
Dave dan Dafa berlarian ke arah Kiyara yang kini terduduk di lantai karena kakinya tak sengaja tersandung kaki meja, disusul Bunda dan Mommy yang juga berjalan mendekat ke arah Kiyara dengan meraut khawatir, karena si gadis gendut itu tak kunjung berdiri.
“Ayo bangun …” ucap Dafa sembari mengulurkan tangannya pada sang Adik. Tapi, Kiyara malah meringis menahan sakit, menghiraukan bantuan sang Kakak.
“Tangan kamu kenapa nutupin jempol gituh Ki? Jempolmu sakit?” tanya Dave.
Kiyara menganggukkan kepalanya lalu, tangannya perlahan membuka jempolnya.
“Astaghfirullah, kenapa bisa gituh Nak?” tanya sang Bunda yang kini ikut berjongkok di depan anaknya.
“Kenak kaki meja,” lirih Kiyara.
“Ayo ke klinik depan, kuku kamu mau lepas gituh, pasti sakit,” ucap Dave yang kini sudah siap membopong tubuh Kiyara.
“Eh … jangan-jangan … jangan digendong dipapah aja, aku berat. Masih bisa jalan kok, tenang aja,” kata Kiyara tak enak hati, sembari menahan rasa sakit dan ngilu di jempolnya.
“Udah, biar digendong sama Dave aja, kuat kok dia. Badannya keker gini masak gendong kamu aja nggak bisa, Mommy ngilu liat kaki kamu Nak, darahnya keluar banyak banget … udah biarin digendong Dave, nggak apa-apa. Dafa, kamu cepetan keluarin mobil ayo ke klinik depan takutnya nanti infeksi.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Kiyara, Dave segera membopong tubuh Kiyara membawanya ke dalam dekapan hangat pria blasteran itu, mau tak mau Kiyara melingkarkan tangannya di leher Dave, bukan niat menggoda tapi takut jatuh karena merasa terlalu tinggi saat di gendong Dave.
“Bunda sama Mommy, di rumah aja. Siapin makan malam ya biar tenaga kita pada balik lagi, hehehe … Kiyara biar urusan Dafa sama Dave,” ucap Dafa sambil bergurau berniat menghibur dua wanita paruh baya yang meraut khawatir.
“Bunda mau ikut.” Dafa dengan sigap memberi kode kepada Mommy Dave, agar membantunya menahan sang Bunda.
__ADS_1
“Udah Teh, kita di rumah aja. Percaya sama anak-anak.”
“Iya, Bun … Dah, Dafa nganterin Kiyara dulu.”
Laki-laki berusia 27 tahun itu, bergegas berlari menuju mobil lalu membawanya melesat ke jalanan aspal depan rumah menuju klinik terdekat yang buka 24 jam di depan perumahan.
**
“Masih perih?” tanya Dave, yang kini duduk di kursi belakang bersama Kiyara.
“Sedikit, tapi darahnya kok masih keluar terus ya Kak? Du-du-duh … sakit,” ringisnya ketika mobil tiba-tiba berhenti, reflek dia menggerakkan kaki untuk menahan berat tubuhnya agar tak terjerembab.
“Kakak, sakit … berhenti dadakan banget,” gerutu Kiyara.
Akhirnya mobil yang dikendarai Dafa sudah terparkir apik di depan klinik setelah memutar balik karena drama kliniknya kelewatan. Sekarang Dafa dan Dave memapah Kiyara untuk memasuki klinik, meski awalnya Dave bersikeras agar tetap membopong Kiyara, khawatir kakinya terasa lebih nyeri ketika digunakan berjalan. Tapi,
dengan keras kepalanya Kiyara dan rasa sungkan yang mendominasi, membuat Dave pasrah untuk memapah Kiyara bersama dengan Dafa.
“Ini jangan kenak air dulu ya, lukanya biar cepat kering,” ucap dokter Ridwan sembari membalut jempol Kiyara dengan perban.
“Kukunya, bakal tumbuh lagi Dok? Tanya Dave, yang sedari tadi meringis ngilu melihat kuku jempol Kiyara yang musti diambil setengah karena memang benturan tadi membuat kukunya patah setengah.
“Tumbuh lagi kok, A.”
__ADS_1
“Alhamdulillah …” ucap Dave dan Dafa bebarengan.
“Ini ada obat yang musti ditebus di apotik depan A.”
Dafa dengan sigap menerima uluran resep obat yang harus di tebus. “Baik, dok terima kasih, kami permisi ya.”
“Iya … iya sama-sama … hati-hati, semoga cepat sembuh ya.”
“Aamiin … aamiin … ,” ucap Kiyara.
Mobil sejuta umat itu, kembali memasuki kawasan perumahan bebarengan dengan adzan isya yang tengah berkumandang dengan merdunya.
“Loh, Kak kok ke rumah Kak Dave lagi? Nggak pulang sekalian, nanti aku jalannya susah,” protes Kiyara saat mobil sang Kakak kembali memasuki pekarangan rumah Dave.
“Kita, makan malam dulu di sini. Tadi Bunda sama Mommy masak-masak di sini buat makan malam, jadi kita harus tetap makan di rumah Lele. Sekalin nginep juga di rumah Dave, tadi Bunda yang minta mau pillowtalk sama Mommy katanya hahaha … aduh, aku masih nggak habis pikir sama Bunda dan Mommy. Intinya nanti kita nginep di
rumah si Lele, Ayah nggak pulang juga lagi ada perjalanan bisnis ke Jakarta sekalin mampir ke rumahnya Tante Fani.”
“Serius, Kak nginep? Kalau Mommy tidur sama Bunda, Kak Dafa sama Kak Dave, aku tidur di mana? Kamar tamunya kan belum beres, minggu lalu aja aku tidur sama Mommy.”
“Kita tidur bertiga aja di ruang keluarga, sambil nonton tv … atau mau nonton film … aku ada film bagus,” saran Dave.
“Atau, Kiyara bisa tidur di kamarku terus aku sama Bang Dafa bisa tidur di luar. Terserah aja, gimana enaknya aku ngikut aja,” sambungnya.
__ADS_1