
Waktu menunjukkan pukul 16.40 ketika Kiyara turun dari mobil yang dikemudikan Cakra tepat di depan pagar hitam yang menjulang tinggi. Badannya terasa lengket semua karena belum mandi lagi semenjak senam tadi pagi.
“Mampir dulu?” tanya Kiyara.
“Enggak, kapan-kapan aja deh … mau bebersih badan, salam buat Ayah, Bunda, dan Kak Dafa aja ya,” ucap Cakra.
“Ok, jangan lupa kabarin kalau udah nyampek rumah,” kata Kiyara dan diangguki oleh Cakra.
“Assalamu’alaikum … ,” ucap Cakra.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Kiyara sembari menatap mobil yang perlahan melaju di atas aspal hitam.
Membalikan badannya lalu membuka sedikit pagar rumahnya … memang tidak ada satpam khusus di rumahnya, karena merasa kehidupannya sama saja dengan keluarga lainnya meski seorang anak pengusaha yang patut diperhitungkan di kota Bandung, tak menjadikan Bunda dan Ayahnya memiliki banyak pegawai untuk membantu mengurus rumah. Lebih suka mengerjakan apa-apa bebarengan dengan anggota keluarga lainnya, agar membangun chemistry yang lebih kuat dan mengajarkan kedua anaknya kemandirian, karena roda kehidupan siapa yang bisa menerka.
“Sepi sekali, kemana semuanya padahalkan weekend, biasanya pada kumpul di rumah,” ucapnya ketika mendapati rumahnya tampak tertutup rapat dari depan.
“Assalamu’alaikum … Bun … Bunda?” teriak Kiyara di teras rumah, tadi sempat membuka pintu ternyata terkunci, sedangkan kemarin dia tidak terpikir untuk membawa kunci cadangan karena merasa kedua orang tuanya tidak akan pergi kemana-mana, pun kedua orang tuanya tidak membicarakan tentang rencana untuk pergi keluar.
“Pintu belakang mungkin tidak dikunci,” lirihnya, lalu beranjak pergi menuju halaman belakang melalui samping rumahnya, ternyata sama saja semuanya terkunci, jendela-jendela pun terkunci dengan rapat. Padahal dia ingin segera mandi dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Aku telepon Bunda ajalah.” Tangan gemuknya berselancar di atas gawai menekan nomor Bundanya, tapi hanya suara operator yang menyahut di seberang sana, bahkan nomor Ayah dan sang Kakak pun sama, tidak ada yang bisa dihubungi.
“Ya sudahlah duduk di teras depan saja.”
__ADS_1
10 menit berlalu, perutnya sudah keroncongan minta diisi … untung saja uang cashnya masih ada. Menunggu penjual makanan keliling yang biasanya lewat di perumahannya tapi tak kunjung ada, sedangkan perutnya sudah tak mau lagi di ajak kompromi. Saat sibuk dengan gawainya, membuka aplikasi online untuk memesan makanan tiba-tiba suara decitan pagar rumah terbuka mengalihkan atensinya. Terlihat pria jangkung, dengan celana santai selutut dan kaos basket berwarna merah menyembul dibalik pagar rumahnya. Pria bernetra biru itu, tersenyum ramah ke arahnya.
“Assalamu’alaikum, Ki …,” ucapnya, membuat Kiyara tersadar dari lamunannya.
“Wa’alaikumsalam, Kak Dave. Kakak kok bisa ada di sini?” tanya Kiyara, merasa aneh kenapa bisa ada Dave dengan tampilan semacam ini di rumahnya.
“Aku tadi nggak sengaja lihat kamu mondar-mandir dari depan ke belakang terus ke depan lagi, dari atas sana,” ucap Dave sembari menunjukan balkon rumah di seberang jalan rumah Kiyara.
“Hah, maksudnya? Kak Dave, tinggal di rumah itu … rumah yang baru selesai di bangun itu, rumahnya Kak Dave?” tanya Kiyara dengan nada terheran-heran.
“Iya, baru pindahan tadi pagi. Rencananya lusa mau selamatan rumah baru. Oh ya, tadi sewaktu aku pindahan, aku lihat Bunda, Ayah, sama Kak Dafa keluar dari rumah terus waktu Kak Dafa turun dari mobil buat nutup gerbang, mukanya kayak yang panik gituh. Mau nanya tapi nggak sempet, keburu mereka pergi. Kamu nggak bawa kunci cadangan?”
Kiyara menggeleng lemah, sekarang bukan hanya rasa laparnya yang membuatnya lemas tapi memikirkan ada apa dengan kedua orang tua dan kakaknya sampai sepanik itu dan tidak menghubunginya, terlebih semua teleponnya tidak bisa dihubungi.
Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan ajakkan kakak kelasnya sewaktu SMA dulu, lalu berjalan mengekor di belakang Dave. “Daddynya Kak Dave nggak di rumah?”.
Suara helaan napas Dave terdengar begitu jelas. “Mommy dan Daddy sudah berpisah, Daddy pergi dengan sepupu Mommy entah kemana. Aku harap nanti kamu bisa membantuku untuk menghibur Mommyku, karena beberapa waktu belakangan ini Mommy terlihat selalu sedih.”
“Sorry, aku nggak tahu Kak. Siap, nanti aku bakal hibur Mommynya Kak Dave,” ucap Kiyara lirih dengan muka bersalahnya dan berubah menjadi penuh semangat ketika menjajikan akan menghibur Mommy pria bule itu, membuat Dave tersenyum tipis melihat tingkah Kiyara yang berbeda dengan semasa SMA dulu.
“Assalamu’alaikum, Mom.” Dave masuk ke dalam rumahnya
“Wa’alaikumsalam, Nak … kenapa mau maghrib kok malah keluyuran?”
__ADS_1
“Maaf, Tante … tadi Kak Dave ke rumah Kiyara, karna lihat Kiyara ngga bisa masuk rumah,” ucap Kiyara yang kini menampakan tubuhnya di samping Dave.
“Ya … Allah, ini Kiyara yang waktu itu … yang pernah nolongin Dave, sewaktu ditusuk begal dulu ya?”
“Iya, Tan … betul, Tante apa kabar ? lama nggak ketemu makin cantik gini sekarang pakai kerudung, sama kaya Kiyara cuman Kiyara baru belajar hehehe.” Tangan gemuknya meraih jemari tangan Mommy Dave, lalu menciumnya. Dave, yang melihat itu hanya bisa tersenyum senang, ternyata waktu 3 tahun sudah banyak mengubah gadis gendut itu menjadi gadis yang sudah bisa berbasa-basi tidak pendiam seperti dulu, terlebih bisa membuat Mommynya kembali tersenyum cerah ketika bertemu dengan Kiyara.
“MasyaAllah … meni sae kie budak tehh … panggil Mommy ya, biar sama kayak bule tengil sebelah kamu itu.” Kiyara menganggukkan kepalanya dua kali, mengiyakan ucapan wanita paruh baya itu. Sedikit heran, karena apa yang dia lihat tak seperti yang diucapkan Dave, Mommynya itu terlihat biasa saja tidak terlihat kesedihan yang terpancar dari wajahnya.
“Mommy, udah nggak sedih lagi?” tanya Dave yang tak kalah heran dengan perubahan sikap sang Mommy.
“Enggak, udah ketemu obatnya gini. Udahlah aki-aki itu mah mau segimana tingkahnya biar aja, yang penting Mommy sekarang bisa kumpul sama kamu, bisa sering-sering ketemu sama Kiyara juga.” Dave, menggelengkan kepalanya tak percaya dengan tingkah absurd Mommynya itu.
“Tan … eh Mom, boleh Kiyara numpang mandi?” tanya Kiyara dengan malu-malu, membuat Dave dan Mommynya tersenyum lembut, sembari memandang Kiyara yang ternyata masih merasa sungkan dan malu ketika meminta bantuan atau meminta tolong pada orang lain selain keluarganya.
“Bolehlah, mandi di kamar mandi yang ada di kamar Mommy aja. Tapi baju gantinya, Mommy cuman punya daster aja, nggak apa-apa?” tanya wanita paruh baya tersebut.
“Terima kasih, Mom. Ndak masalah kok, yang penting bisa bebersih badan rasanya udah risih seharian baru mandi sekali, hehehe. Tapi apa dasternya Mommy, cukup di badannya Kiyara?” tanya Kiyara sembari menggaruk tengkuknya yang terlapisi kerudung itu.
Dave, menatap gantian kedua wanita yang ada dihadapannya itu. Memang terlihat perbedaan yang ada dalam postur tubuh, membuatnya khawatir Kiyara akan tersinggung jika ternyata daster sang Mommy tak cukup dibadan Kiyara.
“Pasti Muat, ukuran baju Mommy itu kan XL aslinya, tapi semenjak berhijab Mommy sering beli baju dengan size XL atau XXL kita coba dulu aja. Atau enggak, nanti bisa pinjem bajunya Dave, trening mungkin sama kaos lengan panjang sepertinya muat, badannya Dave lebar gituh,” ucap Sang Mommy memberi saran.
“Ish, ngapain bawa-bawa badan Dave segala ngomongnya Mommy teh … ini kan lebar gini tandanya badan Dave itu bidang belum lagi otot perut Dave hasil ngegym.”
__ADS_1
Kiyara dibuat salah tingkah dengan pembicaraan ibu dan anak itu. “Mom, ayo kita coba sekarang saja,” ajaknya.