Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Temen Lucknut


__ADS_3

DAVE POV


Hampir dua bulan belakangan ini dia menjalin kasih dengan gadis seberang rumahnya, gadis korban bullynya sewaktu SMA, gadis penolongnya saat maut sudah di depan mata, Kiyara adalah segalanya bagi Dave, seseorang yang bisa menggetarkan hati terdalamnya, membuatnya kembali memiliki arti hidup setelah badai dahsyat meporaporandakan kehidupannya.


Apalagi, setelah dia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu, rasanya tiap pertemuannya selalu mampu membuatnya jatuh hati berkali-kali lipat setelahnya. Membuatnya lebih giat bekerja mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar bisa segera menghalalkan gadis pujannya itu.


"Den, ini stroberinya bulan ini kita panen lebih banyak dari panen sebelumnya ... Mamang habis eksperimen pupuk kemarin, alhamdulillah buahnya jadi lebih lebat," ucap Mang Ujang menyadarkan Dave dari lamunannya setelah menerima telepon dari Kiyara.


Hari ini dia sedang melakukan kunjungan ke perkebunannya di Lembang, yang ia percayakan pada tukang kebunnya di rumah lamanya dulu.


"Oh, alhamdulillah Mang ... pupuk organik buatan sendirikan ya Mang? nggak di mix sama pupuk pabrik?" tanya Dave memastikan bahwa pupuk yang digunakan adalah pupuk organik, karena selama ini dia tidak pernah menggunakan pupuk buatan pabrik, untuk menjaga kualitas stroberinya agar tetap organik tanpa pupuk ataupun pestisida non organik.


"Nyak, atuh Den ... dari dulu selalu pupuk organik ramuan istri saya hehehe, biar kulitasnya tetep oke."


Mereka berdua berkeliling kebun stroberi dengan diiringi percakapan santai mengenai beberapa perkebunan lain yang juga dipercayakan pada Mang ujang. Aura pemimpin memang sudah terpancar dari diri seorang Dave, meski sempat meredup saat kenakalan masa remaja merajai jiwa mudanya kala itu. Tapi setelah insiden luka tusuk ia perlahan kembali menjadi sosoknya sendiri, melupakan luka broken home yang ia alami selama sekolah dulu.


"Duduk sini dulu, Den ... tadi istri Mamang ydah buatkan minuman buat Aden," kata Mang Ujang sembari menunjuk ke arah saung yang dekat dengan tempat mereka berdiri.


"Iya, Mang boleh ...," jawab Dave, lalu berjalan mendekat ke arah saung dan langsung duduk di sana.


"Wah, ini seger enak lagi," sambungnya ketika melihat teko berisi es sinom.


"Iya, Den seger, enak, sehat lagi, ayo Den buru di minum."


Keduanya kini duduk di Gazebo sembari menikmati es sinom buatan istri Mang Ujang ditemani angin sepoi-sepoi yang menerpa lembut kulit wajah, menggerakkan surai hitam milik Dave.

__ADS_1


"Oh, iya Mang ... habis ini tolong petikkan stroberinya 2 kg tapi dipisah ya, sekilo-sekilo. Saya mau ke bawah dulu lihat sayur okra, barangkali ada yang udah bisa dipetik," kata Dave sembari meletakkan gelas yang sudah kosong, tadi dia tiba-tiba teringat Kiyara yang beberapa minggu ini sedang suka-sukanya dengan sayuran okra, karena pernah ia bawakan sewaktu pulang dari mengunjungi kebun seperti yang saat ini ia lakukan.


"Muhun, Den ... mau langsung bawa keranjang? Sepertinya dibagian barat sudah siap petik sayur okranya."


"Iya, Mang langsung bawa aja."


Hampir 30 menit Dave berkeliling sekalian memetik okra untuk di bawa pulang. Rasanya ia ingin segera pulang agar bisa cepat bertemu dengan anak tetangga depan rumahnya, ah dasar bucin.


"Mang, saya pulang dulu ya ... terima kasih sudah dipetikkan stroberinya."


"Iya, Den sama-sama, hati-hati ya di jalan salam buat Nyonya."


***


Drrt ... drrrtt ...


"Assalamu'alaikum, Sat."


...


"Hem, iya-iya gue ke sana, bentar kok ini kebetulan gue masih di sekitaran cafe yang lu maksud."


...


"Iye, bye."

__ADS_1


...


Ternyata, Satya bisa dikatakan dia adalah teman nakal Dave sewaktu SMA dulu dan satu-satunya teman SMA yang masih sering menghubunginya. Seperti kali ini, Satya mengajaknya untuk bertemu di salah satu cafe langganan mereka.


Tak perlu waktu lama bagi Dave untuk menuju cafe tersebut, karena kini dia sudah turun dari mobilnya dan berjalan ke dalam cafe menemui Satya. Dia mengedarkan pandangannya, tapi tak ada Satya di sana, sampai seorang pelayan datang menghampirinya.


"Ada yang bisa di bantu Kak?"


"Iya, Mbak ini saya nyari temen saya katanya udah di sini tapi sepertinya belum datang."


"Apa nama temannya Satya?" Dave menganggukkan kepalanya.


"Kak Satya sudah menunggu dan beliau reservasi private room, mari saya antar."


Dave, mengernyitkan dahinya setahunya ini adalah cafe biasa tak memiliki private room kenapa sekarang jadi ada. Tapi karena tak ingin banyak bertanya akhirnya dia mengikuti pelayan cafe itu menuju salah satu pintu di sudut cafe.


"Silakan Kak."


Dave, mengangguk lalu masuk ke dalam private room yang di dalamnya sudah ada Satya juga tiga orang wanita dengan pakaian minimnya, yang mempertontonkan sesuatu yang seharusnya tertutup rapi.


"Sial, anak ini masih belum berubah ternyata," ucap Dave dalam hati.


"Brotha, sini-sini ... gue punya satu buat lu gue jamin lu nggak bakal nolak, masih segelan dan yang pasti seperti tipe lu waktu SMA dulu."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2