Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 75


__ADS_3

"Sayang!"


Risa segera mengalihkan pandangan dan melihat ke arah Zhen yang sudah ada di sampingnya.


"Hmm," jawab Risa tersenyum lalu segera duduk di susul Zhen setelah melepas jas dan menyampirkannya di bahu Risa.


"Oh jadi ini alasan kamu?"


Risa kembali menoleh ke arah kirinya, dia sampai lupa jika ada orang lain yang dia kenal ada di dekatnya.


Tak hanya Risa, Zhen pun ikut melihat ke arah orang yang tadi bersuara, dirinya tadi melihat orang itu dari kejauhan sedang menatap kekasihnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Makanya Zhen buru-buru menghampiri Risa setelah memesan makanannya.


"Maksud kamu?"


"Ini alasan kamu menolakku."


Zhen diam, ingin mendengarkan dulu apa yang orang itu dan kekasihnya bicarakan.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?"


Risa melihat pria itu bangkit dari duduknya dan kini tengah memperhatikan Zhen, memindai kekasihnya dari atas ke bawah.


"Sepertinya dia bukan orang biasa," ucap pria itu saat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Zhen. Lalu pandangannya beralih pada pakaian Zhen juga jas yang kini tersampir di bahu Risa, dan terakhir pandangan pria itu tertuju pada ponsel Zhen yang tergeletak di meja.


"Rupanya dia orang kaya, apa dia lebih kaya dariku? Makanya kamu lebih memilih dia? Jadi benar apa yang mama katakan. Tadinya aku tidak percaya, aku terus meyakinkan mama. Tapi…"


Risa lalu menatap ke sekeliling dimana hampir setiap orang yang ada disana memandangnya sambil berbisik-bisik.


"Sayang," Zhen memegang kedua bahu Risa.


Tapi Risa menyingkirkannya perlahan dan bangkit dari duduknya. Dia ambil gelas air yang masih tinggal setengah milik pembeli sebelumnya dan dengan gerakan cepat.


Byur


"Risa apa-apaan kamu," marah pria itu karena merasa dipermalukan oleh gadis yang disukainya.


Pria itu mengusap kasar wajahnya lalu menatap tajam Risa.


"Kita bicarakan di tempat lain," ucap Risa lalu segera pergi dari tempat itu. 


Zhen segera menyusulnya begitu pun dengan pria itu.

__ADS_1


Risa terus melangkah, hingga di tempat yang cukup sepi, Risa pun berhenti. Dia berbalik dan menatap tajam pada pria yang terlihat begitu marah padanya.


"Abang bisakah…"


"Tidak bisa, abang akan temani kamu disini," potong Zhen cepat, dia sudah bisa menebak apa yang akan Risa katakan.


Mendengar ucapan Zhen yang tidak bisa dibantah, Risa pun kini menghela nafas.


"Apa maksud kamu bicara seperti tadi?"


"Benar dia kekasihmu?"


"Iya, jadi jelaskan apa maksudmu tadi?"


"Apa kurang jelas? Kamu terus menolakku, aku kira karena kamu memang tidak ingin berpacaran dan aku menghargai itu, tapi ternyata…" pria itu lalu menatap Zhen.


Zhen yang tidak terima balas menatapnya. Bahkan Zhen menarik Risa agar berdiri di belakangnya. 


"Aku menolakmu, karena memang aku tidak menyukaimu Adnan."


"Kenapa? Apa yang kurang dariku? Aku tahu semua tentangmu, sedang dia…apa karena dia lebih kaya?"


"Maksudmu?"


Plak


Zhen menatap tangannya yang hanya melayang di udara, lalu menatap Adnan yang memegangi pipinya.


Bukan Zhen yang melakukan itu, tapi Risa. Risa terlihat sangat marah, nafasnya naik turun tak tentu, tangannya mengepal erat. Wajahnya pun memerah karena amarah yang sudah tidak bisa ditahannya lagi mendengar ucapan Adnan.


"Mama kamu bilang seperti itu aku diam saja, karena aku tahu beliau tidak terlalu mengenalku, aku berpura-pura tidak tahu, itu alasan kenapa aku selalu berusaha menghindarimu. Aku tidak mau kedekatan kita membenarkan pemikiran mama kamu yang entah beliau dengar darimana. Tapi Adnan…aku benar-benar tidak menyangka jika kamu juga berpikir aku orang yang seperti itu, kamu tahu aku bagaimana, kita sudah cukup lama mengenal, namun…" Risa  menatap Adnan kecewa, dia mengira Adnan akan berbeda dari mamanya. Tapi ternyata semuanya sama saja.


"Aku…" Risa menghentikan ucapannya, dia lalu pergi begitu saja. Rasanya percuma, untuk apa menjelaskan jika orang lain sudah terlanjur berpikir buruk tentangnya. Yang terpenting Risa bukanlah orang yang seperti itu.


Zhen menatap tajam Adnan, menyenggol bahu pria itu dan melangkah pergi.


"Lepaskan dia sekarang atau kau akan menyesal, setelah apa yang tadi aku katakan benar-benar terjadi."


Langkah Zhen berhenti.


"Saya tidak akan menyesal, dan melepaskan dia katamu? Saya tidak akan melepaskan pada apa yang telah saya perjuangkan, saya tidak akan meninggalkan orang yang sudah mengeluarkan saya dari kegelapan, orang yang begitu berarti buat saya. Justru Anda yang akan menyesal karena telah mengatakan seperti itu, sesuatu yang belum tentu benar adanya. Anda akan menyesal karena menghilangkan rasa kepercayaan orang yang dekat dengan Anda karena Anda justru percaya dengan omong kosong yang belum Anda cari tahu terlebih dahulu semua faktanya."

__ADS_1


"Omong kosong? Mama ku sendiri yang bilang, tidak mungkin mama berbicara tanpa tahu kebenarannya. Tidak mungkin mama berbohong terlebih pada anaknya sendiri."


"Bisa saja, jika memang mama Anda tidak menyukai Risa." 


Zhen lalu berbalik, berjalan mendekat ke arah Adnan, "Bukankah tadi Anda mengatakan sendiri, bahwa awalnya Anda tidak percaya dengan ucapan mama Anda, yang itu artinya Anda memang meragukan ucapan mama Anda sendiri," bisiknya kemudian.


Zhen kemudian memasukkan kedua tangan di saku celananya lalu berbalik badan dan kali ini dia benar-benar pergi, menyusul Risa yang tadi dia lihat berjalan ke arah mobilnya.


Zhen membuka kunci mobil dari kejauhan, agar Risa bisa masuk lebih dulu. Dia lalu mempercepat langkah dan ikut masuk ke dalam mobilnya.


Saat masuk, Zhen melihat Risa yang memejamkan matanya, dia lalu mengemudikan mobilnya.


Risa membuka mata saat merasa mobil telah  berhenti. Dilihatnya sekeliling, sebuah taman yang cukup ramai dengan banyak pedagang di sekeliling. 


"Ayo turun!" Ajak Zhen yang ternyata sudah membukakan pintu untuk Risa.


"Abang kenapa…"


"Kamu tadi belum jadi makan kan? Kita makan dulu. Ayo turun!" 


Risa pun menurut, dia lalu turun, yang langsung disambut dengan genggaman tangan Zhen.


Risa mendongak menatap Zhen yang kini menunduk menatapnya sambil tersenyum.


"Ayo!" 


Keduanya pun berjalan bersama, tidak ada yang bicara. Risa sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Zhen hanya membiarkan kekasihnya, mengerti jika mungkin Risa ingin diam untuk menenangkan hati dan pikirannya.


"Kita duduk disana!" Ucap Zhen menunjuk sebuah kursi yang cukup jauh dari keramaian.


Risa hanya mengangguk dan mengikuti langkah Zhen.


"Kamu duduk sini!" Zhen menuntun Risa untuk duduk. Membenarkan jasnya yang masih tersampir di bahu Risa.


"Abang kesana bentar, jangan kemana-mana," peringat Zhen sebelum pria itu pergi. Tak lama, Zhen kembali dengan membawa makanan dan minuman.


Zhen duduk dan membuka bawaannya lalu memberikannya pada Risa.


"Makasih bang," Risa lalu menyandarkan kepalanya di bahu Zhen.


Zhen mengusap kepala Risa membuat gadis itu merasa nyaman hingga memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut kekasihnya.

__ADS_1


"Tidak ada yang ingin abang tanyakan?" Tanya Risa tanpa membuka kedua matanya. Mendongak menatap Zhen yang entah kenapa setiap detik jantungnya berdebar kencang menanti kata yang akan keluar dari mulut pria yang dicintainya itu.


__ADS_2