
AUTHOR POV
Hari ini, Keluarga besar Kiyara akan pergi ke Jakarta karena dua hari lagi Shakira akan menikah dengan sahabat Kiyara sendiri, ya siapa lagi jika bukan Cakra sementara Bianca, Kakak Shakira sudah menikah dengan Rendi sahabat Dave, dan sudah dikaruniai seorang putri bernama Rembulan yang usianya tak jauh beda dengan Teteh kecil adik El.
“Mama, nanti di sana Syta pakai baju plinces ya, yang walna pink itu,” ucap Nasyta.
“Iya, sudah Mama masukkan di koper … tapi ke gedungnya kita pakai baju samaan semuanya, Mama sama Nasyta pakai kebaya, Abang, Adek, sama Papa pakai baju adat sunda,” jawab Kiyara.
“Telusss, Kakak pakai baju plincesna kapan, Ma?” rajuk Syta.
“Nanti saat di rumah kan ada acara ijab qobul, nah di sana kamu bisa pakai baju princess kamu, Sayang.”
“Oh, sepelti itu … oke deh, syini Kakak bantu, Ma.”
Tangan kecil Nasyta dengan sedikit kesusahan membantu Mamanya yang sedang menata sushi yang berisi ayam
katsu, mentimun, dan sayur bayam ke dalam baperware sebagai bekal saat nanti di jalan.
“Mama, Lendla mau sushina satu,” ucap Nalendra yang baru saja datang ke dapur, dengan pakaian yang sudah rapi.
“Boleh, ini makan sama Kakak dan Abangmu di ruang keluarga, Nasyta ikut dek sana makan sushi ini tinggal sedikit nanti Mama bawa ke sana biar dimasukkan Papa ke mobil,” ucap Kiyara.
“Okeh, Mama … ayo Dek.”
Kedua anak itu berjalan bersisihan sambil membawa piring masing-masing, yang satu berisi sushi yang satu lagi sepiring ayam pok-pok saus madu. Ketiga anaknya itu memang doyan makan, padahal baru satu jam yang lalu makan bubur ayam beli di dekat lapangan kompleks sekarang sudah minta jatah lagi. Kadang membuat Kiyara was-was, takut anaknya akan ada yang gendut seperti dirinya dulu, tapi sang suami selalu memberi pengertian kepadanya, selagi makanan yang dikonsumsi anak-anaknya itu sehat tidak akan masalah, apalagi selama ini semua yang masuk ke dalam perut anaknya kebanyakkan masakkan Kiyara sendiri, belum lagi workout dengan gerakkan sederhana selalu mereka lakukan setiap dua minggu sekali, memang seniat itu Kiyara untuk menjadikan anak-anaknya jauhhhh lebih sehat daripada dia, dan tentu saja sebagai seorang Ibu dia tak ingin masa kelamnya terulang kembali pada anak-anaknya.
“Sayang, nanti Bunda sama Ayah ikut mobil kita atau mobilnya Bang Dafa?” tanya Dave yang baru saja turun dari lantai dua.
“Kayaknya ikut di mobil Kak Dafa deh, Mas. Baru pulangnya ikut mobil kita, gini ya punya anak udah pada banyak nggak bisa satu mobil lagi, apa iya kita naik mobil elf, biar bisa berangkat semobil? He he he.”
__ADS_1
“Ya jangan lah Yang, nanti kasihan anak-anak kalau nggak nyaman gimana? Apalagi tuh Bang Dafa anaknya masih kecil banget,” jawab Dave.
“He he he, Iya kasihan juga Triplets nggak bisa berisik kalau ada Teteh kecilnya hi hi hi, takut dimarahin.”
“Kamu mah Yang, yaudah ini udah siap belum bekelnya?” tanya Dave.
“Sudah kok, Mas ini ya tolong dimasukkan mobil … taruh di jok tengah aja tempatnya anak-anak, sama yang ini nanti buat di mobilnya Kak Dafa,” jawab Kiyara sambil menunjukkan beberapa tempat makan.
“Susunya anak-anak jangan lupa Yang.”
“Iya, udah Kok Mas. Mas mau dibuatkan apa minumannya atau mau bawa minuman yang ada di kulkas, ada kopi botol kesukaan kamu.”
“Nggak usah air putih aja bawa yang banyak. Mas, masukkin ini dulu ya, kamu buru gantinya anak-anak kayaknya udah ngabisin sushi dan ayamnya deh.”
“Siap Mas.”
“E- ehh, tapi sebentar dulu, Mas mau kiss dulu. Muacchhhh … muacccchhhh … muaccch …”
“Mumpung anak-anak, lagi anteng,” jawab Dave sambil berlalu pergi membawa baperware menuju mobilnya.
Kiyara, yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, meski sudah 4 tahun ini hidup
bersama Dave, tapi lelaki itu tak pernah berubah selalu berperilaku manis kepadanya, dan jangan lupakan sikapnya yang sesekali sangat manja kepada istrinya itu terlebih saat sakit, bahkan manjanya bisa mengalahkan Nasyta.
“Semoga akan selalu seperti ini sampai kita tua, Mas,” gumamnya dan mengamininya dalam hati lalu segera beranjak menuju kamarnya untuk berganti baju.
Kiyara, memilih menggunakan gamis berwarna abu-abu agar senada dengan anak dan suaminya, yang juga memakai baju berwarna abu-abu dan memilih memakai kerudung instant biar nggak ribet di jalan. Karena perjalanan Bandung Jakarta, tak sedekat itu terlebih mereka membawa anak-anak jadi akan lebih sering berhenti nantinya, apapun demi kenyamanan Triplets.
“Mama, Uwa sudah di depan,”ucap Rendra di depan pintu kamar Mamanya.
__ADS_1
“Iya, Sayang sebentar,” jawab Kiyara.
Klek …
“Tadi Abang, lihat Papa udah ngasihkan tempat makan ke Uwa belum?” tanya Kiyara sambil menutup pintu kamarnya.
“Sudah, Abang sama Lendla yang kasih tadi,” jawab anak sulungnya itu yang memiliki wajah persis sekali dengan suaminya saat kecil meski anaknya versi lebih gembul dilihat dari pipinya yang tembab.
“Sip, berarti kita langsung berangkat dong Bang?” tanya Kiyara sambil menuntun anaknya menuruni anak tangga.
“Iya, tadi kata Uwa … uwa mau isi bensin dulu di pom depan sana, di tunggu di sana katanya,” ucap Rendra seraya menatap Mamanya bergantian dengan sisa anak tangga di depannya takut jatuh.
“Ehm, oke … nanti Abang mau duduk di mana? Di depan sama Papa atau di belakang sama Adik-adik?” tanya Kiyara,
karena anak sulungnya ini kadang lebih suka duduk di depan bersama Papanya dibanding duduk bersama dengan saudara-saudaranya, dan hal inilah yang membuat Kiyara selalu menanyakan terlebih dahulu, karena ingin mengutamakan kenyamanan anak-anaknya.
“Di belakang aja, Ma tapi nanti kalau Adik-adik belisik Abang pindah depan ya, boleh?” ucapnya,
“Boleh, nanti Abang boleh pindah kalau Abang mau,” jawab Kiyara.
“Telima kasih, Ma,” ucap Rendra tulus.
“Sama-sama, Sayang.”
Di depan rumah, ternyata sudah siap semua … koper dan sebagainya sudah masuk ke dalam bagasi mobil dengan rapi, siapa lagi jika bkan suami tercintanya yang mengerjakan itu semua karena tadi pagi dia hanya membawa koper-koper itu sampai di ruang tamu saja.
“Ayo, anak-anak pada masuk,” ucap Dave pada anak-anaknya yang masih di luar mobil.
“Siap, Papa …” jawab anak-anak dengan semangat.
__ADS_1
Dave, membantu anak sulungnya untuk duduk di car seat dan memasangkannya sabuk pengaman pada tubuh anaknya itu, begitupun dengan Kiyara yang memasangkan kedua anaknya sabuk pengaman yang ada pada car seat yang sudah di taruh di kursi tengah menyisakan sedikit celah untuknya duduk di antara kedua anaknya. Meski terkesan ribet tapi car seat jauh lebih aman bagi pasangan muda tersebut untuk anak-anaknya saat berkendara jauh seperti ini, daripada anak-anaknya yang masih balita ini duduk di kursi mobil secara langsung, karena sabuk pengamannya yang kedodoran di tubuh mungil itu.
“Sebelum pergi ayo kita baca doa sebelum menempuh perjalanan,” ajak Dave pada anak-anaknya.