Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Kelam


__ADS_3

AUTHOR POV


“Aduh, geraham aku lepas, ah darahnya keluar banyak,” ucap seorang perempuan yang kin itengah berlarian mencari tisu.


“Ki, Kiyara … bangun Sayang kamu mimpi apa sampai berteriak seperti,” ucap Dave sembari menggoyangkan tubuh istrinya.


“Astaghfirullah, mimpi itu lagi. Loh Mas, perutku kok begini, bukannya aku sedang hamil?”


“Belum, kan kita di Singapura ini, harus jaga Mommy,” jawab suaminya.


“TIDAKKK …!” teriak Kiyara.


~~


“Sayang, are you okay?” tanya Dave sembari mengusap keringat yang mengucur deras dari pelipis istrinya itu.


“Hah … hah .. astaghfirullahaladzim, ke- kenapa bisa seperti itu, a-aku mimpi di dalam mimpi sewaktu aku tidur barusan tadi Mas, dan serasa nyata sekali, du-dulu sebelum kita lamaran malamnya aku mimpi gigiku tanggal dan banyak darah, ta-tadi aku mimpi hal yang sama tapi mimpinya di dalam mimpiku lagi, ah apa Mas paham dengan apa yang aku maksud,” ucap Kiyara dengan napas yang naik turun.


Dave, mengangguk paham intinya isrtinya itu sedang memimpikan dirinya sendiri yang sedang tidur dan bermimpi juga dalam mimpinya itu. “Berdoa saja Sayang, semoga tidak ada apa-apa … semoga hanya mimpi,” ucap sang suami sembari mendekap tubuh istrinya yang tampak bergetar ketakutan.


“Sudah, ya tenang … kasihan anak-anak kalau Mamanya begini, ayo aku peluk sama usap-usap perutnya ya, biar enak tidurnya,” sambung Dave lagi.


Dengan patuh Kiyara kembali membaringkan tubuhnya lagi di dekapan sang suami, meski pikirannya masih melayang-layang. Apalagi malam ini hanya ada dia dan suaminya saja, setelah acara tasyakuran beberapa hari yang lalu semua orang kembali sibuk dengan rutinitasnya masing-masing.


“Tidur, Sayang.”


“Emh, iya … Mas, jangan tinggalin aku ya, peluk aku terus,” pinta Kiyara sembari membetulkan posisi tidurnya karena meski baru usia 4 bulan perutnya sungguh membuat sulit untuk memposisikan tidur dengan nyaman.


“Iya Sayang, Mas akan selalu di sini peluk kamu, tenang ya besok Mommy juga bakalan ke sini sama Daddy, katanya mau bawain Triplets kupat tahu langganan Mommy yang pernah kita makan dulu.”


“Iya, Mas …”


Pada akhirnya mereka berdua kembali tertidur di malam yang pekat itu, dan terbangun kala suara adzan subuh sudah berkumandang.


“Mas salat di rumah aja, ya imamin aku,” rengek Kiyara.


“Iya, Sayang … yaudah ayo aku anter wudhu dulu,” ucap Dave karena sedari tadi istrnya itu merengek tak mau di tinggal sendirian.


Dengan sabar, Dave membawa istrinya ke kamar mandi menuntunya perlahan karena hamil kembar 3 membuat Kiyara merasa lebih berat membawa beban tubuhnya.

__ADS_1


“Besok kita pindah ke kamar bawah aja ya Sayang,” ucap Dave.


“Iya, Mas aku juga mau bilang begitu, udah nggak kuat naik turun tangga akunya juga,” jawab Kiyara.


Mereka salat dua rakaat sebelum subuh, lalu menunaikan salat wajib subuh … seperti biasa, dilanjutkan dengan berdzikir dan juga membaca beberapa ayat al-quran sampai sinar mentari pagi menyorot ruangan dari jendela yang sudah dibuka tirainya sedari subuh.


Drrtt … drrtt …


“Mas, hand phone kamu nih geter,” ucap Kiyara yang sedang duduk di kasur, sibuk membalur minyak zaitun di perutnya yang besar itu.


“Angkat aja, Yang gak apa-apa,” jawab Dave yang masih sibuk melipat sarung dan sajadahnya.


“Oke.”


“Assalamu’alaikum, Mommy …” ucap Kiyara dengan semangat.


“Wa’alaikumsalam, Sayang … kamu mau pesan sesuatu selain kupat tahu Sayang?”


“Tidak, Mommy … Kiyara hanya mau Mommy ke sini dengan selamat, udah itu saja,” jawab Kiyara yang membuat Dave menyunggingkan senyumnya mendengar jawaban istrinya itu.


“Baiklah Sayang, Mommy dan Daddy akan ke sana dengan hati-hati.”


“Sudah, ini deket perlintasan kereta.”


“Hati-hati … M.”


Nging …


Braghhhh … Srrrkkkk …


“Astaghfirullah,  …”


Ciiittttt …. Braghhhh …


“Haaaaaaaa … La illaha illallah … Da- Daddy … Ya Allah .. aaaa …”


Pranggg …


“M … Mas … Mas … to- tolong,” gumam Kiyara, rasanya seluruh tenaga yang dia miliki terserap habis oleh sesuatu yang ia dengar barusan.

__ADS_1


“Kenapa, Yang? Ada yang sakit, kenapa?” panik Dave.


“Mommy, sama Daddy, ta-tadi telepon sudah deket perlintasan kereta api tapi terus kayak ada suara benturan setelah suara kereta melaju. Aku takut,” jelas Kiyara yang membuat Dave mematung di tempatnya.


“Kamu aku anter ke rumah Bunda, aku mau ke sana buat mastiin,” titah Dave dan keduanya langsung sibuk mengambil barang yang mereka butuhkan, seperti hand phone, dompet, kunci mobil.


Sampai di palataran rumah orang tua Kiyara, keduanya turun dengan tergesa sampai seolah lupa jika si perempuan tengah mengandung dengan perut yang besar. Tapi suara dering hand phone milik Dave, membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya, di ruang tamu sementara sang istri sudah jalan terlebih dahulu ke dalam rumah.


“Jalan yang pelan, Dek kamu itu, bahaya!” teriak Dafa dari arah tangga rumahnya.


“Astaghfirullah, aku lupa,” lirih Kiyara.


“Kak, tolong temenin Mas Dave ke deket perlintasan kereta yang arah ke rumahnya Mas Dave,” pinta Kiyara melihat raut wajah suaminya yang semakin pias saja setelah menerima telepon.


“Mo-mommy sama Da- daddy kecelakaan, proses evakuasi sekarang,” ucap Dave tanpa diminta untuk menjelaskan perubahan wajah  yang tiba-tiba saja itu.


“Innalillahi, ya udah ayo gue yang nyetir … positif thngking okay, kamu kuat ayo. Kiyara kamu di rumah aja, ke Bunda sana cepetan jangan sendirian,” ucap Dafa yang kini langsung bergegas keluar rumah setengah berlari.


Beruntung pakaiannya sudah rapi, karena hendak berangkat kerja tapi ini urusan nyawa jauh lebih penting, pun dia tak ingin adik iparnya itu membawa mobil dengan keadaan kalut sehingga dia lebih memilih mengantar adik iparnya itu.


Sementara itu di rumah orang tua Kiyara, wanita hamil itu tengah sibuk mengatur napasnya yang terasa tersengal. Mencoba duduk di sofa ruang keluarga, keluarganya yang lain belum tahu dia ada di sini membuatnya seorang diri duduk bersandar di sofa sambil bersusah payah meraup oksigen. Efek dari gerakan spontan tadi, berjalan cepat, rasa panik, dan khawatir membuatnya baru merasakan perutnya kencang dan napas yang terasa sedikit berat.


“Astaghfirullah, Kiyara kamu kenapa Nak?”


“Bunda, perut aku kenceng banget, sa- sama napas aku rasanya berat sekali,” lirih Kiyara lebih ke berbisik karena sangking tersengalnya.


“Ayah … Ayah, tolong ini anak kita, tolong bawa bantal, kayu putih, sama air hangat,” teriak Bunda.


Beberapa waktu berselang Ayah datang dengan membawa yang diminta Bunda, membantu merebahkan Kiyara dengan posisi bantal yang tinggi, sementara Bunda sibuk mengusap kayu putih di leher dan dada Kiyara. “Yah, tolong di bacain doa airnya, biar Kiyara tenang lagi, soalnya kayaknya dia shock ini,” pinta Bunda.


Perlahan namun pasti napas Kiyara mulai teratur, rasa kencang di bagian perutnya memudar beriringan dengan usapan lembut dari Bunda Alana. “Ada apa Sayang? Sudah tenang, bisa cerita sama Bunda dan Ayah?”


“A-ku semalam bermimpi gigi grahamku tanggal Bunda … Ayah, ini mimpi kedua, lalu ta-tadi pagi aku …”


Kiyara mencerikatan semua yang ia alami sejak semalam sampai tadi pagi berteleponan dengan Mommy mertuanya, lalu telepon yang menghubungi Dave juga ia ceritakan semua tanpa di tutup-tutupi sedikit pun. Membuat Bunda dan Ayah memeluknya erat, menguatkan dia.


“Kita berdoa saja sambil menunggu kabar dari Kakak dan suamimu ya, Nak. Ayo kita sarapan dulu, pasti kamu belum sarapan kan? Kasihan cucu triplets Bunda kalau mereka sampek telat dapat nutrisi.”


Meski, enggan tapi apa boleh buat dia juga tak bisa egois dan tak memikirkan anak kembarnya itu.

__ADS_1


__ADS_2