
POV DAVE
Katanya hidup bersama kedua orang tua yang lengkap adalah suatu kebahagiaan bagi anak-anaknya. Tapi itu semua tak berarti untukku. Entah bagaimana mulanya, yang jelas teringat di benakku adalah Mommy yang terus menerus menangis dan perhatiannya perlahan tapi pasti menguap begitu saja, pertengkaran kecil sampai besar silih berganti menghiasi hari-hariku yang semula tentram dan penuh kasih sayang.
Bertahun-tahun hidup ditemani keramaian yang menyesakkan hati, menjadikanku sosok lain yang tak tersentuh, suka membuat onar, dan suka membully orang terlebih teman sendiri yang terlihat lemah. Sampai pada saat itu tiba, aku yang terbaring lemah di rumah sakit dirawat penuh kasih sayang oleh keluarga lain, keluarga dari seorang gadis gendut yang sering aku bully saat SMA dulu.
Malu rasanya, jika teringat masa itu. Tapi di satu sisi, semua yang terjadi kala itu menyadarkanku atas banyak hal, dan yang paling besar aku sesali adalah, ternyata aku telah melalui banyak waktu dengan percuma. Menjadi pelaku pembullyan agar terlihat kuat, tanpa memerhatikan mental orang yang sudah menjadi korbanku. Sorry ... please !
"Dave, kamu melamun, Nak?"
"Eh, Mommy ... nggak Mom, lagi kepikiran masa lalu aja hehe, Mommy udah selesai masaknya?" tanyaku.
"Udah, dari tadi juga Mommy udah manggilin kamu tapi kamunya nggak ke belakang-belakang, jadi weh Mommy samperin dulu tau-taunya lagi ngelamun."
"Hehe, sorry Mom."
__ADS_1
Mommy, hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahku. Kini aku dan Mommy berjalan menuju ruang makan rumah untuk menyantap makan malam yang sudah dibuat dengan setulus hati oleh Mommy.
"Wahh, Mommy masak makanan kesukaanku, makasih Mom," ujarku setelah melihat makanan yang ada di atas meja, semua menu yang ada adalah menu kesukaanku.
Ada nasi liwet, cumi asin yang di tumis dengan bawang merah, bawang putih serta cabe, ada ayam goreng rempah juga, dan jangan lupakan sambal terasi serta lalapan yang begitu menggugah selera, seperti biasa ini adalah cara Mommy untuk membuatku melupakan permasalahan yang terjadi dengan makanan.
Jika boleh jujur, memang hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagiku. Karena, rasanya hampir semua emosi meluap begitu saja ke permukaan, akibat hadirnya seorang yang dulu pernah begitu aku banggakan.
"Ayo, makan ..."
"Siap, Mom ... kita habiskan berdua," ucapku sembari menarik kursi untuk aku dudukki.
"Wah, terima kasih Sayang," ucap Mommy setelah menerima uluran piring dariku.
"Sama-sama Mom."
__ADS_1
Rasanya aku harus berterima kasih dengan benar kepada keluarga Kiyara, karena lagi-lagi mereka telah menolongku dan Mommy. Beruntung sekali kenal baik dengan keluarga Kiyara, sehingga bisa melindungiku dan Mommy dari Daddy yang kali ini tak berhasil menemukanku dan Mommy.
Bunda begitu baik pada Mommy, mendukung Mommy dengan begitu semangat seperti seorang Kakak yang melindungi Adiknya sendiri. Ayah, pun sama baiknya, beliau bahkan dengan sengaja mengorek kehidupan Daddy dan yang tak ku sangka adalah beliau merekam pembicaraannya sendiri, katanya agar aku dan Mommy bisa mengambil langkah yang benar untuk ke depannya. Dan jangan lupakan Kiyar yang begiyu care terhadap Mommy.
"Nak, masyaAllah ... melamun terus."
"Eh, ya Allah Mom ... iya-iya sorry."
"Mikirin apa sih?"
"Kiyara, Mom ..."
"Serius?"
"Eh, nggak Mom ... salah ngomong."
__ADS_1
"Masak? beneran sih kalau kelihatannya .. emang Kiyara kenapa sih, sampek dilamunin dari tadi?"
"Serius, Mom ... aku salah ngomong."