
AUTHOR POV
Langit yang semula terang benderang, berubah menjadi gelap dan air langit juga sudah membasahi bumi. Cuaca memang sering berubah dengan cepat beberapa waktu belakangan ini, membuat orang-orang harus benar-benar menyediakan payung atau mantel saat menempuh perjalanan.
Langit seolah menumpahkan bebannya pada sore hari itu, sementara dua insan yang masih di dalam mobilnya diam termenung memandang rumah yang menjadi saksi pernikahan dadakan mereka. Tangannya masih saling bertaut, mengantarkan kekuatan tersendiri untuk menerima kenyataan yang di sampaikan oleh dokter kandungan tadi, saat benda dingin menyentuh permukaan kulit perut milik Kiyara.
“Mas, ini serius? Kok asa masih nggak percaya gini,” gumam Kiyara.
“Sama, Sayang … aku juga masih nggak percaya,” jawab Dave.
Pikiran keduanya melayang ke kejadian beberapa puluh menit yang lalu, saat monitor kecil menampilkan isi rahim Kiyara sembari ucapan Dokter Risma yang terus terngiang.
~
“Selamat Nak, ini sudah terbentuk janinnya, ada dua janin ini. Kalau dilihat dari ukurannya usia kandungan Nak Kiyara ini sudah jalan bulan ke dua, lebih tepatnya minggu ke-8. Bayi Nak Kiyara sudah sebesar kacang merah, bentuk wajahnya sudah terlihat ya, telinganya, bibir atas, dan ujung hidung sudah tampak, matanya juga sudah
terlihat. Wah lihat, ada satu lagi … ada tiga titik yang berbentuk seperti kacang merahnya Nak Kiyara, Nak Dave … selamat ya sekali lagi ada tiga ternyata ini, babynya.”
“Tiga, Dokter?” tanya Dave dan diangguki dengan yakin oleh Dokter Risma sembari kembali memperlihatkan dan menjelaskan apa yang ada di layar monitornya.
“Tapi, kok sudah 2 bulan saja dok? Padahal istri saya baru saja keguguran ya sekitar 2 bulan yang lalu juga,” tanya Dave yang masih bingung.
“Ini setelah kalian puasa, langsung tancep gas dan jadilah mereka bertiga. Mungkin setelah keguguran diresepkan penyubur kandungan juga Nak, jadinya cepet begini,” jawab Dokter Risma.
~
Semenjak tahu jika, Kiyara hamil bayi kembar tiga meski usia kandungannya masih sangat kecil baru dua bulan, membuat Dave sudah ketar-ketir di buatnya. Khawatir inilah, khawatir itulah, dan banyak hal yang kembali ia pikirkan, dan tentu saja sedikit merubah planningnya untuk beberapa waktu ke depan.
Tok … tok … tok …
__ADS_1
“Astaghfirullah, kaget,” ucap Kiyara saat melihat ke arah jendela.
“Mas, turun yuk itu sampek di susulin Kak Dafa,” sambung Kiyara yang masih melihat Kakaknya berdiri di samping mobilnya dengan memegang payung.
“Iya, ayo … kamu jalan sama Bang Dafa tapi hati-hati ya, jangan cepet-cepet jalannya takut kepleset,” ujar Dave.
“Siap, Mas.”
Klek …
“Kamu itu, kenapa malah jadi nongrong di dalem mobil, bikin Bunda khawatir aja mana hujan lebat kayak gini,” omel Dafa dan hanya di balas cengiran oleh adiknya itu yang semakin merapatkan tubuhnya agar tak terkena air hujan, sementara Dave pria itu masih di dalam mobilnya untuk beberapa saat sebelum pada akhirnya ikut menyusul ke dalam rumah tanpa payung.
“Huuuu … dingin banget,” ucap Dave yang kini sudah berada di teras rumah sembari mengibas-ngibaskan bajunya.
“Salah sendiri malah main ujan-ujanan, sana masuk bawa Kiyara istirahat kayaknya kok pucet gini mukanya, kalian ini kenapa sih aneh banget, pagi tadi Dave yang pucet sekarang Kiyara yang pucet,” gerutu Dafa.
“Kakak, kenapa jadi cerewet begini, sama aja kayak Mas Dave,” ketus Kiyara sembari berlalu meninggalkan dua pria yang kini tengah terbengong di depan pintu masuk.
“Dari rumah sakit, Bang. Yuk ah masuk,” ucap Dave sembari berlalu masuk meninggalkan Dafa yang masih berdiri di depan rumah.
“Heeeeyyyy, astaga … tuh duaan kenapa sih, kok aku jadi korbannya gini ditinggal sendirian, dasar ya huhh,” sungut Dafa.
Di ruang keluarga, semua orang sudah tampak berkumpul bahkan panggilan video juga dilakukan oleh Kiyara untuk menghubungi Mommy Sita dan Daddy Jeff, dia sangat ingin memberikan kabar bahagia ini. Meski tadi sempat tak bisa menguasai dirinya sendiri akibat letupan emosi yang terjadi karena masih shock dengan kabar yang ia terima, dan ketika sudah tahu dia hamil dua bulan rasanya ada yang aneh di dalam perutnya padahal pagi tadi rasanya biasa saja.
“Ada apa Sayang? Kenapa kita di kumpulkan semua seperti ini?” tanya Bunda Alana yang duduk di samping anak bungsunya itu.
“Iya, ada apa Nak?” tanya Mommy Sita dari layar gawai.
Kiyara, tersenyum tipis … lalu mengeluarkan satu test pack dari saku gamisnya. “Ini, Kiyara sama Mas Dave punya kejutan untuk kalian semua,” lirihnya sementara Dave yang duduk di sisi lainnya di sebelah Kiyara, hanya menyunggingkan senyumnya dan diam saja membiarkan apa yang istrinya lakukan karena ingin memberi kejutan pada keluarga besarnya.
__ADS_1
“Aaaah … alhamdulillah Ya Allah … kamu hamil Sayang, cucuku bertambah lagi,” pekik Bunda Alana yang mana itu berhasil membuat dua orang di sebrang sana memekik senang dan mengucap syukur tiada henti, sama halnya dengan Asti di ruangan itu, sementara Ayah Akbar dan Dafa bergantian menciumi pucuk kepala gadis kecil mereka, anak dan adik dari dua lelaki beda usia itu, mencurahkan rasa syukur.
“Alhamdulillah, senang sekali Mommy mendengarnya, sudah usia berapa bulan Sayang?” tanya Mommy Sita.
“Sudah 2 bulan, oh iya ini ada hasil USGnya sebentar aku ambilkan bukunya dulu,” ucap Kiyara sembari membuka tasnya untuk memberikan kejutan utamanya.
Srek …
“Sebentar, aku mau lihat paling pertama,” ucap Dafa setelah merebut buku hasil USG adiknya itu, membuat semua orang yang di sana melongo tak percaya dengan sikap Dafa.
“Ish, gemasnya … lucu sekali, tapi in ikok berasa ada yang beda ya sama hasil USG si El waktu dua bulan di kandungan Mamanya,” gumam Dafa yang membuat perhatian mereka semua beralih menatap Dafa kembali dengan pandangan penasaran, kecuali Dave dan Kiyara.
“Apa sih, sini-sini biar Bunda lihat,” kata Bunda Alana.
“Ini,” ucap Dafa sembari mengangsurkan buku dan foto USG ke arah Bundanya.
“Satu, dua, tiga? Sayang ini serius? Ka- kamu hamil 3 bayi? 3 Nak?” heboh Bunda Alana.
“Ha … 3 besan? Kembar 3? Kita akan punya cucu langsung 3?” heboh Mommy Sita yang langsung nyambung dengan ucapan besannya itu, sementara yang lainnya masih menganga tak percaya.
Kiyara, menganggukkan kepalanya. “Iya, Bunda, Mommy … kalian akan jadi Nenek dari 3 orang bayi lagi, hi hi hi. Selamat ya, Bunda, Ayah, Mommy, Daddy, he he he, selama juga yang mau jadi Uwa … sorry ya, ini langsung ke salip dua putaran,” ucap Kiyara sembari cekikikan melihat wajah melongo Kakaknya, orang yang paling shock di antara mereka semua.
“Padahal, aku yang beliin Kiyara test pack kenapa aku juga ikutan shock begini,” gerutu Dafa.
“Karena Bang Dafa kalah buntut,” bisik Dave.
“No … no … Sayang ayo kita ikut program bayi kembar,” ujar Dafa ke arah istrinya.
“Apaan sih A, ini El masih kecil gini mau nambah lagi kasihan tau.”
__ADS_1
“Hi hi hi, sorry Abang Sayang,” goda Dave lagi.