
AUTHOR POV
Ini adalah hari ketiga setelah kepergian mendiang kedua orang tua Dave, tapi lelaki itu masih saja bersedih apalagi jika sedang seorang diri. Hal yang cukup dapat dimaklumkan, bersedih saat kehilangan orang yang terkasih apalagi jika itu untuk selama-lamanya. Sebagai anak tentu saja Dave, merasa menjadi anak sebatang kara meski memiliki mertua tapi tetap saja orang tua kandungnya telah tiada dalam kecelakaan nahas itu, dia seolah kehilangan pegangan terkuatnya yang selama ini selalu membantunya mencari jalan terbaik saat bertualang. Tapi dalam sendirinya, dia juga menyadari bahwa hidup akan terus berjalan … dan tentu saja roda kehidupan itu berputar dia kini harus segera bangkit menyiapkan diri agar menjadi orang tua yang luar biasa untuk anak-anaknya kelak.
Dari sudut sofa lainnya, Kiyara tampak murung melihat suaminya terus saja melamun hampir sepanjang hari, padahal kini mereka harusnya bersiap menunggu kedatangan Granpa beserta keluarga Uncle Leff dari Jerman yang sebentar lagi akan segera tiba setelah dijemput oleh Dafa ke bandara.
“Ehem,” dehem Kiyara, mencari perhatian suaminya dan hal itu sedikit ampuh saat Dave menolehkan kepalanya ke arah sang istri.
“Kenapa, Sayang?” tanyanya sembari berdiri dan berjalan menuju istrinya.
“Emmh, Papanya anak-anak kenapa melamun terus?” lirih Kiyara sembari saling menautkan jemarinya, jujur saja kadang dia merasa suaminya berbeda jika emosi dan tingkat sensitifnya meningkat efek perubahan hormon kehamilan yang dia alami, tapi di satu sisi Kiyara selalu mencoba menetralkan pikirannya dan berpikir jernih, jika suaminya masih dalam keadaan berduka tak baik menuntut ini dan itu.
Dave, menyunggingkan senyumnya sembari mengusap lembut perut buncit istrinya yang hanya tertutup kain daster kencana wungu, merk daster andalan emak-emak. “Jujur saja, Mas masih sulit menerima ini semua rasanya aneh … belum terbiasa,” jawab Dave.
__ADS_1
“Aku kira, Mommy akan panjang umur setelah pengobatan kemarin dilakukan setidaknya sampai usia 63 tahun, pas dia sudah senang bisa membantu kita membesarkan anak-anak sampai sekolah dasar begitu pun dengan Daddy. Tapi keduanya malah sudah tiada bahkan sebelum cucu-cucunya lahir,” sambung Dave kemudian.
“Tapi Sayang, Mommy sudah tenang pun dengan Daddy. Apa kamu ingat Mommy selalu bilang, hidupnya sudah tenang dan senang sepulang dari Jerman, selalu saja beliau mengucapkan dua kata itu, setelah berhasil menyatukan Daddy dengan keluarganya kembali, meluruskan kesalpahaman di masa lalu, Mommy juga berulang kali berucap sudah tenang saat kamu menikah denganku, Mommy juga sudah merasakan bahagianya kembali saat rujuk dan menghabiskan waktu berdua bersama Daddy di rumah yang baru Daddy beli. Dia banyak berpesan padaku juga, menitipkan kamu, cucu-cucunya dan tentu saja aku ditugaskan untuk selalu berada di sisimu apapun keadaannya, Mommy sudah berfirasat sebelumnya, Mas … hanya saja kita ini kurang peka sehingga masih terkaget-kaget seperti ini,” ujar Kiyara.
“Mommy dan Daddy juga banyak berpesan padaku, Sayang. Tapi rasanya aku … ah entahlah, hiks …”
Kiyara, menghembuskan napasnya perlahan. Emosi sang suami menjadi labil belakangan sebab kabar duka yang mendadak ini, dia harus menjadi wanita kuat untuk menopang suaminya yang sedang layu ini, sama seperti Dave saat ia merasa layu, suaminya itu selalu ada untuk menopang dan membantunya bangkit kembali. Dan kini saatnya dia membuktikan diri.
“Apa yang Kiyara katakan betul, Sayang,” ucap Granpa, lelaki berusia lanjut itu sangat fasih berbahasa karena memang dulu sempat tinggal lama di Jakarta pada masa mudanya sebelum pada akhirnya beliau kembali ke nergara aslinya.
“Tapi, Grandpa berharap kamu tetap mau menjalankan bisnis Grandpa yang ada di negara ini. Ini bukan karena berniat merendahkanmu atau bagaimana, tapi perusahaan ini wujud dari permintaan maaf Grandpa pada mediang Daddymu yang pernah Grandpa coret dari daftar keluarga maupun hak waris. Dan seperti yang kamu ketahui jika Daddymu sebelumnya telah menerima perusahaan ini,” sambungnya.
“Grandpa, sorry … Kiyara tidak mendengar suara Grandpa dan yang lainnya datang,” ucap Kiyara sembari bangun dari duduknya dan berjalan perlahan menuju Grandpa Suaminya untuk menyalami tangan keriput yang masih terlihat kokoh.
__ADS_1
“Tidak masalah cucu mantuku, kamu sedang mengobrol dengan suamimu bukan?”
“Emh, Iya Grandapa ayo duduk dulu di sini atau mau langsung ke kamar buat istirahat?”
“Aku mau duduk di sini dulu, hey kamu tak menyambut Kakek tuamu ini, Dave?” tegur Granpa yang membuat Kiyara tersenyum cerah, setidaknya dengan kehadiran Grandpa suasana rumah akan sedikit lebih ramai karena saat di Jerman dulu Grandpa selalu saja menggoda suaminya, membuat mereka berdua selalu adu mulut dan berakhir saling memuji satu sama lain atau berelukkan seperti kawan lama.
“I miss you, Kakek tua …” ucap Dave sembari menghambur ke dalam pelukkan Grandpa yang sudah duduk di sampingnya, sampai tak terasa air matanya menetes kembali karena melihat Grandpanya ini mengingatkan Dave pada sosok Daddynya.
“I miss you too, bocah kecilku. Besok tolong antarkan Kakek Tuamu ini ke makam kedua orang tuamu ya,” ucap Grandpa dengan nada yang terdengar bergetar, ah bagaimana mungkin Grandpa tak menyisikan kesedihan di dalam hatinya, di tinggal terlebih dahulu berpulang ke alam sana oleh sang anak yang baru saja berdamai dengannya sama saja menancapkan beribu belati di dadanya, sesak dan menyakitkan tapi bisa apa dia selain berpura-pura tegar di depan banyak orang, terutama cucu satu-satunya dari Jeff, anak yang ia usir dari rumah kala meminta izin untuk menikahi gadis biasa dari negeri nun jauh di sana dan saat penyesalan itu menggerogoti hatinya, berteriak menginginkan waktu dikembalikan di saat ia mengusir Jeff kala itu tapi takdir malah berkata lain ia malah dpisahkan lebih jauh lagi.
“Waaa, kalian berpelukan kenapa tak menungguku?” ucap seorang pria yang biasa dipanggil Dave dengan sebutan Uncle, adik Daddynya yang selalu memberi kabar tentang Jerman pada Daddynya.
Kiyara, orang yang paling senang di sana … karena telah melihat kembali binar kehidupan di mata suaminya itu, bersyukur pada sang Maha Kuasa atas segala yang sudah terjadi, masih menyisakan banyak kebaikkan untuknya dan suami tercinta, yaitu dikelilingi orang-orang baik.
__ADS_1