Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Bucin


__ADS_3

Dave, masih mengusap bahunya yang dipukul sang Mommy dengan sepenuh hati itu, dan saat melihat layar hpnya dia dikagetkan dengan Bundanya yang memelototinya tajam. Membuat nyalinya kecil karena salah ngomong di depan  emak-emaknya.


“Dasar kamu, ya istrinya lagi mood swing kayak gituh plus lagi sensitif malah dikira istrinya kenak bipolar, bisa aja Kiyara lagi mau dapet tamu bulanan, dasar ya anak nggak pernah deket sama cewek ya gini,” omel Mommynya dengan mencubiti perutnya.


“Aduh … Mom, jangan KDRT gini dong … badan Dave sakit semua, malu tuh dilihatin Bunda,” ucap Dave sembari mencoba menghindar.


“Terusin aja, Dek … biar tahu rasa masak anakku dikirain bipolar,” tambah Bunda di sebrang telepon sana.


“Hiks … hiks … Mommy, kenapa pukulin Mas Dave … Mommy, mau aku jadi janda muda ya?”


Haaa … ? Mommy Sita, Bunda Alana, dan Dave … ternganga di buatnya, sungguh ini tidak seperti Kiyara yang mereka kenal, dengan cepat Mommy mendatangi Kiyara dan mengusap punggung menantunya dengan lembut sembari terus meminta maaf dan mencoba menenangkannya.


“Tuh kan Bun, Bunda lihat dan denger sendiri kan? Terus ini aku harus gimana? Apa memang seperti ini jika Kiyara mau haid, setahuku dia hanya akan sakit perut saja,” tanya Dave yang sekarang lebih memilih ke balkon kamarnya untuk berbicara dengan ibu mertuanya, jika masih di ruang yang sama dengan Kiyara dia takut akan menyinggung perasaan istrinya itu.


“Moodnya kalau mau haid memang naik turun, sama agak sensitif tapi nggak nangisan kayak tadi, kok jadi cengeng gituh Ara, kamu manjain dia ya di sana?” tanya Bunda dengan menyelidik meski sebetulnya wanita paruh baya itu senang, jika memang Dave memanjakan anaknya yang kelewat mandiri itu.


“Emh, Dave rasa nggak terlalu manjain Bun, cuman sebisa mungkin Dave nurutin kemauan Kiyara selagi itu masih


wajar dan nggak neko-neko,” ucap Dave sembari mengingat semua perlakuannya pada wanita gendutnya itu.


Di sebrang sana, Bunda Alana tampak berpikir keras dan pikirannya hanya satu. “Apa Kiyara hamil, Dave? Coba kamu belikan dia test pack saja biar lebih akurat, feeling Bunda soalnya mengarah ke sana setelah lihat kejadian ini.”


Dave, membelalakan matanya. “Apa mungkin ya, Bun? Soalnya kemarin Dave sempet tanya sama Kiyara, kok selama nikah ini aku nggak pernah absen gituh kan, terus tapi katanya malah haid dia memang sering nggak teratur, jadi Dave nggak banyak tanya lagi,” sanggah Dave, sebetulnya dia memang mengharapkan bahwa benihnya sudah ada yang tumbuh di dalam rahim istrinya itu, tapi sedikit banyak dia juga takut kecewa dan malah

__ADS_1


khawatir istrinya akan tertekan jika tahu sang suami sangat menginginkan anak darinya.


“Coba di test pack aja, Nak,” saran Bunda lagi.


“Tapi, Bun … jujur Dave khawatir Kiyara nantinya akan kepikiran kalau seumpuma kenyataannya tak sesuai harapan kita, Dave takut Kiyara malah jadi stres soalnya tahu Dave sangat menginginkan anak darinya, Bun …  dia juga kemarin sempat bilang jika dia nggak ada tanda-tanda hamil cuman kelakuannya aja rada aneh gituh. Jadi lebih baik gimana, Bun?”


“Iya, juga Nak. Ya, sudah kamu jaga aja Kiyaranya jangan sampai kecapekan jaga-jaga aja siapa tahu memang dia


mengandung, Bunda doakan yang terbaik untuk anak-anak Bunda.”


Oek … oek … oek … suara tangis bayi di sebrang telepon membuat Dave paham akan situasi. "El, nangis Bun."


“Iya Nak … sudah dulu ya, ini El nangis, Mamanya masih di kamar mandi, Bunda mau gendong dulu. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam, iya Bun.”


Pria dengan sejuta pesona itu melihat ke arah pintu yang menghubungkan balkon dan kamarnya dengan pandangan yang sulit di artikan. “ Semoga … semoga … memang kamu sedang hamil Sayang, aku sangat ingin melihatmu mengandung anak-anakku lalu kita membesarkan mereka bersama-sama penuh dengan kasih sayang, seperti Bunda dan Ayahmu yang selalu ada untuk anak-anaknya, aku akan selalu membersamaimu apapun yang terjadi di depan sana, Kiyaraku … gadis gendutku, malaikat tanpa sayapku seperti Mommy dan Bunda,” lirihnya.


Dia tersenyum sendiri saat angin-angin nakal menerpa wajah tampannya. “Aku sudah sangat mencintai dan ketergantungan pada Kiyara, ternyata betul kata orang di luaran sana … cinta itu tak bisa direncana akan jatuh pada siapa, dan sekarang aku sangat jatuh cinta pada gadis yang sering aku bully, gadis yang jauh dari kriteria idamanku saat di tanyai oleh kawan-kawanku, tapi aku teramat bangga bisa mempersuntingnya, wanita tulus yang pernah aku kenal,” sambungnya lagi sembari memejamkan matanya dan membiarkan angin menerpa wajahnya dengan lembut.


Grep … tubuhnya dipeluk dengan erat dari belakang, membuat bibirnya tersungging … sudah bia ia tebak siapa


yang melakukannya lalu tanpa ragu tangannya mengusap lembut punggung tangan yang melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


“Mas, juga lelaki paling baik yang pernah aku kenal dan aku juga beruntung bisa dipersunting lelaki baik, pekerja keras sepertimu, Mas.”


Deg …


Ah, jatuh cinta selalu saja membuat detak jantung terasa tak normal. "Aku sudah benar-benar bucin sama kamu, Sayang," ucap Dave sembari membalikkan posisi, membuat Kiyara yang kini di depan dan suaminya memeluk pinggangnya erat dari belakang.


"Uh, suami Bucinku ... jangan nyesel bucin sama aku ya, Mas ... meski aku masih gendut gini."


"Kamu itu, aku nggak akan nyesel bucin sama istri sendiri dan satu lagi jangan bawa-bawa fisik, aku melihat hatimu dan jujur saja kamu tidak segendut itu apalagi wajahmu ini sangat menggemaskan ... cantik alami dan aku suka yang empuk gini, nganenin ..." ucap Dave sembari mengusap pelan perut Kiyara.


"I love you Sayang," bisik Dave di telinga Kiyara, membuat Kiyara semakin lebar menyunggingkan senyumnya.


"I love you too, Masku Sayang," jawab Kiyara.


Cup ...


Cup ...


Cup ...


.


.

__ADS_1


.


See u esok hari readers, terima kasih sudah membaca ...


__ADS_2