Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Lelaki Itu


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar obrolan yang nampaknya sangat menyenangkan karena beberapa kali terdengar suara tawa dari Ayahnya, dan itu malah semakin membuat Kiyara dibuat penasaran. Terlebih suara yang terdengar selaian suara Ayahnya juga ada suara berat lainnya yang tak bisa terdeteksi oleh Kiyara milik siapa itu.


"Assalamu'alaikum," ucap keduanya dengan serempak.


"Wa'alaikumsalam."


Deg ...


Jantung Kiyara serasa terpompa dengan cepat melihat sosok lelaki paruh baya yang tengah duduk di hadapan Ayahnya, pikiran buruk seketika berkelibat di benaknya, jika lelaki itu memang benar seperti yang ada di benaknya.


"Ayo, sini salim dulu sama Uncle Jeff ... masih inget nggak kamu sama Uncle Jeff, Ki?" tanya sang Ayah.


Kiyara, segera berjalan mendekat diikuti oleh Asti di belakangnya.


"I-iya, masih inget kok Yah. Apa kabar, Uncle?" tanyanya sembari mencium tangan lelaki berwajah bule yang teramat kental itu.


"Uncle, baik dan sehat ..."


"Nah, ini menantuku Jeff ... istrinya Dafa dan sedang hamil calon cucuku," sambung Ayah memperkenalkan Asti pada lelaki yang bernama Jeff itu.


"Salam kenal, Uncle," kata Asti sembari mencium punggung tangan Jeff.

__ADS_1


"Ah, iya-iya ... salam kenal. Hebat kamu, Bar ... udah nambah anak aja malah mau nambah cucu juga. Sedangkan hubunganku dengan anakku saja masih dingin," ucap Jeff dengan sendu.


"Permisi ke dalam dulu ya, Yah ... Uncle," pamit Kiyara.


"Sudahlah, nanti juga pasti akan ada saatnya kamu berbahagia lagi dengan mereka terlepas bagaimana hubunganmu dengan Mommynya Dave, terpenting segera perbaiki hubunganmu dengan mereka, jangan membuat semuanya semakin rumit," ujar Ayah Kiyara.


Kiyara, yang mendengar penuturan Ayahnya menghentikan langkahnya sejenak. Ternyata dugaannya betul jika lelaki itu adalah Daddy dari Dave, yang pergi bertahun-tahun dengan Tante Dave sendiri.


"Tapi, sepertinya Uncle sudah merasa menyesal dan apa Kak Dave tahu kalau Daddynya ada di sini?" batin Kiyara.


"Ayo, Dek."


Sudah satu jam berlalu, bahkan Kiyara sudah selesai mandi, berganti baju rumahan, dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak di ranjang empuk miliknya, tapi saat turun ke lantai satu ternyata masih terdengar suara Uncle Jeff, membuatnya merasa heran apa mungkin Uncle Jeff sudah tahu tempat tinggal Dave yang baru adalah di seberang rumahnya?


"Ah, mending tanya Bunda aja deh, dari pada penasaran."


"Awalnya, aku juga nggak ada niatan untuk mendua seperti itu, Bar. Tanpa siapapun yang tahu sebetulnya aku sudah terlebih dahulu nikah siri dengan Adik sepupu Mommynya Dave, aku tak melakukan zina dengan adik iparku itu, kami sudah menikah. Dan ya, mungkin karena cinta buta dan na*fsu yang ku punya membuatku kurang dan kurang untuk melakukan itu dengan satu wanita, katanya laki-laki kan ada masa puber keduanya, Bar, entahlah aku tak bisa menceritakan segamblang itu, tapi yang jelas adik iparku itu datang di waktu yang pas menururtku apalagi dia masih muda selisih 12 tahunan denganku kau tahu sendiri bagaimana rasanya daun muda, bukan? Jika saja aku tak digoda lebih dulu aku pun tak sampai hati jika harus memadu kasih dengan adik istriku sendiri."


Deg ...


Langkah Kiyara terhenti, dia terkejut mendengar penuturan Daddy dari seorang Dave, bagaimana bisa seperti itu lantas janji suci di hadapan Tuhan saat pernikahan dulu ia anggap apa?

__ADS_1


"Astaghfirillahaladzim ...," ucapnya lirih.


"Ya, jangan kau anggap seperti itu, jika laki-laki memang ada masa puber kedua di saat usia sudah benar-benar matang ya harus di jatuh cintakan lagi pada istri dan anak-anak kembali, jangan malah cari kepuasan sesaat di luaran sana. Lalu sekarang apa yang kau dapat dari menyakiti hati anak dan ibunya itu?"


"Aku salah, aku mengaku salah ... dan aku tak mendapat apa-apa di luaran sana, kecuali ya kepuasaan sesaat itu saja, Bar."


Kiyara, tak lagi kuat mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari bibir Daddynya Dave, ia merasa sakit hati sebagai wanita, ia benar-benar memosisikan diri sebagai Mommynya Dave kali ini, marah, kecewa, bercampur menjadi satu.


Kini ia melangkahkan kakinya menuju kamar orang tuanya, berharap sang Bunda ada di dalam sana agar dia tak perlu berkeliling lagi untuk mencari Bundanya.


Tok ... tok ...


"Bunda ... Bunda di dalam kah?"


"Iya, masuk aja Nak."


Kiyara, bernapas lega ketika mendapati sahutan dari dalam ruangan yang ia tuju tadi. Dan kini saatnya ia akan bertanya pada Bundanyq.


Ceklek ...


"Loh, kok ada M-mmmppphhh ..."

__ADS_1


__ADS_2