
AUTHOR POV
Wanita berbadan sintal itu sudah terlelap dari 30 menit yang lalu sembari membelakangi suaminya, hatinya sedikit
memanas ketika ternyata masih banyak yang belum suaminya itu ceritakan padanya sedangkan dia selama ini sudah berusaha jujur dengan semua yang ada pada dirinya, semuanya. Dan hatinya semakin memanas ketika mendapati sekretaris pribadi suaminya adalah gadis sepantaran dengannya dan terlihat sangat cantik, modis, modern, ah … pokoknya begitulah, meski dia hanya melihat sekilas dari profil nomor WAnya saja saat sekretaris itu menelepon suaminya tadi.
“Hufftt … salah lagi aku tuh,” keluh Dave, sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga istrinya.
Dave, membaringkan tubuhnya terlentang melihat temaram ke langit-langit kamarnya. Baginya ini pertengkaran menyeramkan kedua untuknya setelah kejadian di Singapura, entahlah rasanya ada yang mengganjal di hatinya saat ini, lalu mengingat-ingat percakapan keduanya sore tadi.
“Aku rasa Kiyara kembali sensitif, apa dia hamil lagi?” gumam Dave karena merasa percakapan mengenai sesuatu yang belum dia ceritakan semua adalah sesuatu hal yang bisa di maklumi karena keadaan mereka yang tak memiliki waktu lebih selama awal-awal menikah, pun tadi Kiyara sebetulnya sudah mereda saat dia menjelaskan satu per satu secara rinci dan detail. Tapi kemudian, istrinya itu kembali meradang saat dia mendapat telepon dari sekretarisnya.
“Ah, atau mungkin dia cemburu dengan sekretarisku?” gumamnya lagi, dahinya mengerut tajam mencoba mengingat-ingat lagi apa istrimya sampai marah begini hanya karena cemburu saja atau karena istrinya itu merasa kenal dengan sekretaris pribadinya.
“Ah, besok sajalah aku mencari tahu dari CV gadis itu, siapa tahu memang aku atau Kiyara mengenalnya,” ucapnya lalu mencoba mendekat ke arah tubuh istrinya dan mendekapnya perlahan dari belakang agar istrinya tak terganggu oleh pergerakkannya.
“Harum sekali,” ucap Dave sembari menaruh kepalanya di ceruk leher sang istri.
“Aku tidak pernah tahu akan jadi seperti ini, dulunya gadis ini eh … salah … salah … wanita ini dulunya sering aku bully tapi sekarang malah selalu berada di pelukkanku saat tidur,” gumam Dave sembari tersenyum.
“Allah, hanya Dia yang Maha Tahu … dan hanya Dia yang Maha Membolak-balikkan hati setiap hamba-Nya, termasuk hatiku sehingga bisa bertekuk lutut seperti ini pada istri sexyku ini, uh dia memang benar-benar sexy dan selalu menggoda imanku,” lirihnya yang kemudian dia ikut terlelap mengarungi mimpi bersama istrinya.
Huwek … huwek …
Kiyara, mengucek matanya perlahan samar-samar ia mendengar suara orang sedang muntah di dalam kamar mandi kamarnya, lalu meraba ke sisi kasur di sebelahnya, kosong!
“Mas Dave, “ panggilnya.
“Eumh, jangan ke sini huwek … “ ucap Dave, tapi Kiyara tak menghiraukan larangan suaminya.
__ADS_1
Kiyara, masuk begitu saja ke dalam kamar mandi kamarnya, lalu memijat pelan tengkuk suaminya yang masih terus saja berusaha memuntahkan isi perutnya.
Huwek … huwek …
Kiyara, meraut khawatir dengan keadaan suaminya. Semenjak menikah dia tak pernah mendapati suaminya sakit,
rasanya dia ikut sedih melihat keadaan suaminya yang seperti ini, terlihat sangat lemas.
Dave, menengadahkan wajahnya menatap cermin yang terhubung dengan wastafel, wajahnya terlihat kuyu karena
lemas dan pucat.
“Sudah mendingan?” tanya sang istri dan diangguki lemah olehnya.
“Ayo, aku papah ke kasur kamu istirahat lagi biar aku oleskan minyak kayu putih,” sambungnya lagi.
“Istirahat lagi sebentar, aku mau buatkan air jahe buat Mas,” ucap Kiyara seraya menutup botol kayu putih yang dipegangnya dan menaruhnya kembali ke tempat semula.
Dave, mengangguk lemah sembari berusaha memberikan senyuman kepada sang istri yang seolah sudah lupa dengan amarahnya semalam, membuatnya bersyukur … setidaknya istrinya itu tak mendiamkannya di saat ia lemah seperti ini, entahlah apa jadinya jika masih seperti itu.
Sedangkan di dapur, Kiyara tengah menggeprek jahe yang baru saja ia cuci bersih, membuatkan minuman hangat untuk suaminya yang sedang meriang menurut gejala yang dia lihat tadi.
“Aku antarkan ini dulu, lalu aku buat bubur ayam buat sarapannya Mas Dave, emh atau beli aja ya di deket lapangan kompleks?” tanyanya pada dirinya sendiri, sembari memikirkan bagaimana baiknya Kiyara berjalan menuju kamarnya kembali mengantar minuman hangat untuk suaminya.
Segelas minuman hangat dengan piring kecil atau biasa ia sebut dengan ‘lepek’ di taruhnya di atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu tangan gempalnya mengguncang pelan tubuh suaminya.
“Mas … Mas … bangun dulu ayok, ini di minum dulu biar enakan perutnya,” ucap Kiyara.
“Eunghhh … Iya,” jawab Dave dengan nada lemahnya, mencoba bangun dari posisi tidurannya agar bisa meminum air hangat yang di bawakan istrinya.
__ADS_1
“Ini, aku minumkan ya pelan-pelan,” kata Kiyara sembari menyodorkan lepek ke arah bibir suaminya.
“Sudah,” ujar Dave.
“Iya, Mas … emh, ini sudah jam 5 lebih 10 menitan, Mas sudah salat apa belum?” tanya Kiyara, sebab setahunya tadi ia bangun terlambat dan langsung dikagetkan dengan suaminya yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.
“Sudah, tadi malah udah ikut berbaring lagi di samping kamu tapi tiba-tiba perutku nggak enak, dan langsung muntah-muntah itu,” jawab Dave dan Kiyara hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah, Mas istirahat dulu ya aku izin mau ke lapangan kompleks, mau beli bubur ayam, Mas mau pesen yang apa?” tanya Kiyara sembari mengusap peluh di pelipis suaminya.
“Terserah kamu saja, aku benar-benar lemas rasanya tak berselera makan,” keluh Dave.
Kiyara tersenyum, suaminya ternyata sangat manja saat sakit seperti ini, padahal hanya meriang saja keliatannya tidak panas juga badannya.
“Ya sudah kamu istirahat dulu ya, aku mau beli bubur dulu, jangan kemana-mana di sini saja, kamu pusing juga nggak?” tanyanya.
“Nggak pusing, cuman sedikit mual dan rasanya badanku lemas sekali. Cium aku dulu, Yang … sebelum pergi biar aku semangat lagi,” ucap Dave pada istrinya.
Cup …
Kiyara, memberi kecupan singkat pada bibir Dave … namun suaminya itu merengek meminta hal yang sama lagi, namun saat Kiyara memberikannya lagi tangan Dave langsung memegang tengkuk istrinya dan memperdalam apa yang dia lakukan, sampai beberapa detik kemudian Kiyara melepaskannya dengan napas tersengal.
“MAS DAVEEEE … ! Ih, modus banget sihhhh,” teriak Kiyara, membuat Dave menyunggingkan senyumannya walau hanya sedikit.
“Maafin, Mas kemarin ya Sayang. Janji nggak diulangi lagi, dan satu lagi jangan cemburu sama sekretarisku ya, aku selalu profesional kalau urusan pekerjaan. Dan aku juga udah cinta mati sama kamu nggak akan belok-belok, only you Kiyara Mentari … ibu dari anak-anakku,” ucap Dave dengan masih menyatukan dahinya di dahi sang istri.
“Iya, maafin aku juga ya Mas udah emosian kemarin,” ucap Kiyara sembari memberi kecupan kecil di pipi sang suami lalu segera beranjak mengambil jaket dan kerudungnya.
Dave, tersenyum simpul melihat kepergian istrinya. "Sakit membawa berkah, uhh love you Sayangku," gumam Dave sebelum membaringkan tubuhnya kembali karena badannya terlalu lemas untuk duduk lama sekalipun.
__ADS_1