Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Tak Pantas Bersanding


__ADS_3

Sudah 30 menit lebih mereka semua mengobrol bersama saling melemparkan candaan agar Mommy Dave terhibur dan melupakan kesedihannya. Sahabt-sahabat Kiyara ini memang sahabat terbaik selalu bisa membantu meringankan beban satu sama lain, sementara itu Dafa harus pulang terlebih dahulu karena anaknya rewel di rumah tak mau digendong siapapun seolah merindukan Papanya.


“Nak, makanlah dulu tadi Bunda dan Ayahmu membawakan makan siang kan untuk kalian?” tanya Mommy.


“Iya, Mom … nanti saja, Mommy istirahatlah dulu,” jawab Kiyara.


“Kalian belum makan?” tanya Fani.


“Belum,” jawab Kiyara.


“Makanlah dulu, Mommy biar kami yang menjaga, ini sudah mau ashar … sana makanlah di kantin dengan Kak Dave bawa makanan kalian dan pesan minuman hangat agar badan kalian fit untuk menjaga Mommy sampai sembuh,” ucap Fani sembari menaruh baperware berukuran sedang pada Kiyara.


“Iya, Nak kalian makanlah dulu, jangan khawatirkan Mommy di sini Mommy banyak yang menjaga, dan Mommy senang ada Hisyam juga, dia anak yang lucu,” kata Mommy Dave sembari mencubit gemas pipi Hisyam yang kini tengah duduk di sampingnya.


“Baiklah, Mom … Kiyara dan Kak Dave izin dulu ya untuk ke kantin, Mommy mau dibelikan air jahe?”


“Boleh, Mommy mau.”


“Kalian apa mau titip sesuatu?” tanya Kiyara dan di balas gelengan oleh sahabat-sahabatnya itu.


“Baiklah, aku titip Mommy dulu ya, ayo Kak.”


**

__ADS_1


KANTIN


“Kak Dave, mau minum apa sama mau tambah lauk apa?” tanya Kiyara setalah mendudukkan diri di kursi kantin rumah sakit.


“Jahe hangat, sepertinya tambah gorengan rempeyek akan lebih enak dengan makanan yang Bunda bawakan,” jawab Dave dan Kiyara mengangguk setuju, sebelum dia beridiri untuk memesan minuman mereka.


Tadi, Kiyara sempat melihat di tempat makan yang di bawakan Bundanya, ada ayam bakar beserta tahu tempe bacem, serta urap-urap mungkin kan tambah nikmat dengan sambal terasi yang pedas beserta  lalapan segarnya.


Setelah memesan di satu stan yang sama Kiyara segera kembali ke tempat duduknya bersama Dave tadi, banyak hal yang harus mereka bicarakan saat ini, tentang Mommy dan tentunya tentang diri mereka ke depannya.


“Sudah menghubungi Daddy?” tanya Kiyara, sembari mendudukkan tubuhnya di depan Dave.


Pria yang sudah berstatus tunangannya itu menggelengkan kepalanya. “Kakak takut Daddy kepikiran, toh sekarang Mommy juga sudah bukan siapa-siapanya Daddy.”


“Maaf ya, acara lamaran kita harus seperti ini,” lirih Dave.


“Tidak ada yang salah Kak, memang harusnya seperti ini, jika tidak mungkin kita tak akan tahu Mommy sedang berjuang melawan sakitnya seorang diri.”


Dave, menghembuskan napasnya, bersyukur bertemu dan jatuh hati pada sosok dihadapannya itu. Mendengar jawaban Kiyara yang tulus serta sama dengan jawaban yang diberikan Kiyara pada Mommynya, Dave semakin di buat yakin akan ketulusan tunangannya itu.


“Terima kasih, sudah menerima aku, Mommy, Daddy, dan semua masa laluku dengan tulus,” ucap Dave.


“Tidak ada manusia sempurna, Kak. Aku juga terima kasih Kakak sudah menerimku apa adanya,” jawab Kiyara.

__ADS_1


Dave, mengangguk sembari menatap Kiyara. Dan dia baru menyadari jika mereka masih menggunakan baju lamaran tadi, Kiyara yang masih dengan kebaya yang corak bawahannya sama dengan corak  kemejanya, tapi kemudian dia mengedikkan bahunya acuh, toh ini di rumah sakit, semua yang datang bisa dalam keadaan dan kondisi apapun itu, seperti dirinya dan juga Kiyara saat ini.


“Emh, tadi Mommy apa ada cerita sesuatu yang berkaitan dengan sakitnya, Yang?” tanyanya.


Kiyara bersemu merah, meski bukan pertama kalinya Dave, memanggilnya dengan panggilan Sayang, tapi tetap saja Dave adalah pria pertana dan satu-satunya yang memanggil Sayang pada dirinya.


“Tadi, Mommy bercerita … katanya beliau dulu sudah pernah sakit kanker payudara sewaktu masih muda, tapi karena sudah diketahui sejak awal jadi langsung mendapat penanganan dan bisa sembuh, entah apa yang menjadi pemicu sudah satu tahun belakangan ini kankernya tumbuh lagi dan mungkin sekarang drop karena terlalu lelah mengurus acara pertunangan kita Kak,” ucap Kiyara.


Dave, menganggukkan kepalanya tadi dia sempat mendengar Kiyara bebicara dengan Mommynya, hanya perlu penjelasan lebih detail lagi saat ini.


“Permisi, Teh, A … ini pesenannya, air jahe dua, sambelan, tahu tempe sama lalapannya sama ini tadi tetehnya pinjem piring katanya, ini ya Tehh, A mangga.”


Obrolan mereka terhenti saat seorang pramusaji menyajikan pesanan mereka di atas meja.


“Iya, Bu terima kasih.”


Kiyara dengan sigap menata makanannya pada piring, lalu menyerahkannya pada Dave dan setelahnya baru mengambil makan untuk dirinya sendiri.


“Mama, katanya kalau prince itu sama princes, tapi kenapa Kakak tampan  sama Kakak Gendut itu?”


Deg …


"Apa aku tak pantas bersanding dengan Kak Dave?" batin Kiyara memandang sendu lelaki di depannya itu.

__ADS_1


__ADS_2