
AUTHOR POV
Narendra, Nalendra, dan Papa Dave sudah siap dengan baju koko dan sarungnya saat adzan subuh mulai berkumandang sementara Mama Kiyara juga sudah siap menuju rumah depan karena baru saja Bunda Alana meneleponnya, mengatakan jika Nasyta baru bangun tidur dan menangis mencari Mama dan Papanya.
“Ayo, sekalian jalan … ngantar Mama dulu ke rumah Kakek,” ajak Dave sembari membenahi letak pecinya, penampilan yang selalu membuat Kiyara jatuh cinta lagi dan lagi pada orang yang sama jika melihat suaminya rapi dengan baju koko lengkap sepeci-pecinya seperti ini.
“Ayo,” jawab kedua anaknya dengan kompak.
“Sebentar Mama tutup pintu dulu,” ucap Kiyara.
Di tengah dinginnya udara Kota Bandung saat waktu subuh keempat orang itu berjalan beriringan untuk menyebrang rumah, menuju rumah orang tua Kiyara untuk menjemput gadis kecil yang sedang menangis sesenggukan saat telepon tadi, sepertinya lupa jika gadis kecil itu sendiri yang menginginkan untuk menginap di rumah Kakek dan Neneknya.
“Di sini aja dulu, salat di rumah Bunda, nanti kita jemput lagi ke sini,” pesan Dave pada Kiyara sebelum istrinya itu masuk ke dalam rumah orang tuanya.
“Iya, Mas …hati-hati ya, Boys, kalian jangan nakal ya … salat yang bener,” pesan Kiyara pada anak-anaknya.
“Siap, Ma …” jawab keduanya kompak.
“Ini nunggu Kakek, Uwa Dafa sama Kak El endak Pa?” tanya Rendra.
“Berangkat aja, biasanya Kakek sebelum adzan subuh sudah di masjid,” jawab Papa Dave yang memang sudah mengeathui kebiasaan Ayah mertuanya itu.
__ADS_1
“Betul, 100 buat Papa,” kata Kiyara sambil mengacungkan jempolnya.
“Sudah, sana berangkat telat nanti,” sambung Kiyara.
“Iya, dadah Mama … ayo Pa,” ajak Lendra sambil menarik tangan Papanya.
Kiyara, tersenyum lembut melihat ketiga prianya berjalan beriringan menuju masjid kompleks, melihat pemandangan seperti ini selalu membuatnya tak menyangka, bahwa kehidupan selalu mempunyai caranya tersendiri untuk membuat orang merasa takjub dengan takdir yang menghampirinya setelah kepahitan yang terasa tak berkesudahan sudah dilalui dengan kesabaran yang tiada tara.
“Alhamdulillah Ya Allah, Engkau selalu memberiku nikmat yang tiada terkira kepada hambaMu ini,” lirih Kiyara sebelum melangkahkan kakinya lagi.
Saat sudah di teras rumah orang tuanya, Kiyara mendengar suara tangis anak perempuannya. Membuat dia kasihan juga merasa lucu sekaligus, Nasyta sendiri yang meminta menginap di sini tapi malah berujung tangisan. Tapi bagi Kiyara, anaknya sudah cukup hebat, tidak meminta pulang tengah malam lagi, karena dulu pernah begitu … belum lama bahkan, baru dua bulan yang lalu. Nasyta anak perempuannya itu memang cukup dekat dengan Nenek dan Kakeknya, ketimbag Narendra dan Nalendra, jadi lebih sering meminta menginap di rumah orang tua Kiyara.
“Mama … huwaaaa … aku ditinggal sendilian di sini, huwaaa …”
“Huwaaa … Mama bohong,” ucap Nasyta yang kini sudah berada di gendongan Mamanya, membuat Nenek, Uwa Asti, dan Mamanya tertawa lirih.
“Kok ketawa?” rajuk Nasyta.
“Nggak … siapa yang ketawa, Mama cuman lucu aja, kemarin Nasyta sendiri loh yang minta antar ke rumah Nenek sama Mama, sesudah Mama membetulkan perbannya Abang,” ucap Kiyara lembut sambil mengusap pelan rambut lurus anaknya itu.
“Iya? Mama tidak bohong?” tanya Nasyta sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
“Iya, Mama nggak bohong coba deh sama Kakak diingat-ingat, jangan cengeng seperti ini, jelek tahu kalau menangis seperti ini, nanti cantiknya Kakak hilang di bawa sama air mata yang mengalir ini,” ucap Kiyara dengan lembut untuk membujuk anaknya itu.
Beberapa menit mereka terdiam, hanya terdengar isakan kecil dari bibir mungil Nasyta. “Heum, Syta ingat … Syta yang minta diantal Mama kemalin pagi-pagi ke sini,” lirih Nasyta sembari semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Mamanya.
“Ya, sudah sekarang ayo masuk salat subuh berjamaah biar Nenek imami,” ucap Bunda Alana.
“Iya, ayo Nek … kita salat subuh,” ucap Asti sambil menggandeng adek iparnya agar masuk ke dalam rumah.
~~
Siang ini, Dave bersama keluarga kecilnya sedang berada di tempat wisata alam di daerah Bandung Barat. Ketimbang mengajak anak-anaknya bermain di play ground dalam mall, Dave lebih suka mengajak anak-anaknya bermain outbond di tempat wisata alam seperti ini, karena bisa mengajarkan banyak hal sekaligus, terutama mencintai alam sekitar dengan baik.
“Anak-anak pada seneng banget gituh ya, ketawanya lepas banget,” ujar Dave pada istrinya, mereka berdua tengah asyik melihat dan menemani anak-anaknya bermain di wahana flying fox di dampingi oleh pemandu wisata di sana.
“Iya, oh iya Mas, aku mau tanya nih … tadi pagi aku ditanyain sama ibu-ibu kompleks waktu belanja, anak-anak apa nggak dimasukkan ke PAUD yang ada di deket lapangan itu loh,” ucap Kiyara.
“Aku rasa nanti saja sekalian setelah tes IQ dan EQ, setelah anak-anak usianya sudah 5 tahun, gimana menurut kamu?”
Kiyara, mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku juga sempat berpikir seperti itu, Mas … toh anak-anak kita pergaulannya bagus, maksudnya iteraksi sama orang lain bagus mau temen sebaya, ataupun usia yang ada di bawah dan di atasnya, sudah bisa calistung juga, meski dalam membaca masih mengeja dan menulis masih belum rapi.”
“Iya, ya sudah begitu saja … biar kita masih punya banyak waktu sebelum anak-anak harus pergi sekolah tiap hari. Sekarang ayo ikut main sama anak-anak,” ajak Dave pada istrinya itu.
__ADS_1
“Iya.”