Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
7. Silih Berganti


__ADS_3

~Tiada yang abadi di dunia ini, semuanya datang dan pergi silih berganti … tapi, kesemuanya pasti menyisakan pembelajaran, bagi diri yang mau mengambil hikmah dari setiap kejadian~


.


.


Waktu terus bergulir mengubah hari, bulan, juga tahun … tapi meski banyak waktu yang sudah terlewati, sama sekali tak mengubah bentuk tubuh gendut Kiyara, selain lebih mendewasakan paras ayu khas jawa itu.


“Kamu, udah  tahu si Bule itu  ada di mana, Dek?” tanya Dafa tanpa menoleh ke arah wanita berhijab abu-abu yang duduk di kursi samping.


“Belum tahu pasti sih, Kak. Tapi, kalau kata temen-temen sekolah sih Kak Dave, kuliah di luar negeri, di Singapur kalau nggak salah.” Dafa manggut-manggut saja, mendengar penuturan sang adik.


“Ini udah hampir tiga tahun, dari kejadian di taman saat itu ya, Dek?”


Kiyara menganggukkan kepalanya, “Iya, Kak. Udah tiga tahun yang lalu kita nolongin Kak Dave, yang kena luka tusuk saat itu, karena begal motor deket jalanan taman kota yang sepi. Niat mempertahankan motor gedenya malah perutnya kenak luka tusuk, belum lagi beberapa lebam di wajahnya.”


“Setelah itu, sikap Kak Dave, berubah total … 2 bulan sebelum kelulusannya Kak Dave, seperti menjaga jarak denganku, belum lagi sikap teman-temanku yang semakin menunjukkan ketidaksukaannya kepadaku setelah mengetahui aku menolong Kak Dave waktu itu,” sambung Kiyara dalam hati.


“Dia tuh, Kakak perhatiin kayak anak broken home loh Ki, soalnya ya gituh deh. Kamu inget nggak sewaktu di rumah sakit? Mommy-Daddynya itu loh, astaga raut wajahnya biasa aja, belum lagi pas si Bule udah sadar … dia diem aja, orang tuanya pun sama, malah Bunda yang banyak tanya tentang apa yang dia rasa waktu itu.”


“Iya, ya Kak … betul nih kayaknya analisa Kakak.” Kiyara berkata sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kakak, kenapa tiba-tiba tanya Kak Dave? Kangen?”


Dafa menggelengkan kepalanya, tak ingin rencananya di ketahui oleh sang adik. “Nggak, kenapa-kenapa sih, cuman tiba-tiba keinget aja gimana nasibnya tuh anak. Kamu, hari ini persiapan ngospek sampek jam berapa?”


“Oh, kirain kangen sama si Bulenya, Kakak. Nggak tahu Kak, random banget … kadang setelah acara kita tetep harus di kampus buat dengerin cerita atau arahan tambahan dari kating, nggak enak juga kalau izin pulang duluan.”


Dafa mengangguk paham, di lubuk hati yang paling dalam Dafa, bersyukur sekali … adik kecilnya itu perlahan mulai berubah sesuai doa yang terselip dalam arti namanya ‘Mentari’, mungkin memang betul memasuki usia dewasa dan lingkungan yang jauh berbeda dengan semasa sekolah dulu, membentuk mental dan pribadi Kiyara menjadi lebih baik atau mungkin orang disekitarnya yang jauh lebih baik daripada semasa sekolahnya, sehingga Kiyara mudah beradaptasi.


“Huffftt …,” Kiyara mendesah pelan. “Sebetulnya, aku capek sih Kak ikut organisasi, berasa ngaget gituh, apalagi pas liburan kuliah kayak gini, padahal ya … ini aja masih rangkaian kegiatan menuju hari H, belum hari H-nya … udah ikutan jadwal workshop, kelas materi, third gath, ToT, roleplay, pelatihan soft skill, dan printilan lain-lainnya.”


“Kamu itu capek, karena belum terbiasa … dulu Kakak juga gituh kok awal-awal, cuman bedanya Kakak udah terbiasa dari SMP-SMA yang udah ikut OSIS, jadi sewaktu kuliah nggak terlalu ngaget.”

__ADS_1


Dafa, memutar kemudinya menuju gerbang kampus ternama di Bandung, tempat adiknya mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi selama hampir satu setengah tahun ini.


Brak … .


Kiyara dan Dafa terhuyung ke depan, untung saja keduanya mengenakan sabuk pengaman sehingga tidak sampai terbentur. “Astaghfirullah … Kak, mobil Kakak ditabrak dari belakang … !” ucap Kiyara, panik … sembari mengusap dadanya.


“Iya, Dek. Bentar ya, Kakak urus dulu.”


Kiyara, memerhatikan Kakaknya dari dalam mobil … berjalan dengan gagahnya menuju mobil sport yang terlihat sangat mahal, mengetuk jendela mobil beberapa kali sampai kaca mobil perlahan turun, sayang Kiyara tak dapat melihat siapa dibalik kemudi mobil mewah yang menabrak mobil sang kakak. Tapi yang dilihat Kiyara, sang kakak sama sekali tidak terlihat marah justru sebaliknya.


“Itu, kenapa Kak Dafa malah cengengesan sama si penabrak mobilnya?” Kiyara mengernyitkan dahinya, heran? Woooh … sudah pasti.


“E-eh, itu kenapa malah jadi ngobrol si Kakak teh, ih pakek salaman segala,” monolog Kiyara saat melihat tangan putih yang tak kalah kekar dari tangan sang kakak terjulur keluar jendela mobil menjabat erat tangan kekar milik Dafa.


“Ih, turun aja deh … !”


Brak … . suara pintu mobil yang  di tutup Kiyara sedikit kasar. “Kak, ayo ih … buru, aku udah mau telat nih, minta ganti rugi aja … !” Kiyara berucap setengah berteriak, sengaja … agar si empunya mobil mewah mendengar ucapannya.


Dafa melambaikan tangan, dengan mulut komat-kamit menyuruhnya kembali masuk ke dalam mobil. Mendapat gelagat aneh dari sang kakak, Kiyara pun membalikkan tubuhnya dan segera masuk kembali ke dalam mobil. “Kenapa sih, Kak Dafa … aneh deh,”


Triiing … triiiing … triiiing … ,


Suara ponsel dari dalam tas ransel kecil milik Kiyara menghentikan gerutuannya, dengan segera tangan gendut yang tertutup kain sampai ke pergelangan tangannya itu pun mengambil smartphone miliknya.


~~


From: Cakra (07:40) 


Aku tunggu di taman kampus bersama Fani, Edo, dan Timi. Jangan sampai telat … !


~~

__ADS_1


“Tuh, kan udah pada ngumpul … Kakak lama banget, sih … !” monolognya sembari bergantian menatap layar smartphone dan Kakaknya dari kaca kecil yang menggantung di tengah mobil bagian depan.


~~


To: cakra (07:41)


Oke, sebentar lagi aku sampai … ini udah di dekat gerbang, mobil Kak Dafa abis di tabrak masih urusan. Tungguin, yakkk … !


~~


Klek …


“Kakak … ! ngagetin aja,” ucap Kiyara sembari mengusap dadanya. “Gimana, Kak? Dapet duit berapa?”


Dafa mengernyitkan dahinya, lalu menoyor kening sang adek dengan telunjuknya. “Kamu itu, pikirannya duit mulu … Kakak mah cari cara kekeluargaan aja, selagi dianya mau tanggungjawab, nggak ada masalah.”


“Ih, harusnya Kakak minta duit aja, nanti bagi dua sama aku … terus nanti mobilnya minta Ayah aja buat benerin kerusakannya.”


Dafa, menggelengkan kepalanya mendengar penuturan sang adek. “Dasar, kamu tuh … Kakak juga kenal sih sama yang nabrak, jadi nggak ambil pusing,” sambung Dafa, sembari kembali melanjutkan sisa perjalanannya.


Tin … tin … . Mobil sport yang tadi menabrak bagian belakang mobil Dafa membunyikan klakson, saat melewati mobil Dafa. “Tuh, kan orangnya sopan … mau nyalip aja ngasih klakson.”


“Ih, orang kalau sopan mah nggak main seruduk mobil orang kali, Kak. Maklum juga sih kalau kenal, soalnya tadi aku lihat pakai jabat tangan dan ngobrol-ngobrol dulu. Terus kenapa tadi komat-kamit ngusir aku?” tanya Kiyara.


“Hehehe, soalnya Kakak nggak mau kamu kaget.”


Kiyara memicingkan matanya. “Emang siapa dia? Yakin banget aku bakal kaget.”


“Yah, cepet atau lambat pasti kamu juga bakalan ketemu sama dia. Santai aja.” Dafa menghentikan kembali mobilnya. “Silakan turun, Tuan Putri … !”


“Ih, ngeselin … suka banget bikin kepo orang. Yaudah deh, terima kasih bodyguard tampanku … hehehe.”

__ADS_1


__ADS_2