Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Balada Test Pack


__ADS_3

AUTHOR POV


Masih di bantu Dafa, Kiyara dan Dave sampai di rumahnya dengan selamat … dipapahnya tubuh kekar milik Dave menuju kamarnya, meski sudah tak terlihat pucat sekali tapi tetap saja sebagai istri, Kiyara tetap mengkhawatirkan keadaan suaminya itu.


“Ini, kamu coba dulu … Kakak mau ke kantor Kakak. Oh ya, mobil suami kamu masih ada di kantornya, masih sadarkan tadi kalau pulang naik mobil Kakak?” goda Dafa.


“Eh, iya atuh sadar, masak aku nggak sadar gimana sih Kakak ini. Ya sudah terima kasih banyak bantuannya, Kak … hati-hati di jalan, maaf ya nggak ngantar ke bawah,” ucap Kiyara.


“Iya, sok lah suaminya juga itu di kelonin biar nggak mual-mual aja, kayaknya bener obatnya cuman kamu,” goda Dafa lagi.


“He he he, iya … Kakak kalau mau minum, nyari di dapur aja ya di sana ada minuman di kulkas juga ada minuman botol ambil aja,” ucap Kiyara.


“Iya, ya udah … Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam, hati-hati Kak.”


“Iya.”


Pintu kamar tertutup dengan rapat, setelah kepergian Dafa … menyisakan pasangan suami istri yang masih termenung dengan pemikirannya masing-masing. Apalagi Dave, yang kini tengah duduk di atas ranjang sambil memangku kantung kresek yang berisikan 10 test pack dengan berbagai merk.


“Yang, nggak mau pipis?” tanya Dave memecah keheningan.


“Ha? Nggak Mas, kenapa?”


“Ini, ayo cobalah … siapa tahu memang sudah isi lagi,” kata Dave sembari menyerahkan kantung kresek itu.


“Ayo, sekalian aku bersihin dadanya Mas Dave, tadi aku balur kayu putih banyak di sana, ganti baju juga hayu,” ajak Kiyara setelah menerima uluran kresek berisi berbagai jenis test pack.


Kiyara, membantu sang suami untuk membersihkan diri, mengelap perlahan tubuh suaminya dengan lap basah lalu mengeringkannya dengan handuk, ia juga memakaikan baju rumahan pada suaminya, kaos berwarna abu-abu dan juga celana pendek berwarna hitam dengan logo berbentuk centang di bagian dada sebelah kirinya.


“Ayo, sekarang kamu pipis,” ucap Dave yang sudah tampak segar.


“Mas, keluar dulu tapi ya,” pinta Kiyara.

__ADS_1


“No, kenapa sih … aku juga mau lihat tes packnya, Yang,” ujar Dave yang masih duduk di atas closet.


“Atuh da, aku malu Mas,” lirih Kiyara.


“Astaga, masih malu kenapa juga? Aku ini udah lihat segalanya, kita juga udah pernah mandi bareng kan?”


“Emmm,” jawab Kiyara sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.


“Lalu, kenapa mesti malu?”


“Nggak kebiasa atuh, Mas akunya tehh … gih,sana keluar dulu,” pinta Kiyara.


“Sudah, ah … jangan memintaku keluar, sana pipis saja dan aku akan menunggumu sembari membuka sepuluh test pack ini,” ucap Dave lalu beralih membuka test pack itusatu per satu.


Mau tak mau akhirnya Kiyara melakukannya di depan Dave, menampung air seninya untuk mengecek kehamilan. “Ini, Mas,” ucap Kiyara sembari menyerahkan gelas kecil yang sepaket dengan salah satu jenis test pack yang berharga lebih mahal dari jenis test pack lainnya.


Dengan senang hati, Dave menerimanya … lalu memasukkan satu per satu test pack yang dipegangnya. “Tinggal tunggu, kurang lebih sepuluh menit, baru kita lihat hasilnya,” ucap Dave dang diangguki oleh istrinya dan segera membawa istrinya masuk kembali ke dalam kamar sembari tetap membawa gelas berisi air seni dan tes pack.


“Udah, enakan ya Mas? Udah nggak pucet lagi,” ucap Kiyara sembari menyugar rambut tebal suaminya.


Cup …


Cup …


Cup …


Dave, menciumi pipi istrinya dengan gemas, rasaya benar-benar menyenangkan bisa sepuas ini menciiumi wajah seseorang tanpa takut dosa, malah mungkin jadi pahala baginya karena menyayangi istrinya.


“Geli, Mas … emh.”


Dave, menghentikan ciumannya di seluruh wajah istrinya dan berakhir pada pergulatan panas di pagi menjelang siang hari itu, karena tak tahan dengan gerakkan istrinya yang membuat sesuatu mengeras di balik celananya.


Dua jam berlalu, akhirnya mereka kembali terbangun, ya setelah pertempuran panas itu keduanya jatuh tertidur saling berpelukkan di atas kasur.

__ADS_1


“Mas, aduh … kenapa jadinya begini sih, niatnya kan mau nungguin sepuluh menit test packnya malah kebablasan lama benget, ntar keburu luntur hasilnya,” gerutu Kiyara sembari menarik selimutnya lebih tinggi menutupi aset berharganya, sedangkan sang suami sudah berdiri memakai celananya.


“Ayo, kita bersihkan tubuh dulu biar enak, ini lengket semua,” ucap Dave sembari mengangkat tubuh istrinya.


“Astaga, aku ini berat … masih aja maksain gendong-gendong aku begini,” pekik Kiyara tapi tak urung ia juga mengalungkan tangannya di leher sang suami, menyenderkan kepalanya pada dada bidang suaminya sembari mendengarkan harmoni indah di balik sana, detak jantung suaminya yang berdegup cepat, selalu seperti itu.


“Ini detak jantung, Mas kenapa selalu berdetak cepat seperti ini?”


“Karena kamu Sayang.”


“Ih, ngegombal mulu.”


“Ha ha ha, serius Yang masa perkara beginian aku gombal kan kamu bisa denger sendiri.”


Beberapa menit berlalu, akhirnya kedua anak manusia itu kembali ke atas kasur sembari memerhatikan satu per satu test pack yang mereka celupkan urin tadi, dengan dahi berkerut dan ekspresi wajah yang berubah-ubah.


“Eh, ini kenapa bisa begini?” ucap Kiyara saat melihat perbedaan tiga test pack yang ia pegang, belum lagi test pack lainnya yang masih di atas kasur dan di pegang suaminya.


“Iya, kok aneh begini ya, Yang. Apa kita salah cara pemakaiannya ya Yang?” tanya Dave.


“Enggak, sih setahu aku juga begitu cara pemakaiannya. Aduh kok jadi begini ya Mas, bingung ih,” ucap Kiyara.


Bagaimana tidak bingung, ini adalah kali pertama mereka menggunakan sendiri alat tes kehamilan itu, tetapi saat melihat hasilnya mereka di buat ternganga tak percaya. Dari sepuluh alat tes kehamilan itu 4 diantaranya menunjukkan dua garis merah yang membuat pasangan suami istri itu senang bukan main, tapi saat melihat 6 alat tes kehamilan lainnya mereka hanya melihat ada 1 garis, tapi rasa-rasanya lama kelamaan saat diperhatikan ada garis samar di sebelahnya, membuat mereka berdua cukup berpikir keras.


“Kita ke rumah Bunda, bagaimana?”


“Boleh, Mas … biar Bunda bisa lihat juga,” jawab Kiyara.


Baju Kiyara sudah berganti dengan baju  rumahan yang tertutup, serta jangan lupakan kerudung yang menutup sempurna rambutnya itu. Dengan langkah yang terkesan tergesa keduanya berjalan bergandengan menuju rumah Bundanya sembari memegang erat test pack itu.


“E … eh, bentar Yang. Mending kita ke rumah sakit aja, tes sama dokter kandungan biar lebih akurat lagi,” saran Dave saat sudah menyebrang ke rumah mertuanya.


“I-iya juga ya, Mas aku takut ngecewain mereka lagi,” jawab Kiyara.

__ADS_1


“Ya sudah ayo nyebrang lagi,” ajak Dave sembari menggandeng tangan istrinya itu dan memilih berjalan lebih berhati-hati lagi.


Dasar pengantin newbi, jadilah seperti itu, gegera test pack saja tak bisa berpikir jernih, emang ya bener-bener balada test pack.


__ADS_2