Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
8. Bullying dan Bullying


__ADS_3

~Luka fisik bisa dilihat juga diobati, tapi luka hati?~


.


.


.


Kaki gendut berbalut kaos kaki coklat muda, juga sepatu flatshoes berwarna hitam menginjakkan kakinya di halaman kampus bergengsi di Bandung. Senyum cerah tak pernah luntur menemani langkah kakinya, senandung kecil lolos begitu saja dari bibir tipisnya.


“Heyyy … Ra, sini buru … !” teriak Cakra dari bangku paling ujung taman kampus di dekat Fakultas Teknik Sipil Dan Lingkungan (FTSL).


Kiyara, gadis itu … menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “Alhamdulillah, nggak telat dan masih ditungguin sama mereka,” monolognya ketika melihat teman-temannya masih menunggu dengan setia.


Hari ini adalah hari terakhir pembekalan persiapan masa OSPEK MABA sebelum hari jumat lusa, Kiyara dan tim mentor FTSL berangkat DIKLAT di daerah Lembang. Acara pembekalan kali ini adalah keliling gedung FTSL, sebagai mentor yang berasal dari luar FTSL … pembekalan kali ini cukup krusial bagi Kiyara, karena sebagai mentor MABA FTSL tentunya dia harus hapal di luar kepala denah-denah tentang FTSL, terlebih mengenai letak-letak laboratorium dan fasilitas umum lainnya.


“Assalamu’alaikum …” Kiyara mengucapkan salam sembari duduk di sebalah Timi.


“Wa’alaikumsalam …,” jawab keempat temannya, serempak.


“Ayo, berdiri nggak pakai acara ngaso dulu ini udah kurang 7 menitan menuju pembekalan,” ajak Edo yang kini sudah berdiri sembari memasukkan smartphonenya ke dalam saku kemeja.


Kiyara tertunduk lesu, baru saja duduk sudah di ajak move lagi. “Okelah.”


“Oh, iya ini katanya ada pemateri baru dari FTSL, tapi baru bisa gabung hari ini … denger-denger dia ini cowok paling populer di dunia kepanitiaan dan kepengurusan, BEM, dan sekarang SENAT, kalo nggak salah namanya Bang Tama … bener nggak tuh Cak?” tanya Fani.


“Bener, namanya Bang Tama. Dia baru bisa gabung sama kita-kita soalnya dia abis ikut acara workshop pengusaha muda di Jakarta, baru balik tadi dan langsung ke kampus buat ngasih materi ke mentor dari beberapa fakultas mangkannya nanti ada materi tambahan selain keliling FTSL,” sambung Cakra.


“Eh, itu kan workshop yang diikuti Kak Dafa,” monolog Kiyara dalam hati.

__ADS_1


“Waooow … bikin pingin pindah jurusan, gue … !” pekik Timi.


“Enakan juga di jurusan kita, Tim …  nggak banyak cowok di kelas, jadi kelas selalu kondusif,” ujar Kiyara sembari terus berjalan, menyusuri koridor kampus, mengabaikan tatapan tajam teman sejurusannya.


“Anak biologi lagi berantem, wkwkwk. Iya, deh enakkan biologi, anaknya pendiem semua, banyak cewek cantiknya nggak kayak Nak Teknik,” seloroh Cakra yang memang anak FTSL.


“Husssttt … diem semua, semua jurusan itu enak semua kok, apalagi kalo ada someone special, hihihi … eumm bahagianya hidup,” ucap Fani sembari senyum-senyum sendiri.


Puk … Timi memukul bahu Fani, gemas. “Dasar, bucinnya Edo … !”


“Hahaha … biarin wlee … yuk, ah Beb … males jalan sama jomlo-jomlo akut.” Fani menarik lengan Edo dan berjalan mendahului ketiga temannya.


Aula FTSL sudah tampak ramai, banyak mentor FTSL yang sudah berkumpul, meski dari beberapa fakultas yang berbeda tapi semuanya tampak akrab, membaur jadi satu, tak terkecuali Kiyara. Sampai suara bariton, terdengar mengintrupsi.


“Mohon, perhatiannya … teman-teman semua, hari ini kita kedatangan kating yang luar biasa, baik di dunia perkuliahan, organisasi, UKM, juga usahanya di luar kampus … dan siapa lagi jika bukan Bang Tama … ! silakan Bang … !”


Derap langkah tegas juga terkesan berwibawa menggema di aula FTSL, sosok tinggi, berkarisma berjalan dengan tenangnya menuju depan aula, mendatangi pria yang tadi menyambutnya dengan segala pujian.


“Pagiiii …” jawab serempak para mentor FTSL tak kalah semangat.


Kiyara hanya terdiam melihat wajah yang tak asing di penglihatan juga ingatannya. “Dia … kan pria itu … !” monolog Kiyara dalam hati.


Pikirannya masih melayang-layang, demi mengingat kejadian beberapa tahun silam yang membuatnya teramat sakit. Difitnah, dihina, dijauhi, membuatnya merasa rendah diri … merasa tak pantas berada di lingkungan manapun termasuk di dalam lingkup keluarganya sendiri. Masa-masa kelamnya menyeruak tanpa aba-aba.


 “Pinteran juga Adik gue … ! dia lebih cantik, lebih segala-galanya dibanding lu, cewek gendut … !”


“Dia mencontek jawaban saya, Bu … !”


“Jangan pernah masuk sekolah yang sama dengan Adik gue lagi … !”

__ADS_1


Sampai sebuah tepukan singkat di bahunya menyadarkan Kiyara dari bayangan masa lalu.


“Ki, giliran kamu memperkenalkan diri.” Kiyara mengerjapkan beberapa kali matanya, berapa lama dia melamun? Sampai semua mata sudah tertuju padanya.


Kiyara menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dari duduknya. “Assalamu’alaikum … selamat pagi semua, perkenalkan saya Kiyara Mentari dari Fakultas Mipa.”


Saat semuanya memperkenalkan diri di tujukkan kepada pemateri baru, lain dengan Kiyara yang untuk kesekian kalinya malah memperkenalkan dirinya kepada teman-teman kofas. “Kiyara, please focus ini perkenalan diri untuk pemateri kita … bukan untuk teman-teman mentor yang jelas mereka sudah mengetahuimu, kegiatan pembekalan kofaskan sudah hari terakhir.”


Kiyara menundukkan kepalanya, dalam hatinya dia takut akan terkena bullying kembali. Bertemu orang-orang lama di masa kelamnya, selalu membuat rasa rendah diri itu datang kembali. “I am so sorry … for that.”


“Tidak masalah, aku memahaminya … ! lebih baik kita masuk ke dalam materi saja, biar nanti keliling area FTSLnya nggak kesiangan.” Tama, pria itu sudah mulai mengambil alih acara. Sesekali tatapan tajam penuh intimidasi dilayangkan Tama kepada Kiyara, yang tampak tak menikmati acara terakhir hari ini.


“Ya Allah … aku takut sekali tatapan mata itu, tatapan yang sama, yang pernah aku lihat saat dulu masih SMP. Dia tidak pernah berubah, apa dia masih membenciku dan akan kembali membullyku? Atas kesalahan yang tak pernah aku perbuat dan aku harus kembali menanggung beban itu?” monolog Kiyara dalam hati.


“… dalam kegiatan OSPEK seperti ini, setiap panitia yang tergabung di dalamnya demi menyukseskan acara, adalah seseorang yang akan menjadi role mode bagi MABA, yang kebanyakkan dari mereka masih polos, belum tahu seluk beluk kampus, fakultasnya, dan mungkin juga jurusannya. Oleh karena itu, kita harus memiliki attitude yang bagus, cara berkomunikasi juga sangat memengaruhi, terlebih kalian adalah pemberi informasi dan pemilik jawaban dari setiap keraguan, rasa penasaran, dan lain sebaginya yang dialami dan dirasakan oleh MABA, apalagi kalian di devisi mentor, hampi 70% kalian yang paling sering bertemu dengan MABA -- Kamu yang pakai kerudung abu-abu, saya perhatikan dari tadi kenapa sibuk sendiri? Kamu tidak menghargai saya sebagai pemateri?”


Kiyara menunjuk dirinya sendiri, demi apapun hatinya kini seperti sedang dipukul berkali-kali. “Apa ini awal dari kejadian buruk yang sama seperti di masa lalu?” bisiknya dalam hati.


“Iya, kamu siapa lagi?” Tama, dia sudah berkacak pinggang, berdiri tegak di dekat meja nomor dua dari depan.


Kiyara gugup, sedangkan hatinya merutuki Tama, bagaimana bisa Tama menyimpulkan bahwaKiyara sibuk sendiri, padahal sedari tadi Kiyara hanya diam meski memang sesekali tampak melamun sembari menautkan kedua tangannya di atas meja, efek dari rasa takut dan khawatir yang memenuhi isi kepalanya.


“Maaf, Bang … !”


Tama berdecak sebal sembari melanjutkan lagi sesi materi, sementara panitia kofas lainnya sudah sibuk kembali dengan materi yang Tama sampaikan. Membuatnya tanpa sadar terbawa suasana, karena cara penyampaian materi yang lugas dan relate dengan kenyataan di lapangan sesekali kepalanya mengangguk dan tangannya sibuk menggerakkan bulpoin untuk menggoreskan tintanya pada kertas putih.


“Oke, kita sudah selesai materi juga sesi tanya jawabnya ya, sekarang silakan kalian keliling FTSL sama anak mentor dari FTSL, sebelum acara, saya limpahkan kembali ke Satria …  untuk anak mentor yang pakai kerudung abu-abu yang tadi saya tegur sewaktu materi untuk tetap tinggal di kelas.”


Deg … .

__ADS_1


Kiyara mendongakkan kepalanya, memandang nanar wajah laki-laki yang memberi interupsi tanpa bisa dibantah oleh siapapun. Sedangkan teman mentor lainnya, hanya memandangnya sekilas tak mau ikut campur terlalu jauh selain memberi kepalan tangan kepada Kiyara, pertanda semangat.


__ADS_2