Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Jahil


__ADS_3

AUTHOR POV


Kiyara menggelengkan kepalanya ketika melihat wajah kedua anak kembarnya cemong-cemong akibat coretan spidol, dan satu wajah anaknya terlihat bersih, ya jika seperti ini tanpa bertanya pun Kiyara sudah tahu pasti siapa pelakunya. Yang sudah kelihatan sedari bayi wajah jahilnya meski sering tertutupi oleh tatapan teduhnya, Nalendra Jeff Mananta, putra bungsunya saat ini.


“Tante kenapa berhenti di sini? aku mau bobok sama triplets,” ucap El yang berdiri di belakang Kiyara.


Ya, setelah lelah bermain sedari pagi, triplets akhirnya tertidur juga di kamar milik Kiyara dulu dan kini jika dia ingin menginap di rumah orang tuanya.


“Ssssttt … lihatlah wajah sepeupumu itu,” ucap Kiyara dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan keponakannya itu.


“Oooooopppps, kenaapa bisa seperti itu Tan? Tadi sewaktu El keluar kamar semuanya masih bobok, kok,” ucap El sambil menahan tawanya.


“Kerjaan siapa kalau menurut El?” tanya Kiyara.


“Itu pasti Lendra,” jawab El sambil menunjuk Lendra yang mukanya paling besih tak ada coretan satu pun di wajahnya tapi malah ada coretan di jari tangannya dan itu hanya sedikit sekali.


“Hi hi hi, menurut Tante juga seperti itu. Ya sudah, biarkan saja nanti di bersihkan kalau mereka bangun saja, El jadi mau tidur sama Triplets?” tanya Kiyara dan di jawab dengan gelengan kepala oleh El.


“Nanti muka gantengku di coret sama anak Tante juga, aku nggak mau,” jawab El sambil berlalu dari depan pintu kamar Kiyara.


“Dasar narsis, kayak Bapaknya,” gumam Kiyara saat melihat tubuh keponakannya itu masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Kiyara, memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, memotret wajah tenang anak-anaknya yang sedang tertidur pulas, dipandanginya satu per satu wajah anaknya itu dengan senyuman yang tak pernah luntur, bayi merah yang ia lahirkan 3 tahun 9 bulan lalu itu kini sudah jadi balita yang menggemaskan dan selalu membuatnya bersyukur sudah melahirkan mereka meski kadang tetap ada saja kelakuan anak-anaknya yang membuat dia mengelus dada.


“Aku kirimkan saja ini pada Mas Dave,” gumam Kiyara, lalu memilih beberapa foto yang ia ambil dan dikirimnya ke nomor suaminya itu.


Tring …


Papanya Triplets, Suamiku

__ADS_1


~Nalendra nih, pasti … nanti divideoin ya Ma, pas anak-anak bangun hpnya taruh di tempat aman, Papa mau lihat ekspresinya Narendra dan Nasyta, mau denger jeritannya anak cantik Papa juga ha ha ha, astaga anak itu memang sangat jahil dari bayi ya Ma, padahal wajahnya paling kalem, dasar Nalendra-Nalendra~


Istriku, Mamanya Triplets


~Anak kamu tuh, persis jahilnya kayak kamu … iya nanti Mama videoin~


Tapi tak berselang lama dia baru ingat jika di kamarnya ini pernah dipasangi CCTV, semenjak kejadian saat dia


masih sekolah dulu pernah dibobol maling. Meski hanya diaktifkan saat dalam keadaan kosong saja, tapi sepertinya masih bisa digunakan, lebih baik mengeceknya dulu.


“Alhamdulillah masih bisa, jadi aku nanti nggak usah susah-susah ngerekam, soalnya aku juga ngantuk hi hi hi,” gumamnya setelah mengecek CCTV kamarnya yang ternyata masih aktif.


~~


Malam Hari


“Masya Allah teriakkannya Nasyta meni kenceng banget, ya Yang … tu tuh lihat mukanya Nalendra meni adem gituh, bisa-bisanya dia nahan ketawa dan muka jahilnya dengan wajahnya yang seperti itu, astaga anak itu,” gumam Dave dengan menunjuk-nunjuk layar laptopnya, membuat Kiyara tersenyum cerah melihat suaminya bahagia seperti ini.


“Nah, mukanya Rendra baru kelihatan … astaga anak ini B aja Yang ekspresinya meski awal-awal sempet


keliatan kesel tapi dia tenang aja gituh pas denger omelannya Syta, emang ya bener kata orang-orang dulu bilang, meski satu pabrik tetap aja ada bedanya, dan ini anak kembar kita beda semuanya, padahal pas ngadon barengan, pas jadi barengan, pas keluar juga barengan, ha ha ha,” ucap Dave.


“Ngomongnya di jaga udah punya anak, jangan terlalu vulgar,” kata Kiyara.


“Apa sih Yang, orang di kamar ini aja kok lagian cuman ada kita berdua anak-anak udah pada sampek pulau kapuk dari tadi juga,” jawab Dave sambil mematikan laptopnya.


“Iya deh, Masku Sayang.”


“Oh, iya aku ada undangan nih … dari temen kamu tadi di titipin ke aku.”

__ADS_1


“Undangan dari siapa? Tumben ngundang aku, pake segala lewat kamu lagi Mas, karyawan kamu?”


“Heum, sebentar aku ambil dulu di tas kerja sekalian mau naruh laptop.”


“Nah, ini,” sambung Dave sembari menyodorkan undangan pernikahan pada Kiyara.


“Hah … Arin? Eh, tapi tunggu dulu kok ini nama mempelai laki-lakinya bukan Alfi, Mas tetangga kompleks sini yang


dulu pernah aku ceritain itu loh Mas, temen kecilku,” ucap Kitara.


Dave, mengedikkan bahunya tanda tak tahu. “Nggak tahu aku Yang, tadi dia cuman ngasih ini nitip ke kamu katanya.”


Kiyara, mengangguk-anggukkan kepalanya sembari membuka kartu undangan yang sudah ada di tangannya itu. Tapi pandangannya tertuju pada selembar kertas putih yang terlipat di tengah-tengah undangan itu.


“Apa itu Yang? Kok ada gituannya?” tanya Dave.


“Nggak tau Mas, sebentar aku buka dulu,” jawab Kiyara dan ternyata setelah kertas putih itu dibuka isinya ada sebuah tulisan tangan.


“Surat Mas, sebentar aku bacakan ehem …” ucap Kiyara lalu mulai membacakan isi surat itu dengan suara yang cukup untuk di dengar  suaminya juga.


“Dari Arin, buat Kiyara … Sorry and Thank’s … sudah mau memaafkan kesalahanku di masa lalu dan saat pertemuan kembali kita beberapa tahun yang lalu, semenjak itu perlahan Tuhan mengajarkanku banyak hal melalui perdebatan kita. Dannn … sekarang pasti kamu bertanya-tanyakan? kenapa nama mempelai laki-laki di undangan ini bukan Alfi tapi pria lain, ya aku sudah memutuskan perjodohanku dengannya, karena aku cukup tahu diri setelahnya … benar katamu Alfi terlalu baik untukku, dan aku juga baru mengetahui fakta, jika Alfi benar memiliki perasaan pada teman kalian yang rumahnya juga dekat dengan rumah kalian, tapi karena Alfi menghormati kemauan orang tuanya maka dari itu dia bertahan denganku. Sudah dari 3 tahun lalu aku menyadari ini, tapi aku baru berani memutuskan pertunanganku dengannya satu setengah tahun lalu, dan beberapa bulan yang lalu aku sudah dilamar oleh seseorang yang ta’aruf denganku, melalui perantara Alfi. Cinta memang rumit ya, ternyata … btw, thank’s banget karena ucapan pedes kamu aku jadi mikir berulang kali, apa bener aku tidak sebahagia itu dan hanya memanipulasi diri sendiri, ya dan harus aku akui kamu lagi-lagi bener. Pokoknya thank’s banget dan jangan lupa dateng, ada bocoran nih, Alfi juga bentar lagi nikah. Udah selesai, Mas,” ucap Kiyara sambil melipat kembali surat itu.


“Memangnya kamu pernah bicara pedes kapan sama Arin?” tanya Dave yang penasaran sedari tadi.


“Awalnya itu pas nggak sengaja ketemu di jalan kompleks, nggak tahu deh keberanian dari mana aku ngelawan dia, he he he, terus setiap kali ketemu di kantor kamu aku selalu pedesin dia, biar sadar gituh niatnya, eh alhamdulillah kesampean. Lucu ya Mas, orang mah beda-beda ternyata ya, kalau aku mah dikasih tahunya harus kalem, baek-baek, nah ini si Arin harus dipedesin dulu baru masuk.”


“Ya beda-bedalah Yang, satu orang dengan orang lainnya kan punya pola pikir yang berbeda pasti bedalah cara penerimaannya kalau dikasih tahu sama orang juga.”


“Udah yuk ah, mending nyicil buat adeknya triplets,” goda Dave.

__ADS_1


__ADS_2