
Hidup itu seperti aliran air, kadang berarus deras kadang juga tenang … mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah tapi pada akhirnya naik lagi ke atas karena sistem evaporasi, intinya hidup itu memiliki siklusnya masing-masing tak akan flat dan selalu begitu-begitu saja.
Orang luar sana mungkin melihat Kiyara, memiliki kehidupan yang biasa saja tak terlalu menantang karena semua
bisa didapatkannya dengan mudah berkat uang dan kepintarannya. Tapi siapa sangka, karena ucapan-ucapan pedas mereka itulah tantangan terbesar Kiyara, bagaimana dia melewati hari-harinya dengan menahan segala gejolak di dada sedari kecil sampai dia insecure bukan main perihal fisik sampai jodoh, tapi semua terpatahkan ketika seorang lelaki tampan berucab qabul atas nama Kiyara dan Ayahnya. Setelah itu? Apa kehidupannya flat? Tidak.
Mertuanya sakit, menjalani kehidupan pengantin baru … adaptasi dengan Dave, Mommynya, di tambah lagi harus
adaptasi dengan negara baru. Sungguh menguras pikiran dan segalanya, tapi berat badannya tetap stabil, he he he. Belum lagi nomor asing yang mengiriminya masa lalu sang suami saat tinggal di Singapura, bukan tak menerima apa adanya Dave, bukan tak menerima masa lalunya, hanya saja dia tak pernah berpikiran bahwa Dave sampai memiliki usaha di bidang itu, sesuatu yang sangat ia anggap buruk, buruk sekali.
“Semoga, kamu bisa berubah jauh lebih baik lagi, Kak,” lirihnya sembari menatap balkon kamarnya dari bawah, karena dia kini sedang berjalan menuju rumah sakit, kembali ke sana dan tidur bersama Mommynya mungkin akan lebih baik, agar dia dan Dave sama-sama bisa berpikir lebih jernih lagi dalam menyelesaikan permasalahan ini.
“Semoga, Kak Dave tidak salah paham denganku. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya dan masa depan kami tanpa bayang-bayang masa lalu kami, apalagi bayang-bayang dosa jariyah, naudzubilah.”
__ADS_1
Dengan langkah seribu Kiyara berjalan menuju rumah sakit sembari membawa kotak makan, tadi sebelum kembali ke rumah sakit dia sempat memasakkan untuk suaminya dan juga untuk dia bawa.
Ceklek …
“Assalamu’alaikum, Mom …”
“Wa’alaikumsalam, loh kamu kembali Nak? Mommy kira kamu dan Dave nggak kembali.”
Kiyara, tersenyum sembari menaruh bawaannya di atas meja. “Kiyara pasti kembali dong, maah Kiyara mau nginep di sini … maaf ya, Mom, Kak Davenya kecapekan jadi dia istirahat dulu di apartemen.”
**
Malam harinya, Dave tampak sedang berada di balkon kamar aparetemennya, Dave kini kembali memandang gemerlap bintang di langit malam, Kiyara memilih menginap di rumah sakit untuk memberi ruang dan waktu pada Dave agar bisa berpikir jernih, langkah apa yang akan dia ambil ke depannya. Di tangannya ada selembar kertas yang isinya adalah niat salat taubat nasuhah yang dituliskan oleh istri tercintanya lengkap dengan doa-doa yang harus ia panjatkan pada Allah S.W.T
__ADS_1
“Masa laluku buruk sekali, astaghfirullah … ampuni dosa hamba Ya Allah,” ucapnya lalu kembali menghapal yang ditulis oleh Kiyara di atas kertas itu.
Malam sudah semakin pekat, membawa mereka masuk ke dalam mimpinya masing-masing … tapi tidak dengan Dave, lelaki itu kini tengah bersimpuh di atas sajadah. Memohon kemurahan hati Sang Pencipta untuk mengampuninya dari dosa-dosa yang sudah ia perbuat selama ini, lalu memohonkan ampun atas nama kedua orang tuanya juga karena sebagai anak seburuk apapun orang tua dia harus tetap mendoakan kebaikkan untuk keduanya.
Dia, menangkupkan tangannya sembari memejamkan mata, berdoa dengan khusyuk lalu mengaamiinkannya sembari mengusapkan telapak tangannya pada wajah.
"Semoga aku juga bisa jadi lebih baik lagi sebagai anak dan juga suami, bagi Mommy dan Kiyara, belajar lagi menjadi pribadi yang baik ke depannya biar bisa jadi contoh baik buat anak-anakku kelak," lirihnya sembari melipat sajadahnya.
.
.
.
__ADS_1
Mau berapa Bab lagi buat hari ini? komen dan like ya teman-teman, biar tambah semangat he he he ... terima kasih, selamat hari senin.