
AUTHOR POV
KANTOR DAVE
Tumpukkan berkas yang tak kunjung usai untuk ia periksa membuatnya sedikit pening, rasanya sangat berat membagi otaknya untuk mengerjakan berbagai hal yang berkaitan dengan dua perusahaan yang sedang ia pegang sekarang, meski niatnya pergi ke kantor terus sekalian untuk menghilangkan kesedihannya tapi tetap saja membuatnya jadi berpikir keras. Beruntung dia memiliki asisten yang terparcaya di kantor hasil jerih payahnya sendiri itu, juga sekretaris laki-lakinya yang baru dia rekrut setelah Arin datang ke rumahnya saat itu, ternyata memiliki Sekretaris yang se-gender membuatnya jauh lebih merasa aman karena tak mengundang kecurigaan sang istri apalagi sekretaris lamanya, Arin adalah tipe cewek yang tak mau kalah, jadilah dia memindahkan Arin untuk menjadi sekretaris direktur keungan yang sudah memiliki usia matang agar lebih semangat bekerja jika memiliki asisten yang lebih muda karena semangat muda yang menular, pikir Dave.
“Kapan semua ini akan berakhir, astaga kepalaku … kasihan sekali,” ucap Dave.
“Aku harus segera mendapatkan asisten yang kompeten, di perusahan ini. Lagian ya Daddy encer bener, bisa ngurus sendirian kayak gini cuman pakai sekretaris astaga Daddy, aku tak habis pikir,” gerutu Dave.
Semenjak, perusahaan yang dirintisnya sendiri bangkrut saat masih bersama dengan selingkuhannya Daddy Jeff tak lagi memercayai orang begitu saja sehingga lebih mengandalkan pada dirinya sendiri, jadi semenjak ia mendapat amanah untuk menjaga perusahaan ini ia tak mengandalkan orang lain begitu saja.
Drrrttt … drrt …
“Kenapa nih Bang Dafa telepon, tumben banget,” guman Dave setelah melihat layar hand phonenya dan tertera nama Kakak Ipar yang sedang memanggilnya.
Klik …
“Assalamu’alaikum Bang, ada apa?”
“Wa’alaikumsalam, sibuk?”
“Ya, begitulah Bang. Ada apa?”
“Kiyara di rumah, dia …”
“Kiyara kenapa Bang, dia nggak apa-apa kan?” potong Dave khawatir.
“Ish, dengerin dulu orang ngomong itu jangan main asal potong aja. Ini lah ngomong sama Grandpa aja.”
__ADS_1
“Iya … iya sorry, namanya juga khawatir.”
“Dave, ini Grandpa …”
“Iya, Grandpa ada apa?”
“Gini, Nak … nanti pulanglah lebih cepat apa bisa?”
Dave, menghela napasnya berat. “Belum tahu Grandpa, ada apa memangnya?”
“Jadi begini, Nak … istrimu itu ingin memeriksakan kandungan secepatnya karena kalau tidak salah seharusnya di bulan ke lima kemarin ya? Tepat di minggu ke 20 seharusnya dia sudah periksa kandungan? Kamu jangan menundanya lagi ya, kasihan dia … karena sangat mengkhawatirkan anak-anak kalian di dalam perutnya, pahami ya Nak, mengerti istrimu meski dia tidak pernah bilang apa-apa tentang kandungannya tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat mengkhawatirkan kehamilannya ini, nanti luangkan waktumu untuk memeriksa kandungan istrimu atau besok kamu cutilah antarkan istrimu ke dokter kandungan, jika masih belum bisa izinkan Ayah mertuamu atau Kakak iparmu.”
Deg …
Jantung Dave serasa di pompa dengan kuat, terlalu sibuk bekerja dia melupakan ini. Bukan melupakan jadwal periksa kandungannya tetapi, melupakan jika istrinya sedang hamil kembar 3 dan ini merupakan kehamilan pertama, terlabih istrinya itu pernah mengalami keguguran, sehingga pastilah ada khawatir berlebih yang menghinggap di hati istrinya itu, kenapa ia tak paham akan hal itu? Kenapa musti diingatkan Grandpanya baru dia memikirkan ini semua. Terlalu sibuk bekerja setelah kepergian orang tuanya, selain untuk menunaikan kewajibannya memimpin perusahaan yang sekalian untuk menyeliwurkan kesedihan dan rasa kehilangannya, Dave sampai lupa jika di rumah ada istrinya yang harus ia perhatikan juga, bukan hanya bertanya bagaimana kandunganmu hari ini? Tanpa melihat dan merasakan kekhawatiran istrinya yang akhir-akhir ini menjadi pendiam.
“Iya, Grandpa nanti Dave akan pulang cepat dan besok Dave usahakan mengambil cuti,” jawab Dave.
“Apa Kiyara mengidam, Grandpa?” tanya Dave.
“Tidak, itu Grandpa yang mau.”
“Astaga, aku kira Kiyara yang mengidam,” gumam Dave, karena berpikir istrinya tengah mengidam eh ternyata malah Grandpa yang mengidam.
“Tidak, istrimukan memang jarang mengidam atau bahkan belum pernah karena selama Grandpa tahu dia tak pernah meminta ini itu kepadamu, atau ya tanyakan saja Grandpa takut ngidamnya pun dia sembunyikan dari kamu.”
Deg …
“Ah, Grandpa ini selalu saja membuatku merasa bersalah. Sudah-sudah aku akan meneleponnya sendiri.”
__ADS_1
“Ya … ya … ya … Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Haaaaaa … Dave maraup kasar wajahnya. “Aku terlalu egois memikirkan diriku sendiri, sampai mengabaikan istri dan baby triplets. Aku harus segera menyelesaikan in dan menelepon Kiyara, barangkali ada yang mau di makan sekalian aku pulang saja.”
Tok … tok … tok …
“Masuk!”
“Permisi, Pak ada tamu namanya Tuan Rendi … katanya teman Bapak,” ucap sekretarisnya yang juga laki-laki, baru Dave ganti 2 minggu ini karena dulu sekretaris Daddynya juga wanita.
“Suruh masuk.”
Tak berselang lama Rendi sudah masuk ke dalam ruangan Dave dengan pakaian santainya, membuat Dave mengernyitkan dahinya heran.
“Nggak kerja lu?” tanya Dave.
“Di usir dari kantor,” jawab Rendi dengan santai.
“Lah, kenapa?”
“Ada yang nilep duit proyek eh pas di usut buktinya ngarah ke gue, padahal gue nggak tahu menahu soal proyek ini, soalnya bukan gue yang pegang. Dan bokap kecewa sama gue, gue dipecat secara tidak hormat dari kantor Bokap gue sendiri, berasa di anak tirikan gue Dave,” keluh Rendi dan langsung mendapat binar harapan dari Dave.
“Mending lu kerja sama gue aja jadi asisten gue di sini, atau lu mau pegang kantor almarhum bokap gue ini?” tanya Dave penuh harap.
“Ha, gile lu main suruh pegang-pegang aja lu kira ni kantor mainan apa?”
“Haaahhhh … andai aja Ren begitu, gue nggak bakal se-stress ini. Kasihan bini gue, tahu gue sibuk dia ngalah banget nggak mau minta ini itu sama gue, pas gue bilang jadwal USG nanti ya diundur dulu dia cuman bilang ‘iya kerja aja, jangan kecewain Grandpa’ tanpa sadar gue yang malah buat dia kecewea. Aslinya kita punya solusi yang bisa saling menguntungkan Rend, lu kerja di sini dan buktiin sama Bonyok lu kalau lu bisa berdiri sendiri di atas kaki lu, dan gue bisa sedikit lebih tenang kalau lu yang gue percaya buat megang perusahaan ini dan lebih fokus sama kehamilan istri gue. Jujur aja, gue sekarang lagi takut banget sama kondisi istri dan anak-anak gue mereka berempat semakin lama semakin mempertaruhkan nyawanya untuk proses lahiran yang kurang beberapa bulan lagi, sementara gue? Gue sama sekali nggak bisa bantu apa-apa buat mereka bahkan sekarang waktu aja gue cuman ngasih sisa dari sisa waktu bekerja, Papa yang payah!”
__ADS_1
“Ya, sudahlah lu emang bener ini solusi yang menguntungkan untuk kita berdua. Tapi gue mau jadi asisten lu aja deh,” ucap Rendi yang membenarkan ucapan Dave sekaligus melihat raut wajah sahabatnya itu yang sangat tertekan membuatnya iba.
“Thank you, Brotha …”