Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Menyinggung Masa Lalu


__ADS_3

AUTHOR POV


Dave, baru saja keluar dari salah satu rumah makan dengan menenteng beberapa kantung kresek. Membeli banyak sekaligus karena untuk di rumah mertuanya juga untuk di rumahnya sendiri karena sang istri menginginkan pulang ke rumahnya sendiri.  Kaki jenjangnya berjalan semakin cepat ke arah mobil, lalu setelah menaruh kantung-kantung itu di tempatnya, mobil yang ia kendarai melaju kembali di jalanan Kota Bandung.


“Kamu yakin langsung kembali ke rumah? nggak mau mampir dulu ke rumah Bunda?” tanya Bunda pada Kiyara saat mobil yang di kendarai menantunya memasuki kawasan perumahan mereka.


“Enggak, Bunda Kiyara mau bikin-bikin, he he he,” jawab Kiyara.


“Mau bikin apa? Jangan kecapekan loh ya, inget baby triplets,” pesan Ayah.


“Cuman mau bikin empek-empek, kok Yah … Bun … tenang saja, nggak perlu tenaga ekstra, nanti juga bisa minta bantuan sama Papanya anak-anak, ya kan Mas?”


Dave yang tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu pun langsung mengangukkan kepalanya dengan cepat.  “Iya, Bunda sama Ayah tenang saja, nanti Dave bantu Kiyara, toh hari ini Dave meliburkan diri.”


“Iya, nanti Grandpa juga bantuin, bantu icip aja he he he,” sambung Grandpa.


“Ah, Grandpa mah sukanya begitu,” ucap Kiyara meski begitu dia ikut tertawa bersama yang lainnya.

__ADS_1


“Grandpa mah istirahat saja, sudah siang begini sebentar lagi dhuhur, habis salat dan makan siang Grandpa istirahat saja, Dave nggak mau Grandpa kecapekan dan malah jatuh sakit,” ucap Dave, membuat Grandpa tersenyum haru, ternyata cucu yang salama ini dia sia-siakan adalah cucu yang bukan hanya tampan dan baik hatinya saja, melainkan juga hati dan perangainya. Membuatnya selalu merasa bersalah jika mengingat masa lalu, beruntung sebelum kepergian anak dan menantunya dia sudah berbaikkan dengan mereka sehingga sedikit mengurangi rasa bersalahnya pada kejadian masa lalu itu.


“Iya, Grandpa akan beristirahat nanti setelah salat duhur,” jawab Grandpa.


Mobil Dave sudah berhenti di depan halaman rumah mertuanya, mempersilakan mertuanya itu turun dan ia membawakan beberapa bungkus makanan yang tadi sempat ia beli untuk lauk makan siang.


“Terima kasih Bun, Yah, sudah mengantar kami hari ini,” ucap Dave dengan tulus, senang saja rasanya jika diperhatikan seperti ini oleh mertuanya, ikut mengantar memeriksakan istrinya di tengah-tengah kesibukan mertuanya itu.


“Tidak perlu berterima kasih Sayang, ini juga kami yang senang ya Yah, bisa melihat cucu-cucu kita, tenang dan senang lebih tepatnya karena bisa langsung tahu bagaimana kondisi Kiyara dan cucu-cucu kami, Nak,” ucap Bunda Alana sembari menerima uluran kantung berisi makanan.


“Iya, Dave betul kata Bunda kamu ini. Kemarin-kemarin, sebelum tidur pasti yang kita obrolin itu kehamilan Kiyara, sebagai orang tua tentu saja kami merasa khawatir dengan kehamilan kembar tiga ini, tapi di satu sisi juga senang. Tapi kadang ya, karena sudah pernah mengalami rasanya jadi sedikit ngeri dan khawatir berlebih saja, terutama Bunda kamu yang dulu pernah mengalami kehamilan, meski tunggal tapi ya sama saja namanya juga orang hamil sama-sama mempertaruhkan nyawa, nah ini kepikirannya jadi quarter, mikir Kiyara sama baby triplets rasanya tiap tambah bulan itu napas makin sesek karena kepikiran. Tapi alhamdulillah setelah tahu kondisinya dari penjelasan dokter tadi, Ayah dan Bunda jauh lebih tenang ya Bun,” ucap Ayah panjang lebar, bagaimana pun  namanya seorang Ayah pantang sekali melihat putrinya dalam keadaan sakit.


“Iya, Yah alhamdulillah sekali, Bunda mah.”


“Iya, Yah Bun, Dave juga lega mendengarnya, tapi putri Ayah dan Bunda jauh lebih hebat dari yang kita kira, Kiyara bahkan tidak pernah mengeluh pada Dave, apapun itu sampai kadang Dave was-was sendiri takut nggak terbuka sama Dave,” lirih Dave dan mendapat tepukan lembut di bahunya.


“Sudah tidak apa, yang penting kamu selalu ada di sisinya itu sudah jauh lebih baik bagi Kiyara.”

__ADS_1


“Ya sudah Yah, Bun, Dave pamit ya, terima kasih … Assalamu’alaikum,” pamit Dave setelah menyalimi Ayah dan Bundanya.


Sementara itu di dalam mobil juga, Kiyara dan Grandpa sibuk mengobrol sampai satu yang menjanggal di hati Kiyara akhirnya Kiyara tanyakan pada Grandpa saat semua orang tengah berada di luar mobil.


“Sorry, Grandpa boleh Kiyara tanya?” ucap Kiyara.


“Tanya apa Girl?”


“Grandpa apa mualaf? Kata Mommy dulu Grandpa tidak menyetujui pernikahan Daddy Jeff dan Mommy Sita karena berbeda agama? Tapi kok Grandpa salat?”


Lelaki berusia hampir 80 tahun itu tersenyum, kepada cucu menantunya lalu pandangannya seketika sendu. “Iya, dulu Grandpa adalah orang yang taat pada agama Grandpa, sampai menghalangi cinta anak Grandpa sendiri dengan tega mencoretnya dari keluarga Grandpa di Jerman sana, sampai 10 tahun pertama setelah Daddy kamu pergi meninggalkan Grandpa, Grandpa mulai mencari tahu agama baru yang dianut Daddy kamu, sampai ada satu titik di hati Grandpa tiba-tiba rasanya tertarik dan titik-titik itu perlahan berubah menjadi sinar yang teramat terang bagi kehidupan Grandpa, dan tahun ke 11 setelah Daddy kamu pergi dari kehidupan Grandpa sebetulnya Grandpa sudah menjadi mualaf dan  mulai memantau Daddymu dari jauh,” jelas Grandpa.


“Ya Allah, Grandpa … maaf ya Grandpa, Kiyara jadi mengungkit masa lalu,” sesal Kiyara.


“No, Sayang ini bukan masalah, memang semua masa lalu kami sangat buruk. Sekarang saja, kadang Grandpa masih suka nggak enak gitu sama Dave, merasa bersalah, berasa berdosa, dan segalanya bercampur aduk jadi satu, melihatnya tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya, meski dia sudah punya kamu dan keluarga kamu di sisinya tetap saja dia anak yatim-piatu sekarang. Dada, Grandpa rasanya sesak setiap melihat Dave kadang-kadang masih suka termenung sendiri, mangkannya Grandpa memutuskan untuk tinggal di sini selama beberapa bulan, untuk menebus semua rasa bersalah Grandpa dulu pada cucu Grandpa ini. Meski Grandpa sudah tua, tapi tenang saja fisik dan pikiran Grandpa masih muda, he he he jadi tidak akan merepotkan kalian,” ucap Grandpa dengan panjang lebar.


“Grandpa, semua orang memiliki masa lalunya sendiri-sendiri, ketika sudah ada kata saling memaafkan maka Grandpa jangan lagi menyalahkan diri Granda dan menhukum diri Grandpa sendiri. Karena yang Kiyara tahu, Mas Dave adalah salah satu orang yang berhati besar, dia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan masa lalu, seperti pada kedua orang tuanya, dia juga tetap memaafkan dan memilih melupakannya apalagi permasalahan Grandpa dengan Mommy dan Daddy … yang sama sekali tak diketahui Mas Dave selama ini, dia hanya sekali itu saja marahnya karena merasa di tipu, tapi sekarang … kesini-kesini semuanya sudah dia lupakan. Grandpa jangan sedih lagi ya, dan satu hal Grandpa tidak pernah merepotkan kami, sama sekali.”

__ADS_1


Grandpa tersenyum cerah, merasa beruntung cucunya bisa mendapat wanita seperti Kiyara, meski di awal pertemuannya dia sempat memandang ragu cucu menantunya itu tapi setelah hidup bersama, rasa ragu itu berganti dengan rasa kagum dan syukur yang teramat besar.


__ADS_2