
~Jika kau merasa bersusah hati dengan penatnya kehidupan, maka tengoklah kebelakang, bacalah kisah-kisah terdahulu … yang jalannya jauh lebih berliku tapi tetap konsisten berjalan dijalan-Nya~
.
.
“Traumanya kambuh, padahal Nak Kiyara ini udah lama ndak konsul sama saya, sudah sembuh, sudah bisa menerima segalanya hanya kadang masih suka nggak PD, rasa khawatir dan takutnya diduluin. Ini saya resepkan obat, boleh langsung dibawa pulang
nanti kalau sudah siuman.” Tama dan Dafa, mengangguk paham. Keduanya kini tengah duduk di hadapan dokter yang 6 tahun lalu menangani kasus Kiyara.
“Baik, Dok. Apa perlu check up lagi?” tanya
Dafa, dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikan.
“Ya, minggu depan kembalilah ke sini. Biar saya bisa check kondisi Nak Kiyara lagi, semoga cukup satu kali itu saja,” ucap pria paruh baya bersnelli putih itu, sembari tangannya sibuk mencoretkan tinta bulpoin pada selembar kertas. “Ini … !” dokter itu menyodorkan kertas
resep obat kepada Dafa.
“Aamiin, makasih Dok. Saya permisi.” Pria bersnelli putih itu pun menganggukkan
kepalanya.
Tama dan Dafa kini melangkahkan kakinya keluar ruangan, kedua orang yang sempat
bersitegang itu kini sudah tampak akur kembali.
Flashback
“Lu, apain Adik, gue?” Dafa yang baru saja tiba di rumah sakit, langsung menodong Tama dengan pertanyaan.
“Tadi, dia mimisan terus tiba-tiba pingsan,” jawab Tama dengan santai.
“Kejadian sebelumnya, pasti ada penyebabnya?”
“Gue, cuman nanya doang Bang sama dia tadi. Apa dia inget sama gue atau enggak, gituh
doang.”
“Gila lu emang, udah gue bilang jangan ngusik hidup Kiyara lagi apa kejadian 6 tahun yang lalu nggak buat lu puas, hah?” teriak Dafa, sembari mencengkram kerah baju Tama, membuat Satria yang sedari tadi diam kini ikut beranjak berdiri untuk menenangkan keduanya.
“Sorry, Bang bukannya mau ikut campur.
Ini di rumah sakit, jangan berisik bicarin baik-baik aja.” Tangan Satria.bergerak cepat melepas cengkraman tangan Dafa di kerah baju Tama.
Dafa menghembuskan napasnya kasar, tak mengerti dengan cara pikir pria yang lebih
__ADS_1
muda 3 tahun darinya itu.
“Sorry, Bang. Tadi, gue cuman penasaran aja … apa Adik lu masih trauma nggak sama gue, sama kejadian dulu itu. Mangkannya gue nanya sama Kiyara, inget gue apa enggak. Tapi omongan gue waktu itu beneran Bang, gue mau minta maaf sama Kiyara dengan cara baik-baik, gue nyesel udah pernah jahat sama Kiyara.”
“Buktiin yang bener kalo mau minta maaf … !”
“Iya, Bang … gue janji … !”
Flashback off
“Gue yang nebus obatnya, Bang, lu temenin Adik lu aja.” Tanpa menjawab Dafa langsung
menyodorkan kertas yang berisikan resep obat pada Tama.
“Gue ikut … !” kata Satria sembari beranjak dari duduknya.
Dafa masih sibuk memerhatikan pintu yang sudah tertutup kembali, pikirannya berkelana, takut trauma itu kembali mengusik kehidupan adiknya yang perlahan mulai bangkit. “Kak … ,” ucap Kiyara lirih.
“Alhamdulillah … kamu udah sadar, Dek … !”
“Kak, aku mau pulang … takut … !”
“Iya, sebentar nunggu obat kamu dulu …” Tangan kokohnya dengan sigap membantu Kiyara untuk duduk.
keliling FTSL,” ucap Kiyara dengan raut sendu.
Klek … .
“Assalamu’alaikum, Bang … in—.” kalimatnya terpotong, ketika netra hitam pekat itu bertubrukkan dengan netra coklat milik Kiyara.
“Wa’alaikumsalam …” jawaban salam dari orang-orang yang berada di dalam ruangan pun menyadarkan Tama dari keterkejutannya.
“Eh, ini Bang obatnya.”
“Nah, mereka yang bawa kamu ke sini.” Mata Kiyara menatap nanar wajah Tama, jemarinya
mencengkram erat tangan Dafa yang berada di sisinya.
Dafa yang menyadari ketakutan sang adik, langsung mengusap punggung Kiyara dengan
lembut. “Nggak apa-apa, ada Kakak yang bakal jagain kamu.”
“Sorry, udah bikin lu pingsan.” Kiyara hanya diam sama sekali tak dapat membaca ekspresi dari wajah Tama, yang terkesan datar, dingin, namun sorot matanya memancarkan ketulusan.
Hening … .
__ADS_1
Hening … .
Dafa berdehem, untuk memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta. “Gue, titip barang-barang Kiyara yang ada di kampus sama lu atau lu, terserah. Sekarang gue mau bawa pulang Adek, gue dulu. Thank’s udah bawa Adek, gue ke rumah sakit.” Dafa berucap sembari menunjuk Tama dan Satria bergantian.
“Iya, Bang sama-sama … ,” ucap Tama.
“Sat, aku belum keliling FTSL … nanti gimana pas OSPEK? Aku belum tahu lingkungan FTSL dengan baik,” ucap Kiyara lirih.
“Nope,lu santai aja. Anak mentor di luar FTSL ntar digenadengin sama anak mentor dari FTSL, lu nggak bakal malu-maluin kok, gue jamin … Oh iya, kalo pas acara DIKLAT lu masih nggak enak badan, nggak usah ikut nggak apa-apa, jaga kondisi buat hari H aja,” ucap Satria.
“Emmh … oke, thank’s udah bantuin aku, maaf
ngerepotin kamu Sat, Bang Tama juga.”
“Bukan masalah, tenang aja … ya, Bang ya … ?” ucap Satria cengengesan, yang langusng diangguki oleh Tama.
“Dasar … gila, gue yang pegel bawa karung beras berjalan, dia malah bilang nggak masalah sambil cengengesan lagi … !” umpat Tama dalam hati.
“Ayo, turun … pelan-pelan aja, biar Kakak bantu.”
Kiyara turun dari ranjang pesakitan, kepalanya terus saja menunduk sama sekali tak mau
menatap wajah Tama … rasa gelisah, khawatir, dan takut itu kembali menyelimuti langkahnya seolah menjadi penghalang tak kasat mata yang kembali ingin memenjaranya dalam rasa rendah diri yang teramat, hanya karena tubuh besar yang kata kebanyakan orang tak sedap dipandang mata.
Mereka berpisah di parkiran rumah sakit, berpencar arah tujuan untuk kembali. Di mobil
Dafa, Kiyara masih saja membisu … terlihat jelas gairah hidupnya sudah kembali menguap, entah kemana.
Tring … .
Smasrtphone milik Dafa berbunyi, menandakan ada pesan masuk. “Dek, tolong bacain pesan masuk … ! jalanan padet banget gini.”
“Iya, Kak.”
Tangan gemuknya terulur mengambil gawai sang Kakak, membukanya langsung ke menu chat berwarna hijau. Lalu membacanya
dengan keras, agar sang kakak dapat mendengarnya.
“Dari Lele Mata Biru Kak … ‘Bila, kau merasa
menderita … bila, kau merasa tersakiti … Bersabarlah dan ingatlah kisah-kisah terdahulu yang deritanya melebihi deritamu’ ini ada fotonya juga Kak, tangan terkepal di atas gedung … viewnya bagus … sama ad--.”
Deg …
“Tahi lalat ini, seperti milik …” monolog Kiyara dalam hati.
__ADS_1