
“Kakak tahu kalau Kakak bukan anaknya Bunda itu sejak SMP ?”
Dafa mengangguk lalu tersenyum kecut. “Awalnya Kakak udah ngira waktu SD dulu, waktu lihat album keluarga. Kalau kamu inget, di album fotokan ada foto Ayah, Kakak, dan Bunda yang lagi hamil kamu, foto kamu bayi, batita, balita, foto awal sekolah kita dan semuanya ada, foto bayi dan balita Kakak memang ada cuman ngga runtut aja pun dengan orang dan tempat yang beda-beda apalagi foto Bunda pas lagi hamil Kakak kan nggak ada, dari situ Kakak udah pernah nyimpulin tapi, kembali lagi … kasih sayang Bunda ke Kakak dan kamu itu nggak pernah beda
selalu sama, jadi Kakak menepis dugaan Kakak waktu kecil. Tahu-tahu sewaktu SMP pas kita pulang ke Surabaya, ada wanita itu yang katanya Mama kandung Kakak, inget nggak sih yang kejadian di TP II dulu yang Kakak nggak sengaja nabrak anak kecil seusia kamu.”
Kiyara mengangguk, dia memang masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat dia sedang berlibur ke Surabaya dan diajak Mbah Kung dan Mbah Uti serta Pakde Reza sekeluarga untuk makan siang di mall. Kakaknya yang waktu itu sedang mengantri untuk membelikannya ice cream malah tak sengaja menabrak anak kecil perempuan dan membuatnya jatuh, si Ibu yang semula marah-marah setelah melihat Ayah dan Bundanya datang untuk minta maaf malah menangis lalu memeluk erat Kakaknya itu. Awalnya Kiyara berpikir jika Ibu itu hanya takut karena Ayah yang terlihat marah saat itu, tapi kini dia tahu dengan pasti bahwa Ibu itu menangis karena kembali dipertemukan dengan anak yang telah dibuangnya dahulu.
__ADS_1
“Apa ada buktinya Kak, sampai Kakak langsung percaya?”
“Awalnya nggak percaya, tapi setelah hari di mana Kakak yang ngga sengaja ketemu sama wanita itu malam harinya Bunda dan Ayah cerita yang sebenarnya. Melihatkan akte kelahiran Kakak, foto sewaktu wanita itu hamil, foto waktu Kakak masih jadi bayi merah. Selama seminggu Kakak jadi malu dan sungkan kalau ketemu Bunda, merasa jadi orang asing di rumah Mbah Kung dan Mbah Uti di Surabaya saat itu, merasa bukan cucunya, kecewa sama diri sendiri juga, mau marah tapi nggak tahu harus marah sama siapa. Tapi Bunda dengan sabar selalu memberi Kakak pengertian dan Alhamdulillah sampai sekarang Bunda tetap jadi Ibu yang terbaikkkk buat Kakak, nggak ada gantinya.”
Kiyara, tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya … bersyukur memiliki Bunda yang sangat baik dan pengertian, selalu saja memiliki cara untuk membujuk anak-anaknya yang kadang suka merajuk. Tapi rasa khawatirnya masih saja menggelayut manja di dadanya. “Kakak, jangan pergi ya ! Apa Kakak lebih sayang sama Mama kandung Kakak dan Adik-adik Kakak yang lain?”
Dafa menggelengkan kepalanya. “Kakak lebih sayang Bunda, meski Mama adalah Ibu kandung Kakak tapi yang selalu ada buat Kakak selama ini ya Bunda. Dan jangan pernah berpikir kalau kasih sayang Kakak ke kamu bakal terkikis karena rasa sayang Kakak ke kamu dan dua adik Kakak lainnya itu beda. Kakak inget, pernah ngobrol sama seseorang di kereta sewaktu pulang dari Jakarta 5 tahun yang lalu. Beliau juga sama seperti Kakak, cuman bedanya beliau tidak di buang dan ditinggal pergi Ibu kandungnya, hanya saja hak asuhnya jatuh ke Ayahnya. 5
__ADS_1
sedarah dari Ibu kandung, entah ini ada penelitiannya atau enggak tapi Kakak merasakan hal yang sama.”
.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih telah membaca ...