
Bab Sebelumnya sudah di revisi ya, mohon maaf atas kesalahan upnya. Harap maklum ya, karena kemarin memaksakan untuk tetap up padahal lagi ngejar revisian, jadi salah copas hehehe. Sehat dan bahagia selalu ya, kalian dimana pun berada ...
.
.
Salam hangat dari Author Zahra ...
.
.
Selamat Membaca ...
.
.
Semua hal yang terjadi di muka bumi ini adalah kuasa-Nya, tak bisa kita melawan dengan amarah juga dengan uang untuk menyogok. Meski pun ada takdir yang bisa diubah hanya ada dua cara yang ampuh untuk mengubahnya, yiatu usaha dan doa … dua hal yang harus benar-benar berjalan secara beriringan agar hasilnya
__ADS_1
maksimal. Seperti apa yang diusahakan oleh Kiyara sekeluarga agar Dafa tak pergi dari rumah, Ibu kandungnya itu kini sudah membaik tak lagi kritis meski masih di rawat di rumah sakit. Hanya seminggu dua kali Dafa mengunjunginya karena kesibukannya dalam mengembangakan perusahaan, membuatnya tak memiliki waktu
lama untuk bepergian ke luar kota. Beruntung Papa sambungnya orang berpendidikan dan memegang teguh tanggung jawab sehingga sangat mengerti keadaan Dafa dan tak membebani baik dalam hal mengurus Mamanya maupun membantu membayar biaya rumah sakit, meski begitu Dafa tetap membantu sebisanya, tak mau
jadi anak durhaka dengan mengabaikan kondisi orang tua terlepas bagaimana sikap Mamanya dulu.
“Bunda, hari ini masak apa?” tanya Dafa sembari menuruni anak tangga rumahnya.
Bunda yang baru saja selesai masak dan berniat memanggil suaminya, membalasnya dengan senyuman hangat. “Masak kesukaan kamu dan Kiyara, tumis jamur, tumis jagung muda sama ayam goreng lengkuas, sana ke meja makan dulu Bunda mau manggil Ayah !”
“Waoooww … enak nih, siap Kakak ke meja makan dulu, Bund…”
“Kiyara, Bun jangan lupa sekalian hehehe,” teriaknya
Tak ada lagi rasa canggung, cukup seminggu saat dia masih SMP dulu, tak lagi dan tak akan mau lagi, karena bagaimana pun juga Bunda Alana adalah sosok Ibu yang selalu ada dalam keadaan apapun untuknya selama 27 tahun usianya, meski jika terhitung mulai tinggal bersama baru 25 tahun, tapi semenjak di panti Bunda Alana pun ikut merawatnya, membuatnya tak memiliki alasan apapun untuk mengubah sikap dan rasa sayangnya untuk malaikat tanpa sayapnya itu. Malah rasa canggung terbesarnya adalah pada sang Ibu kandung yang telah menyia-nyiakannya sedari bayi, sangat susah untuk menghapusnya. Mungkin karena masih tersisanya rasa kecewa yang besar dalam hatinya.
“Sssttt … masih pagi nih, bengong aja Kak, ntar kaasupan maung tahh,” ucap Kiyara seraya mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Dafa.
“Kamu ini, bicara yang bener ah jangan bicarain mistis-mistis gituh nggak suka Kakak tuh. Mana Ayah sama Bunda?” tanya Dafa sembari melihat ke arah anak tangga lalu memilih memainkan gawainya.
__ADS_1
“Masih di atas, bentar lagi turun. Kakak nganterin aku lagi?”
Dafa yang tengah memainkan gawainya tak menggubris pertanyaan adiknya, seolah tenggelam dan hanyut bersama dengan gawai hitamnya itu, kebiasaan kaum adam banget kalau sudah fokus dengan satu kegiatan, sulit untuk menerima hal baru.
“Kak … Kakakkk … ,” ucap Kiyara sembari menoel-noel bahu kekar milik Kakaknya.
Barulah dia tersadar dari dunia pribadinya. “Hem … ada apa?”
“Ih … kan … Kakak mah kalau udah fokus sama itu ya itu aja nggak ngedengerin Adeknya ngomong,” rajuknya. Ah, kalau bukan sama Kakak sendiri mau rajuk-rajuk manja sama siapa lagi, gadis gendut ini.
Dafa menoel hidung Kiyara sekilas. “Aduduh gemesnya, apa sih Adikku sayang … tadi ngomong apa?”
“Itu loh … Kakak bisa anterin aku hari ini?”
“Em … maaf ya Kakak ngga bisa bareng kamu hari ini, soalnya Kakak mau survei ke daerah Bogor bareng temen Kakak dia udah di jalan.”
“Oh, Kakak berarti nggak bawa mobil ya? Boleh Kiyara pinjam?”
Wajah Dafa menegang seketika, tak akan lagi dia mengizinkan Kiyara membawa mobil sendiri terlalu beresiko, terlebih jika teringat kejadian terakhir setahun yang lalu, Kiyara berakhir di rumah sakit dan mobil kesayangan Ayah berakhir di bengkel.
__ADS_1
“No … nggak akan lagi, lebih baik bareng si Lele … tetangga baru itu.”