, menyadarkan sepasang abg itu bahwa masih ada orang lain selain mereka.


"Ya ampun sampai lupa jika ada abang," gumam Zeline, dia lalu berbalik menunjukkan cengirannya.


"Abang, Zeze berangkat dulu ya," ucapnya pelan begitu melihat wajah Zhen yang tampak datar, dia mendekat dan menarik tangan Zhen mencium punggung tangan kakaknya itu.


"Kami berangkat bang," ujar Nico yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Zeline.


"Kamu cepat masuk dulu," kata Zhen pada adiknya.


"Tapi…"


"Masuk, abang akan bicara dulu dengannya, hanya sebentar kamu tidak perlu khawatir."


Zeline pun menurut, dia melangkah mendekat pada mobil Nico dan segera masuk, tapi begitu masuk, Zeline justru terus menatap kedua pria yang kini tampaknya sedang berbicara serius, entah apa yang sedang mereka bahas. Zeline baru mengalihkan pandangan ke depan saat Nico kini berjalan ke arahnya.


Klek 


Pintu di dekat kemudi terbuka, Nico tersenyum padanya dan bergegas masuk, lalu menancapkan gas setelah membuka kaca jendelanya dan melambaikan tangan yang Zeline yakin ditujukan pada Zhen.


"Abang tadi bicara apa?" Tanya Zeline penasaran.


"Hanya bilang hati-hati juga jaga adiknya yang cantik."


Zeline memegang kedua pipinya yang tiba-tiba memanas.

__ADS_1


Nico tersenyum diam-diam melihat wajah merona sang kekasih.


"Tapi kenapa lama sekali, tidak mungkin hanya itu kan?" 


Rupanya Zeline masih belum puas dengan jawaban Nico. 


"Hanya itu kok, kenapa? Kamu khawatir, abangmu memintaku untuk menjauhimu, atau kamu takut abangmu mengujiku karena berani-beraninya memacari adik kesayangannya?"


"Bukan."


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyerah hanya karena itu," ucap Nico membuat Zeline kali ini menatap keluar jendela, dia yakin wajahnya kini memerah, dan dia tidak ingin Nico sampai melihatnya. Padahal tanpa setahu Zeline, Nico sudah melihat, tapi dia berpura-pura karena tak ingin Zeline malu karena kepergok.


"Oh ya, panggilan kamu di rumah…"


"Zeze, abang selalu memanggilku seperti itu, juga bibi."


"Mama dan papa kamu?"


Zeline memaksakan senyumnya lalu mengangguk.


"Iya mereka juga, tapi kadang-kadang mereka juga memanggilku Zeline seperti yang lainnya."


Zeline menunduk dan memainkan gantungan kunci di tas nya.


Nico melirik ke samping, dia jelas melihat ada gurat sedih di wajah kekasihnya.


"Kamu mau coklat?" Pertanyaan Nico sukses membuat Zeline mengangkat wajah dan menatap Nico.


"Kamu ambil aja, tuh ada di tas aku." Nico menunjuk tasnya yang ada di kursi belakang.


Zeline tersenyum lalu mengambil tas Nico dan benar saja ada beberapa coklat di dalam tas pacarnya itu.


"Ini kan…"


"Ya mama dan papa baru pulang dari luar negeri."


Mata Zeline berbinar, dia segera mengambil satu dan membukanya, lalu memakannya.


"Hmm enak."


Nico hanya tersenyum, dia terkejut saat tiba-tiba Zeline menyodorkan ke dekat mulutnya. Tapi tak lama, pria itu membuka mulut menerima suapan dari Zeline. Kini keduanya mengobrol sambil memakan coklat yang Nico bawa, dengan Nico yang disuapi oleh Zeline hingga tak terasa mobil Nico kini telah masuk ke parkiran sekolah.


"Tadinya aku turun di depan saja," ucap Zeline saat melihat sekitar banyak para siswa dan siswi yang juga masih ada di parkiran.


"Kenapa?" 


"Tidak apa-apa, hanya saja…"

__ADS_1


Zeline lalu buru-buru melepas seatbelt dan membuka pintu mobil Nico.


"Aku duluan nanti kamu turun setelah lima menit," ujarnya yang kini segera turun dan berlari jauh, tanpa Zeline tahu jika ternyata ada seseorang di dalam sebuah mobil yang melihatnya keluar dari mobil Nico.


__ADS_2