Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 46


__ADS_3

"Kemana aja kamu?"


Risa segera menjauhkan ponselnya begitu mendengar teriakan dari orang seberang telepon.


"Belum lama kamu kembali dan kini pergi lagi, belum cukup tadi perginya ha, mau jadi apa kamu jika tingkahmu seperti itu?"


"Tingkah apa yang papa maksud?"


"Kamu bahkan berani tidur bersama kakakmu, apa kamu juga melakukan hal itu pada pria lain?"


"Papa menuduhku?"


"Menuduh, bukankah benar seperti itu?"


Risa mengepalkan kedua tangannya, bagaimana bisa pria itu menilai Zeline seperti itu. 


"Kenapa diam ha? Apa karena uang? Atau kurang kasih sayang?"


Risa tiba-tiba tertawa cukup kencang, membuat dua pria yang ada di luar bisa mendengarnya dan segera masuk untuk menghampiri Risa, melihat apa yang terjadi.


"Lalu apa bedanya dengan papa? Papa bahkan membuat hati putra papa hancur. Apa papa pikir aku tidak tahu? Papa juga orang seperti itu, bahkan mungkin papa lebih parah, entah mama tahu atau tidak apa yang papa lakukan. Bagaimana perasaan mama jika tahu, terlebih bagaimana perasaan abang?" Ucapan Risa terdengar semakin meninggi.


Risa menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, lalu kembali berkata.


"Papa sungguh tega, bagaimana mungkin papa berhubungan dengan kekasih abang? Orang yang menusuk abang dari belakang adalah ayahnya sendiri, bukankah itu lebih terdengar miris. Menikah, bahkan papa berani-beraninya menjanjikan hal semacam itu, padahal papa masih terikat pernikahan dengan mama?"


Langkah Zhen berhenti, begitupun dengan Aga. Kedua pria itu sama-sama shock, Zhen terkejut dengan kenyataan yang baru di dengarnya. Berbeda dengan Aga yang justru shock karena mendengar kakaknya menyebut orang lain mama dan papa.


"Apa maksud kamu? Jangan ngaco kamu kalau bicara."


Tut tut tut


Risa mengakhiri panggilan sepihak saat melihat Zhen dan juga Aga yang sepertinya mendengar perkataannya.


"Abang…."


"Benar yang kamu katakan?" Ucap Zhen dengan wajah datarnya.


Risa segera turun dari ranjang, menghampiri Zhen. Tapi pria itu, menatap Risa lalu berbalik dan pergi begitu saja.


"Abang tunggu!"


Teriak Risa hendak mengejar Zhen, tapi dia terkejut saat Aga menahannya.

__ADS_1


"Aga…"


"Dia butuh waktu sendiri mbak, ini bukan cuma tentang kekasihnya dulu tapi juga keluarganya. Mbak lebih baik tidak perlu ikut campur. Aku tahu mbak sayang sama dia, tapi tetap, bagaimanapun hubungan yang mbak jalani, gak berhak membuat mbak ikut ke dalam permasalahan keluarganya," ucap Aga cukup mengerti karena lumayan banyak mendengar pembicaraan kakaknya tadi, entah dengan siapa.


Aga menarik tangan Risa dan mengajaknya duduk di atas ranjang, mengangkat dagu kakaknya yang sedari tadi menunduk agar mau menatapnya.


"Mbak...tidak ada yang ingin mbak jelaskan sama Aga?"


Risa menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca, hingga Aga segera menarik Risa ke dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa jika mbak tidak mau cerita sekarang, tapi mbak...Aga bukan menyalahkan mbak atau apa, Aga cuma mau ngasih tau mbak, mungkin jika ibu dengar apa yang mbak katakan tadi, ibu akan sedih. Entah sejak kapan mbak punya orang yang dijadikan mama dan papa mbak…"


"Aga maaf, mbak tidak bermaksud seperti itu, mbak hanya…" Risa lalu terdiam, ragu antara menceritakan semuanya pada Aga atau tidak.


"Sudah tidak apa-apa jika mbak tidak mau cerita sekarang. Dan satu lagi, bukan aku tidak percaya sama mbak, tapi aku minta mbak jaga diri ya, mbak perempuan dan…"


"Iya mbak tahu, dan kamu tidak perlu khawatir oke, apa yang kamu lihat tadi...intinya mbak bisa jaga diri, dan mbak akan ingat selalu perkataan kamu," ucap Risa melepaskan pelukan Aga dan menatap adiknya itu.


"Sebenarnya…"


Risa pun kemudian menceritakan semuanya pertemuannya dengan Zeline, hingga mereka bertukar peran, Risa hanya bisa mengatakan maaf sebanyak-banyak pada Zeline nanti karena membocorkan kesepakatan mereka.


"Dia pernah ke rumah kita kan mbak? Maksud Aga, dia pernah jadi mbak dan berada di rumah kita?"


Risa hanya mengangguk lemah.


"Pantas saja?"


"Aku merasa yang terakhir di rumah bukan mbak. Makanya aku kesini, aku ingin mencari tahu."


Risa menatap adiknya, lalu meminta pria itu untuk mendekat dan langsung memeluknya kembali, terharu karena sang adik bisa mengenali dirinya atau bukan.


"Terus bagaimana mbak?"


Risa mengurai pelukan, lalu wajahnya berubah murung.


"Bagaimana ya hubungan mereka nantinya, ahhh...kenapa mbak bicara seperti tadi, harusnya mbak…"


Aga menarik Risa kembali ke dalam pelukan.


"Cepat atau lambat hal itu juga pasti akan terungkap mbak...entah itu dari mbak ataupun orang lain, jadi jangan menyalahkan diri mbak sendiri."


"Tapi bang Zhen…"

__ADS_1


"Bang Zhen hanya perlu waktu sendiri, dia pasti sangat terkejut dengan apa yang mbak sampaikan tadi."


"Semoga saja, mbak hanya takut abang marah."


Di tengah perbincangannya dengan Aga, tiba-tiba saja ponsel Risa berdering. Risa segera mengisyaratkan pada Aga untuk diam, dan dengan cepat menjawab panggilan dari nomor ponselnya.


"Halo Ze, kamu dimana?" Tanya Risa begitu panggilan terhubung.


"Mbak…"


"Ze kamu baik-baik saja kan?" Tanya Risa begitu mendengar suara Zeline yang bergetar, mendengarnya saja, Risa tahu, jika saat ini Zeline pasti sedang menangis.


"Mbak gue pergi dari rumah. Gue gak tahu, kenapa papa seperti tidak suka pada setiap apapun yang gue lakukan. Papa selalu menganggapku buruk. Papa…."


"Kamu tenang ya, mungkin papa kamu lagi ada masalah, dan beliau salah melampiaskannya padamu. Sekarang kamu ada dimana?"


"Gue ada di suatu tempat, gue pengen nenangin diri dulu mbak, gue telepon mbak, minta tolong, untuk mbak kembali ke rumah sebagai gue mbak. Please, gue benar-benar butuh waktu sendiri."


"Tapi Zel…"


Tut  tut  tut


Tiba-tiba panggilan berakhir sepihak, Risa menghembuskan nafasnya berat. Bagaimana dia kembali, jika Zhen saja sepertinya marah padanya. Ditambah, Risa takut kelepasan lagi berbicara tentang hal itu di depan mama Zeline, sungguh, Risa tidak ingin membuat hati wanita yang baru satu kali di lihatnya secara langsung itu terluka.


"Kenapa mbak?" Tanya Aga yang sedari tadi diam saja, dia tahu jika kakaknya tengah kalut saat ini.


"Mbak harus bagaimana Aga? Apa yang harus mbak lakukan?" 


*


*


Zhen meminta sopir untuk segera kembali ke rumahnya, pria itu bahkan hanya diam sedari tadi, berbagai rasa berkecamuk dalam dadanya menjadi satu.


Begitu sampai di rumah, Zhen langsung keluar dan berjalan tergesa masuk, tapi dari arah dalam mamanya dengan cepat menghampirinya.


"Apa kamu sudah menemukan Zeze?"


"Papa mana?" Tanya Zhen bukannya menjawab pertanyaan mamanya.


"Papa mana Ma?"


"Itu….papa tadi pergi, mama tidak tahu papa pergi kemana," jawab Mama Zhen.

__ADS_1


"Zhen kau mau kemana?" Teriaknya lagi saat melihat Zhen justru berbalik dan berlalu pergi.


Wanita itu hanya menghela nafasnya panjang sambil menatap sendu kepergian putranya, menyesal karena kesalahannya, kini semua berubah.


__ADS_2