
Waktu terus bergulir sebagaimana mestinya, sudah dua setengah tahun berlalu, Kiyara, Cakra, Tiwi dan sahabat-sahabat lainnya sudah lulus kuliah lebih cepat daripada teman seangkatannya, bukan karena kepintarannya saja tapi karena rajin dan juga semangatnya mereka, membuat mereka berhasil lebih dulu dibanding lainnya.
Pun dengan pekerjaan, mereka semua memperoleh sesuai dengan apa yang mereka cita-ciatakan selama ini. Tak terkecuali dengan Kiyara, dia kini sudah menjadi owner sebuah cafe yang sedang hits di Kota Kembang, cafe yang terkenal bisa menjadi penyembuh luka lara, siapa saja yang masuk ke dalamnya.
"Ki, ini dekor ruangan yang paling ujung sana udah aku konsulin juga sama psikolog, katanya bagus sih udah sesuai juga, gimana barangkali ada tambahan yang mau kamu masukin," ucap wanita yang kini tengah berbadan dua itu.
"Aduh ... Teteh ini, Kiyara kan udah pesen sama Teteh, khusus yang ini dikerjakan setelah keponakanku dilahirin aja, Teh Asti ngga boleh kecapekan tahu ... udah mau masuk waktunya," ucap Kiyara dengan nada khawatir, setelah mengetahui bahwa Kakak Iparnya yang tengah mengandung 9 bulan itu masih sibuk mengurusi desain interior cafenya yang akan menambah ruangan ajaib yang mereka miliki, ruangan yang bisa memberi semangat hidup baru bagi siapa saja yang masuk ke dalamnya.
"Hehehe, udah santai aja nggak apa-apa, Teteh masih sanggup kalau begini aja mah ... kerjanya Teteh juga sambil duduk, cuman pergi ke psikolog aja dan tenang saja Kakakmu selalu menemaniku, jadi insyaAllah Teteh dan calon keponakanmu ini akan baik-baik saja," jawab Asti, mencoba menenangkan Adik Iparnya itu.
Ya, dia Asti Kakak Tingkat dari jurusan Arsitektur di kampusnya dahulu. Semenjak Kiyara dan Asti memiliki projek bersama kala itu, membuat desain cafe yang mereka tempati hari ini, keduanya menjadi lebih dekat dan juga membuat Dafa mengenal sosok Asti yang lembut, periang, juga dewasa, dan yang tak kalah penting adalah Asti sosok gadis yang dekat dengan Adik kesayangannya, Kiyara.
"Ah, Teteh ... iya-iya aku percaya kalau Kakak tersayangku itu bakal menjaga kalian dengan baik. Tapi, btw Teh ... Kak Dafa kemana kok nggak ikut masuk?" tanya Kiyara sembari melihat ke sana kemari tapi tetap tidak menemukan Kakaknya.
"Kakak kamu lagi beliin Teteh nasi padang ... hehehe. Back to topic, ini kamu udah fix gini aja atau mau ada tambahan sesuatu lagi?"
"Emh, udah sih Teh aku udah puas banget sama hasilnya ini," jawab Kiyara.
"Assalamu'alaikum, Ukhti ... Ukhti ...," sapa seorang lelaki yang kini sudah duduk manis di kursi samping Kiyara.
"Wa'alaikumsalam, Aki-aki ...," jawab keduanya sembari cekikikan, karena bukan menyebut Akhi malah Aki-aki.
"Ish, dasar ya kalian ini," gerutu Cakra, sahabat baik Kiyara sedari SMA.
__ADS_1
"Lagian, ngagetin," kata Asti.
"Hehe, sorry ... sorry ... berdua aja nih? PakSu lagi dimana Teh Asti?" tanya Cakra.
"Lagi beliin makanan buat si Utun."
"Ih, di cafe adek iparkan banyak makanan kenapa musti beli keluar lagi Teh?" tanya Cakra sembari membolak-balikkan buku menu uangbada dihadapannya.
"Si Utun maunya nasi padang, di sini nggak ada kali, Cak," jawab Kiyara.
"Oh, iya juga ya ... terus Kakanda Bulemu di mana Ki?" goda Cakra.
"Apaan sih, Kakanda Bule siapa coba ... orang aku ini single and very happy," jawab Kiyara.
"Hahaha, alesan ..." goda Cakra dan Teh Asti bebarengan.
"Ini nasi padang untuk Mama dan Baby, di makan ya dihabisin," ucap Dafa dengan semangat, sembari meletakkan bungkusan nasi padang di hadapan istrinya.
"Aaa ... makasih Papa, tapi ini kebanyakkan kalau tiga bungkus, buat Papa sama Aunty satu-satu ya," ucap Asti sembari membagi satu per satu bungkusan untuk orang yang ada di samping dan di hadapannya.
"Ah, aku ngga kebagian," kata Cakra yang kini mukanya sudah terlihat melas.
"Hahaha, udah pesen juga gitu di sini, ini nih kalau kurang bisa icip punya aku, santuy ajalah."
__ADS_1
"Becanda kali Ki, hehe."
"Eh, kamu pesen makan di sini mau bayar atau mau ngutang Cak?" canda Dafa.
"Bayar dong Kak, kan dompet aku lagi tebel," jawab Cakra sembari mencari dompet di saku belakang celananya.
"Eh, kok nggak ada dompet aku?" tanya Cakra dengan muka yang sudah terlihat khawatir.
"Woy, jangan bercanda mulu gak lucu," seloroh Kiyara.
"Serius kali, Cak ... jangan bercanda ah ngga lucu kalau hilang beneran gimana?"
"Oey, Bambang itu di deket siku kamu apaan?" seloroh Asti yang melihat dompet berwarna coklat di dekat siku Cakra yang berada di atas meja.
"Eits, biar aku cek dulu beneran ada isinya apa enggak," ucap Dafa sembari mengambil dompet Cakra dengan cepat dan buru-buru membukanya.
"I-ini ...?" tanya Dafa tergagap.
"Apa sih Kak, kan aku udah bilang dompet aku tebel jadi duitnya banyak dong."
"Bukan, Tya?"
"Eh, Kakak kok tahu kalau dia Tya? perasaan aku nggak pernah cerita tentang Tya ke siapapun, Kiyara aja nggak pernah," ujar Cakra dengan bingung.
__ADS_1
"Dia, adik tiriku, Cak."
Deg ... Deg ...