
“Ciluk ba dalah …”
“Ba … ba … ba … blweee.”
“Ha ha ha ha …”
“Gemes banget ya, baby El …” ucap Kiyara yang sedang menggoda keponakannya, yang kini berada dalam gendongan suaminya itu.
“Emh, semua bayi menggemaskan … nanti bayi kita juga menggemaskan,” jawab Dave dengan senyum menggodanya.
“Aamiin, sini maem lagi El,” kata Kiyara sembari menyuapi MPASI yang sudah di sediakan oleh Mamanya El.
“Aaaaa …”
Ammmm … satu sendok tim ati dan sayuran yang di haluskan itu masuk sempurna ke dalam mulut El, membuat Kiyara senang bukan main, karena kata kakak iparnya El sedikit susah makan, dan saat ini bayi itu tengah makan dengan lahap saat Kiyara menyuapinya, membuat Tantenya itu sedikit berbangga diri.
“Meni udah pantes gini, Neng … ayo, di segerakan jangan di tunda-tunda punya momongannya,” ucap salah seorang tetangga rumah Kiyara.
“He he he, muhun Bi … do’akan aja, semoga cepet isi,” jawab Kiyara sembari tersenyum ramah.
“Aamiin … Ibi do’ain biar cepet isi,” ucap Ibu-ibu itu dan di aamiini oleh Dave dan Kiyara.
“Ibi lagi mau ke mana?” tanya kiyara.
“Mau beli sawi, itu si bungsu lagi eksperimen buat mie ayam tapi nggak ada sawinya,” jawab wanita paruh baya itu.
“Sini atuh, Bi. Di sini ada sawi yang siap panen, nggak usah beli langsung metik aja Bi, seger-seger juga sawinya, sini Bi di temenin sama El juga nih metinya,” ucap Kiyara sembari menyuapi bayi Kakaknya itu.
“Iya, Neng … makasih atuh.”
__ADS_1
Kiyara dan Dave pun mengantar tetangga sebelah rumahnya untuk mengambil beberapa sawi yang berada di dalam green house mini yang di dalamnya berisi tanaman hidroponik, sembari menyuapi MPASI El sampai habis tak bersisa.
Matahari perlahan beranjak siang, hari ini kegiatan Kiyara dan Dave mengantar Mommy Sita untuk check up sekalian mampir ke mall untuk membeli beberapa barang keperluan rumah dan juga bahan makanan yang sudah harus re-stock kembali.
“Alhamdulillah, perkembangan kesehatan Mommy bagus. Vitamin dan obat jangan lupa loh Mom udah beda lagi
aturan minumnya, sekarang kita ke Mall Daddy katanya sudah menunggu di sana,” kata Dave sembari menyalakan mesin mobilnya.
“Iya, Nak … makasih ya sudah menemani Mommy bangkit,” jawab Mommy Sita.
“Sudah tugasku, Mom tidak usah berterima kasih,” kata Dave sembari tersenyum.
“Kamu lagi apa, Sayang?” tanya Dave ketika netranya menangkap Sang istri tengah sibuk dengan note kecil dan juga bulpoin.
“Lagi ngecek list barang dan bahan yang mau kita beli nanti, kemarin aku udah cek beberapa barang di rumah kayaknya udah harus ganti sama bahan-bahan makanan udah banyak yang tinggal sedikit, maaf ya Mas, Mom … kalau risih udah jadi kebiasaan aku tulis kayak gini biar di sana nanti nggak lupa sama menjaga diri dari hawa napsu belanja berlebih he he he he,” ucap Kiyara sembari tersenyum kikuk, karena khawatir suami dan ibu mertuanya merasa tak nyaman dengan kebiasaannya saat belanja itu.
“Ha ha ha ha, enggak-enggak … tenang saja, aku sudah menerima kamu apa adanya, apapun yang ada pada kamu selagi itu bukan hal yang membuat dosa dan merugikan orang lain aku tak masalah,” ujar Dave sembari mengusap pelan kepala istrinya itu.
“Ahhhh … terima kasiih … Mas, Mommy … aku takut sekali kalian risih dengan aku yang seperti ini,” ucap Kiyara.
“Tidak, Sayang.”
“No, Sayang.”
Jawaban Mommy dan Suaminya itu membuat Kiyara tersenyum puas.
“Kok macet ya,” ucap Dave ketika melihat jalanan di depannya begitu padat.
“Ada perbaikan jalan mungkin, Dave,” ucap Mommy Sita.
__ADS_1
“Mungkin, Mom.”
Mobil yang dikendarai Dave perlahan berjalan merayap, tak bisa menyalip sedikit pun karena memang jalanan yang sangat padat.
“Eh, sebentar Mas … berhenti dulu,” ucap Kiyara dan setelah mobil yang di kemudikan suaminya berhenti, Kiyara segera turun dari mobil dan berlari ke arah orang yang sangat dia kenal.
“Kak Tama, kenapa Tiwi Kak?”
“Di … dia … tertabrak, tolong … tolong Kakak, Ki … kamu bawa mobil? Ini semua orang bersi keras menunggu polisi tapi polisi belum juga sampai, aku takut dia kenapa-kenapa,” ucap Tama dengan nada bergetar.
“Ha? Iya-iya ayo Kak, itu … itu … di sana ada mobil suamiku.”
Dengan cepat Tama membawa Tiwi ke dalam gendongannya dan membawa gadis yang sudah di hancurkan masa depannya itu ke dalam sebuah mobil yang sudah di bukakan pintu belakangnya oleh Kiyara. Dave, dengan sigap langsung menyalakan mobilnya memerhatikan jalanan di depannya yang masih sedikit padat merayap, sementara di kursi tengah Mommynya masih sibuk memindai wajah gadis yang berlumuran darah itu.
"Innalilahi, I … ini teman kamu yang menjenguk Mommy waktu itu, Ki?”
“Iya, Mom … betul, Mas … itu sudah di bukakan jalan sama pengendara motor ayo ikuti mereka,” ucap Kiyara pada suaminya.
Mobil melaju dengan cepat, untung saja Dave bisa mengemudikan kendarannya dengan cepat dan sigap karena melihat darah yang begitu banyak dari tubuh sahabat istrinya itu, sampai melupakan bahwa di mall sudah ada Daddynya yang menunggu kedatangan mereka bertiga dengan cemas.
Gedung rumah sakit, sudah terlihat di depan mata saat mobil sudah memasuki area rumah sakit membuat Tama mengambil ancang-ancang untuk segera membawa gadis malang yang ada dalam pangkuannya ke dalam rumah sakit.
Cit ...
Suara decitan rem yang semakin mengecil menandakan mobil Dave sudah berhenti sempurna membuat Tama dengan cepat membuka pintu mobil.
"Suster .... suster ... tolong !" teriak Tama beriringan dengan beberapa orang yang mendekat dengan membawa brangkar ke arahnya.
Suara roda-roda brangkar yang beradu dengan lantai rumah sakit mengiringi masuknya gadis malang itu ke dalam ruang tindakan, yang mana itu semua semakin menyesakkan Tama, penyesalan terdalamnya karena bertingkah ceroboh dan penuh ambisi.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tiwi, Kak ? Kenapa ada Kak Tama juga di sana dengan keadaan yang seperti ini?" tanya Kiyara penuh menyelidik, sebab baru menyadari penampilan Tama yang seperti baru bangun tidur.