
~Katanya, senakal-nakalnya laki-laki, mereka tetap mencari wanita baik-baik untuk menjadi ibu dari anak-anaknya, tapi jangan lupa wanita juga berhak memutuskan dengan siapa dia akan bersanding~
Bandung sedang diguyur hujan lebat, membuat kebanyakan orang lebih memilih untuk tetap tinggal di dalam rumah ketimbang keluyuran di luar sana. Hal ini juga berlaku bagi Kiyara, gadis gendut itu sedang sibuk mengobrak-abrik tumpukkan bukunya, membuat kamar yang semula rapi kini sudah seperti kapal pecah.
“Kemana buku diaryku yang dari Agam, padahal aku lagi pingin baca …” monolognya sembari terus memilah buku-buku.
Huh …. Ia menghembuskan napasnya kasar. “Tanya Bunda aja deh, siapa tahu Bunda yang nyimpen waktu beberes kamar.”
Gadis gendut itu, melangkahkan kakinya menuju dapur di mana Bundanya berada selepas sholat maghrib.
“Dek …” panggil Dafa saat melihat Kiyara menuruni anak tangga.
“Iya, Kak.”
“Sini … !” Kiyara menurut, menghampiri Dafa yang tengah duduk di depan televisi.
“Ada apa, Kak … ?”
“Nggak apa-apa, cuma mau bilang kalau tas kamu di bawa sama Tama, diamanin ma dia,
jangan nyariin. Besok katanya mau dianter ke sini.”
“Kak … ,” ucap Kiyara memelas. “Kenapa mesti dianter, biar aja seharusnya … tadi juga kalau nggak dibawa sama Bang Tama pasti dibawa sama temen-temen aku. Aku masih suka deg-degan sampek berasa pusing di kepala kalau lihat Bang Tama, Kak. Takut … !”
Dafa, menghembuskan napasnya berat … dia dilema, takut adiknya kenapa-kenapa tapi
untuk mempertemukan di situasi berbeda antara Tama dan Kiyara seperti dalam situasi yang tenang dan aman, bisa membantu Kiyara sembuh dari rasa takutnya, minimal Kiyara bisa lebih santai bila bertemu dengan Tama.
“Kan ketemunya di rumah, ada Kakak … Bunda sama Ayah juga, kamu bakal aman tenang
aja.”
“Yaudah, Kak … biar Kiyara coba.”
“Nah gituh dong … baru Adek, Kakak …”
Kiyara, hampir saja melangkahkan kakinya kembali, tapi urung karena rasa penasarannya
yang tinggi. “ Emh … Kakak kenal baik sama Bang Tama? Kenapa kayak udah kenal lama? Akrab banget …”
__ADS_1
“Dia, temen bisnis Kakak … sebelumnya Kakak juga pernah ngehajar dia waktu Kakak masih kuliah S1 dulu, waktu kamu masih SMP itu …”
Kiyara langsung mendudukan dirinya di samping Dafa. “Kenapa dihajar Kak? Nanti kalau dia makin benci terus bully aku lagi
gimana Kak?”
“Nggak bakal, karena setelah kejadian itu dia minta maaf … terlebih ketika dia mulai masuk perguruan tinggi dan memulai bisnisnya … sering ketemu sama Kakak juga, tanya-tanya keadaan kamu dan dia janji bakal ngubah sikapnya dan minta maaf sama kamu.”
Kiyara menganggukkan kepalanya. “Yaudah Kak, makasih ya udah selalu jagain Kiyara. Aku
ke Bunda dulu ya.” Dafa menganggukkan kepalanya lalu kembali fokus pada tayangan televisi di hadapannya.
“Bun … ,” ucap Kiyara, saat sudah di dapur.
“Iya … ?”
“Bunda, tahu buku sampul biru nggak? Yang ada tulisannya ‘Verba Vollant Scripta Manent’ ?”
“Emh … enggak lihat deh Dek … hari ini Bunda nggak beresin kamar kamu … udah rapi dan bersih tadi Bunda lihat.”
“Gitu ya, Bun. Yaudah deh, aku bantuin Bunda aja di sini.”
Malam terasa sangat panjang bagi Kiyara, terlebih gawainya ternyata juga berada di
dalam tas yang tadi pagi dia bawa ke kampusnya, bertambah resah saja gadis itu.
Duduk termenung di balkon kamarnya, Kiyara menatap pekatnya langit malam, tak ada gemerlap bintang dan sinar bulan yang menemaninya malam ini, hanya hembusan
angin malam selepas hujan turun yang setia hilir mudik menerpa tubuhnya.
“Oh, iya … tadi yang chat Kak Dafa siapa ya … Lele Mata Biru? Tangan dengan tanda lahir seperti itu mungkin nggak sih banyak orang memiliki itu. Apa Lele Mata Biru itu, Kak Dave? Tapi kalau iya, kenapa pagi tadi dia bahas Kak Dave?.”
Dari balkon sebelah kamarnya Kiyara mendengar suara sang kakak yang tengah tertawa dengan suara yang cukup mengganggu waktu meditasinya, jiwa keponya meronta
ingin melihat si kakak yang cekikikan malam-malam seperti ini, apa dia sudah memiliki pujaan hati sehingga sesenang itu? Pikir Kiyara.
Gadis gendut berbalut piyama panjang dan kerudung bergo berbahan jersey itu beranjak
dari duduknya dan berjalan perlahan untuk mengintip si kakak dari pembatas balkon kamar mereka.
__ADS_1
“Iyalah, Bang … nggak bego juga kali gue. Sebobrok-bobroknya gue, tetep pingin dapet
pendamping hidup yang bisa nyegerin hati bukan cuman mata gue doang.”
Suara pria dari sebrang telepon sana yang terdengar sangat familiar di telinganya, membuat Kiyara semakin dibuat penasaran. Setelah mengintip sedikit, Kiyara menganggukkan kepalanya lalu kembali berjongkok. “Oh ternyata vicall, tumbenan si Kakak teh,” monolognya lirih.
“Heh, Lele … inget, kita sebagai cowok okelah boleh milih siapa aja yang kita mau buat jadi pendamping hidup kita, tapi lu mesti inget mereka perempuan juga berhak nolak kita jika ada sesuatu didiri kita yang nggak sesuai dengan mereka. So, keputusan tetap ada di kaum mereka, Bro.”
“Hahaha … kalo cewek tampang pas-pasan pastilah langsung gercep, Bang … !”
“Gila lu, yang langsung gercep itu cewek yang nggak punya pemikiran panjang dan iman
cetek, nggak minta pendapat BoNyok atau orang yang dituakan dalam keluarganya dulu main terkem aja ya, wassalam … bablas Le.”
Deg … .
Kiyara memegang dadanya, sedikit terusik dengan percakapan sang kakak dan pria yang
dipanggil Lele oleh Dafa. “Apa, perempuan sepertiku juga bisa memilih kepada siapa nanti aku ingin mengarungi biduk rumah tangga?” lirihnya.
“Adik lu, gimana Bang kabarnya?” Kiyara mendelik, lalu menggelengkan kepalanya.
“Siapa tuh orang, kok tanya-tanya gue segala?” lirihnya kembali.
“Baik, dia. Cuman ya itu tadi yang gue cerita sama lu, kemungkinan mimisan atau pusingnya sering muncul kalau traumanya kambuh lagi.”
Kiyara semakin menggelengkan kepalanya, tak percaya. “Kenapa Kak Dafa cerita masalahku
sama orang lain?” Pandangan Kiyara buram, air matanya mengalir seketika dan terdengar suara isakkannya.
“Bentar, Le.” Dari layar gawainya Dafa bisa melihat teman vicallnya sedang menganggukkan kepalanya.
“Kiyara … kamu kenapa, Dek?” tanya Dafa yang kini sudah berdiri di dekat tembok pemisah
balkon kamar mereka.
“Kak Dafa, jahat … kenapa cerita masalah Kiyara sama orang lain? Mau mempermalukan
Kiyara seperti teman-teman Kiyara?” bentak Kiyara sembari mengusap air matanya yang terus saja mengalir, mengabaikan tatapan mata berwarna biru dari balik layar gawai Dafa yang melihatnya iba juga merasa sedih.
__ADS_1
Brak … .