Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Anak, anak, anak


__ADS_3

AUTHOR POV


Kicauan burung-burung membuat wanita yang masih mengenakan baju dinas selepas subuh itu mengerjapkan matanya perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah rambut berwarna hitam yang berantakkan, serta dahi putih yang memiliki satu tahi lalat kecil di dahinya, perlahan tangannya terangkat untuk mengusap rambut tebal itu mencurahkan semua rasa yang ada di hatinya pada lelaki yang sudah menemaninya selama 4 tahun ini dan memberinya tiga buah hati, dengan sifat dan sikap yang tentu saja berbeda-beda, meski terlahir kembar. Anak-anak dengan wajah yang sangat menggemaskan menurut Kiyara, meski sering membuatnya mumet 7 keliling menghadapinya tapi dia sangat senang dan menikmati peran sebagai Mama dengan senang hati, sebelum anak-anaknya beranjak dewasa dan sibuk dengan dunianya sendiri.


“Aw,” pekiknya kala salah satu asetnya digigit kecil oleh pria yang menelusupkan kepalanya di tempat itu.


“Mas, ih … kalau udah melek mah jangan di sana terus atuh,” ucap Kiyara pada suaminya.


“Candu, Yang … boleh sekali lagi nggak?”


“No, tadi subuh udah dapet bonus, ini udah mau jam 7 loh Yang, nanti anak-anak keburu ke sini, aku juga belum siapin makan buat mereka, Bi Omas kan lagi cuti,” jawab Kiyara sembari mencoba bangun dari posisi rebahannya, tapi gagal karena pelukkan erat suaminya itu.


“Kiss dulu,” pinta suaminya, dasarnya laki-laki kali ya mau kondisi apapun ogah rugi.


Cup … cup … cup …


Dengan cepat Kiyara langsung menghujani suaminya dengan kecupan di seluruh wajahnya, meski tahu bukan ini yang dimaksud suaminya.


“Ah, kok begitu sih Yang, yaudah kamu aku hukum,” ucap Dave dan langsung bangun dari posisi rebahannya, membawa sang istri ke dalam gendongannya dan membawanya ke dalam kamar mandi.


40 menit berlalu, Kiyara dan Dave akhirnya keluar juga dari kamar mandi setelah mendengar pintu kamarnya digedor dari luar, ya siapa lagi jika bukan tangan-tangan mungil milik anaknya yang tiga bulan lagi akan berusia 4 tahun juga.


Ceklek …


“Mama sama Papa, kenapa lama? Syta lapal tauuuu,” ucap Syta anak tengah Kiyara dan Dave.


“Maaf, Sayang tadi Mama mandi dulu … lihat nih sama Kakak, rambut Mama masih basah,” ucap Kiyara sembari sedikit membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


“Iya, deh Syta pelcaya. Ayo, Mama kita masak, kan kata Mama kemalin, hali ini kita yang masak buat towok-towok,” ucap Syta dengan nada gemasnya, membuat Kiyara ingat Lala gadis cilik yang sedang booming di platform online, nada mereka berbicara hampir sama menurut Kiyara tapi bedanya anaknya itu tidak menggerak-gerakkan tangannya juga.


“Cowok-cowok, Sayang bukan towok-towok,” ucap Dave yang baru saja ikut keluar.


“Susyah, Papa …” jawab Syta dengan cemberut dan membuat Dave mengulum senyum.


“Mana Abang dan Adikmu, girl?” tanya Dave.


“Di luang tipi, Pa, tadi di sini sebental telus Syta ditinggal sendili,” adu gadis kecil itu sembari menyingkirkan anak rambutnya yang jatuh dikeningnya dan hampir menutupi matanya.


“Kamu dimandiin dulu ayo sama Papa, habis itu nyusul Mama ke dapur, biar Mama duluan ke dapurnya,” ucap Dave saat melihat anaknya itu baru bangun tidur dan langsung ke kamarnya.


“Gendong, Papa,” pintanya sambil merentangkan tangannya membuat Kiyara menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan putrinya yang memang sangat manja mau padanya maupun pada Papanya.


Setelah melihat putrinya itu masuk ke dalam kamarnya di bawa sang suami, dia memilih untuk menemui kedua putranya itu, yang memiliki paras hampir sama jika dilihat sekilas tapi jika bertatapan langsung, maka terlihat sangat berbeda, karena selain warna bola mata yang berbeda juga karena tatapan keduanya yang juga berbeda, Rendra sang Kakak yang terlihat cuek dan terkesan dingin dengan tatapan mata yang tajam, sedangkan Lendra si bungsu memiliki tatapan mata seperti Kiyara, teduh dan menenangkan membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung bertekuk lutut, padahal kelakuannya jahil sekali. Meski begitu keduanya memiliki garis wajah yang sama begitupun dengan Syta, dan itu menurun dari Papa mereka, juga jangan lupakan kulit putih mereka.


“Abang, Adek,” panggil Kiyara.


“Emh, masih bau acem begini. Mandi dulu gih, mau dimandiin Mama?” tanya Kiyara.


“No, kita sudah bisa mandi sendili Ma, kita kan sudah besal,” ucap keduanya dengan kompak, meski jika mandi sendiri masih kurang bersih tapi Kiyara selalu memberi kepercayaan pada anak-anaknya agar bisa mandiri sejak dini dengan mengajarkan dan membiasakan hal-hal kecil seperti ini, meski dalam urusan mandi tetap saja Kiyara selalu turun tangan sendiri entah pada mandi pagi atau mandi sorenya anak-anak.


“Ya sudah sana mandi dulu, Mama mau masak sarapan dulu, kalian mau di masakkan apa?”


“Nasi goleng sayul Ma, ditambah daging ayam yang dipotong dadu,” jawab si Bungsu dan diangguki oleh Abangnya.


Setelah menjadi seorang Ibu, seperti ini lah kegiatan sehari-hari Kiyara, jika Bi Omas ada pun untuk urusan dapur Kiyara masih sering mengambil peran karena menurut Kiyara selain hati yang tenang perut yang kenyang pun akan menjadi penghantar good mood sepanjang hari. Tapi sebagai Ibu tentu saja bukan hanya hal itu yang dia perhatikan kala memilih memasakkan anak dan suaminya sendiri, tapi juga masak sendiri sama dengan sehat, karena semuanya sudah terjamin mulai dari kehigienisannya, kualitas bahan masakan, proses memasaknya dan satu yang penting lainnya adalah Kiyara tidak pernah masak dicampur msg barang sedikit pun.

__ADS_1


“Mamaaaa … Syta sudah cantikkk,” teriak anak tengahnya yang berada di gendongan suaminya itu, mereka ternyata langsung menyusul Kiyara ke dapur.


“Eumhh, iya nih harum sekali,” ucap Kiyara setelah mencium gemas pipi gembul anaknya itu.


“Mama, masak apa nih?” tanya Dave pada istrinya, ya di depan anak-anak Dave selalu membiasakan diri untuk memanggil istrinya dengan sebutan Mama, meski kadang salah sebut dengan menyebut Sayang misalnya.


“Mau masak nasi goreng pesanan kedua jagoan kita, Papa sama Kakak mau sarapan apa?” tanya Kiyara.


“Sama saja, Ma … tapi punya Syt … eh punya Kakak nanti mau Kakak hias pakai noli, boleh Ma?” tanya Syta yang dipanggil Kakak, sedangkan si sulung dipanggil Abang dan si bungsu dipanggil Adek, meski terlahir kembar tapi mereka tetap Kakak beradik bukan? Jadi Kiyara dan Dave, mengajari mereka dengan menyesuaikannya dengan urutan kelahiran mereka.


“Siap, Sayang … ini kamu potong-potong ya, kecil saja … ini Mama sudah kasih contoh,” ucap Kiyara dengan menyiapkan satu set mainan masak milik putrinya itu, meski mainan tapi tetap bisa dipakai memotong sayuran.


“Hati-hati, ya Nak, jangan sampai terluka,” ucap Kiyara.


“Siap, Mama.”


Saat Syta sudah sibuk dengan dunianya, Dave mendekat ke arah sang istri yang sedang memotong dada ayam dan memeluknya dari belakang.


“Mas, ada Syta ih … jangan begini,” bisik Kiyara tapi sama sekali tak diindahkan suaminya, yang malah sibuk mengendus lehernya dari belakang karena kini Kiyara sedang tak memakai jilbabnya bahkan daster yang digunakan hanya daster berlengan pendek dengan panjang selutut.


“Kamu pakai apa sih Yang, kok wangi banget begini?” tanya Dave malah membahas hal lain.


“Pakai apa? Kan kamu tahu sendiri aku pakai apa,” jawab Kiyara.


“Tapi kok beda sih wanginya?”


“Sama aja Mas, cuman ini aku habis mandi baru banget kan sama kamu tadi, jadi ya masih wangi atuh. Kamu nggak kerja? Kok masih pakai baju santai begini?”

__ADS_1


“Kerja tapi nanti habis duhur,” jawab Dave.


“Kok siang?”


__ADS_2